BREAKING
Tampilkan postingan dengan label Keushuluddinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keushuluddinan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Mei 2017

Apakah Nasib dan Kebetulan itu Takdir?

Oleh; Tafrichul Fuady Absa
@fuadyabsa1996
Dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali kita mendengar kata “Takdir”. Dalam Islam, takdir menjadi bagian dari kepercayaan yang termaktub dalam rukun iman yang ke enam. Percaya kepada qada dan qadar. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan takdir? apakah kebetulan itu takdir? apakah takdir itu bisa diubah atau tidak?
Takdir, dalam al-Quran digunakan untuk menjelaskan ketetapan Allah yang  berkaitan dengan Alam semesta. Hal ini Seperti disebutkan  firman Allah yang berbunyi “Dan dijadikan olehnya matahari dan rembulan dengan perhitungan yang tepat itulah taqdir oleh yang maha tinggi dan maha tau” (Q.S. al-an’am;96).
Dari penjelasan ayat diatas sudah sangat menjelaskan bahwa takdir itu datangnya dari Allah, dan demkian dari itu sudah diatur oleh-Nya. Maka dari itu, keteraturan alam semesta dan segala isinya tidak bisa lepas dari adanya Allah swt yang mengatur seisi alam semesta ini. Lantas bagaimana dengan perbuatan manusia? Apakah juga diatur oleh Allah?
Ada beberapa pendapat oleh para Mutakallimin atau kaum Theolog mengenai hal ini, pertama adalah kaum jabariyah yang beranggapan bahwa apapun yang kita lakukan hari ini, sudah ditentukan oleh Allah. Kita miskin, kita makan, kita mati, semuanya sudah diatur dan ditentukan oleh Allah. Manusia tak lain adalah wayang, dan Allah adalah dalangnya. Diibaratkan juga Allah sebagai penulis novel dari cerita tentang dunia ini. Yang mencakup alam semesta dan isinya. Juga sejarah umat manusia sudah ditentukan oleh Allah dari awal sampai akhir. Itulah anggapan dari kaum Jabariyah. Berbeda dengan Jabariyah, Mutakallimin yang lain yaitu faham Qadariyah, berpendapat bahwa amal perbuatan dan perilaku manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri. Tidak ada sedikitpun campur tangan Tuhan. Manusia bebas menentukan dirinya sendiri dan kehidupanya ditentukan oleh dirinya sendiri.
Perbedaan kedua aliran theologi diatas, di damaikan oleh faham Asy’ariah yang beranggapan bahwa segala sesuatu nya sudah ditentukan oleh Allah. Tetapi manusia mempunyai daya dan upaya untuk memilih. Allah dengan takdirnya sudah menentukan. Dan tugas manusia adalah memilih. ada mati ada hidup, ada baik ada buruk, ada salah ada benar. Tugas manusia adalah memilih diantara itu. Disitulah letak daya manusia.
Hal ini diperjelas lagi oleh Nur Cholish Madjid (Cak Nur) yang beranggapan bahwa Taqdir adalah ketetapan allah terhadap alam semesta atau bahasa sederhananya Hukum alam. Misalanya, api itu panas, es itu dingin, benda kalau dilempar keatas akan jatuh kebawah, dan hukum alam yang lain. Masalah amal perbuatan manusia, cak nur menjelaskan bahwa manusia memiliki ikhtiar atau usaha terhadap amal dan perbuatanya. Manusia juga mampu memanipulasi takdir dengan ilmu pengetahuanya. Misalnya, manusia pada dasarnya tidak bisa terbang, tetapi dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu memanipulasinya.
Jadi, takdir dalam artian generiknya tidak sama dengan nasib. Kita miskin bukan karena takdir, kita bodoh bukan karena takdir. karena kita mempunyai daya ikhtiar untuk mewujudkan agar kita tidak bodoh, atau agar kita tidak miskin. Singkatnya, takdir adalah hukum-hukum alam yang sudah ada sejak dari penciptaan. Takdir buka nasib, pun halnya dengan kebetulan, itu juga bukan takdir.

*Penulis di Takdir (kan) untuk Menulis ini

Sabtu, 25 Oktober 2014

Tidak Ada Kekerasan Dalam Agama dan Tidak Ada Agama Dalam Kekerasan


Oleh: Mei Marlina
Pernyataan yg mengatakan bahwa tidak ada kekerasan dalam agama dan tidak ada agama dalam kekerasan sepertinya tidak relevan ketika kita melihat fenomena yg ada di Indonesia. Kekerasan yg banyak terjadi justru dipelopori oleh kelompok" organisasi masyarakat yg mengatasnamakan agama, yg pada nyatanya bertolak belakang dengan agama. Tindakan kekerasan dan penganiayaan yg dilakukan dengan mengatasnamakan agama akan menjadi hal yg sangat berbahaya jika terus dibiarkan.

Dalam sosiologi agama, masyarakat dan agama merupakan dua hal yg saling pengaruh mempengaruhi. Namun sangat disesali jika agama yg diharapkan menjadi salah satu cara perdamaian dan sebagai perekat sosial justru malah dijadikan alat untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain yg tidak sepaham agama dan kepercayaannya. Hal tersebut terjadi karena ketidaksinkronan antara fakta sosial dan agama.

Audifax dlm bukunya, "Semiotika Tuhan" mengatakan bahwa pesan yg berasal dari Tuhan adalah pesan kehidupan dan bukan kematian atau perang.
Apabila ada sejarah yg membahas tentang peperangan, yg harus kita garisbawahi bahwa kejadian tersebut harus kita fahami secara kontekstual bukan secara tekstual.

Kesalahan besar yg sering dialami masyarakat masa kini yaitu memahami kitab suci hanya secara tekstual, sehingga dimana kehidupan yg ada dimasa sekarang disamakan dengan kehidupan yg ada dimasa lalu. Pemahaman" yg salah seperti itulah yg membuat kita seolah" hidup dalam masa lalu, sehingga agama menjadi gagal dalam mewujudkan kedamaian dan ketentraman terhadap sesama.

Sungguh sangat ironis ketika pengetahuan tentang agama tidak di imbangi dengan pemahaman diri dan pencerahan akal budi. Tindakan ini akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat, masyarakat tidak akan merasakan kehidupan yg damai, melainkan selalu waswas dan tidak tenang.

Kita tidak boleh diam saja melihat fenomena buruk ini, dan yg terlebih para aparat penengak hukum seharusnya bertindak tegas dalam menangani anarkisme yg mengatasnamakan agama, karna hal tersebut merupakan tindakan yg bersifat inkonstitusional.

Kamis, 19 Juni 2014

Orang Neo-Pojokan

Oleh: Ikhsan Yaqub
“Kita telah gagal, bahkan gagal sebelum mengetahui apa itu keberhasilan!”. Kira-kira seperti itulah suara-suara parau yang ku dengar dari mulut-mulut asam orang pojokan. Tatapan-tatapan kosong “khas” orang pojokan di siang hari (entah apa yang mereka pikirkan; kelaparan atau mungkin kasmaran) seolah menjadi pemanis tumpahan kopi di atas “lantai pengetahuan” itu.
Menjelang sore, pojokan pun sudah mulai ramai oleh orang-orang penghamba absen, dihiasi ceng-cengan yang juga absenistik. Sesekali topik dialihkan kepada pilpres, cinta yang tak sampai, piala dunia, puasa, RAK (Ssst..), KKN, lebaran, dan aforisme-aforisme pojokan lainnya. Indah sekali, mengiringi keindahan mendung di akhir juni Ushuluddin.
Namun dibalik keindahannya itu, apa sebenarnya yang mereka tunggu? Hey, tunggu dulu! Lantas bagaimana aku? Apa yang aku tunggu bersama mereka disini? Bersama orang-orang “neo-pojokan” ini? Orang-orang yang kehilangan induknya, atau telat menjadi induk, atau mungkin sudah menemukan induk baru? entahlah.
Aku dengar mereka menunggu kesepakatan, kesepakatan apa? Lantas apakah aku bagian dari kesepakatan itu, sehingga aku masih duduk disini?; menunggu. Padahal anomali-ku atas isu-isu ini sudah memuncak, sementara orang-orang lewat men-generalisirku bahwa aku bersama mereka; menunggu.
Aku juga dengar omongan “bubarkan saja pojokan”, dengan dalih tak ada kajian? Apanya yang akan dibubarkan? Lantas apakah aku juga bagian dari kebubaran itu? Menurutku tak usah dibubarkan pun realitanya memang sudah bubar! Neo-Pojokan,  sejatinya memang tak ada lagi kumpulan yang bercerita tentang kebenaran, tak ada lagi permainan menebak kemauan Tuhan. Tak ada lagi, sosok?
Jawablah apa yang tidak pernah aku pertanyakan.

Kamis, 12 Juli 2012

Ushuluddin & Ketidakwarasan

            Beberapa saat yang lalu telah diluncurkan tulisan mengenai Ushuluddin sebagai tanah yang dijanjikan, sebagai yang tertua diantara fakultas samawi. Dari reka historis lahirnya fakultas dakwah sebagai anak tertua dan fisip sebagai anak yang paling bungsu jelas memperlihatkan eksistensi Ushuluddin sebagai fakultas yang mampu hadir sebagai pioneer bagi lahirnya dua fakultas besar yang memiliki cabang-cabang pemikirannya sendiri.
Ushuluddin sebagai jantung dari UIN syarif hidayatullah, ungkapan seperti itu sudah sering kita dengar dari orang-orang yang mengagumi pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh nasional yang berasal dari UIN syarif. Apalah jadinya UIN Jakarta jika seandainya Ushuluddin tidak penah ada. Disamping dilegitimasi sebagai sebuah fakultas, Ushuluddin senantiasa menjadi sebuah inspirasi dan the spirit of human being  bagi keberadaan sesuatu yang lainnya, termasuk Dakwah dan Fisip.[1]
Ushuluddin sudah seharusnya merasa memiliki diri mereka sendiri, memiliki fakultas mereka sendiri, nadi Ushuluddin masihlah berdetak pada setiap fakultas yang dilahirkannya, dan anak-anak itu tidaklah dapat lepas dari ke-Ushuluddinan yang melekat pada diri mereka. Sudah seharusnya setiap anak menghormati orang yang sudah melahirkannya. Tetapi tidak banyak diantara anak-anak itu tidak menyadari hal normatif seperti itu, mereka seolah tidak menyadari bahwa eksistensi mereka adalah ‘berkat’ dari Ushuluddin, kebaikan Ushuluddin, luasnya Ushuluddin.
Sungguh memalukan memang hal normatif seperti itu tidak mereka sadari, bahkan dari fakta yang penulis temukan kebanyakan diantara anak-anak itu justru berfikiran yang kontradiktif dari fakta yang ada, ‘kenapa sih Ushuluddin itu nebeng ama dakwah’, pernyataan bodoh dan tolol seperti itu haruslah dikoreksi ulang, mereka tidak menyadari dan tidak mempelajari sejarah sebagai sesuatu yang dapat menyadarkan, mereka hanya mencoba meraba-raba dengan mata yang tertutup, dan hasilnya pun dapat ditebak, kekeliruan dalam pengambilan kesimpulan.
Banyak hal yang berkaitan dengan fenomena-fenomena yang terjadi itu, hal ini dengan jelas menunjukkan supremasi Ushuluddin sebagai fakultas ‘samawi’ sedang dalam fase kemunduran, orang-orangnya tidak lagi berjiwa Ushuluddin, Ushuluddin tidak lagi menyadari menyadari diri mereka sendiri, mereka hanya menyadari diri mereka sebagai fakultas, tidak lagi sebagai pemilik dari tanah yang dijanjikan.




Sabtu, 30 Juni 2012

Dilema Ushuluddin Menuju "The Dark Age"

Dilema Ushuluddin Menuju "The Dark Age"

@Abdullah

            Dark Age atau zaman kegelapan, merupakan era di mana benua eropa saat itu dilingkupi oleh berbagai kegelapan,disaat keruntuhan kerajaan romawi, disaat kaum barbar meraja dan para intelektual mengalami kemundurannya. Disaat kekuasaan tertinggi dimiliki oleh bapak-bapak dari gereja serta hak-hak kemanusiaan tidak diakui. Manusia mengalami kemundurannya dari segi moral, ilmu pengetahuan, dan agama yang dilegtimasi oleh para bapak (penguasa gereja). Era ini berlangsung (476–800).
            Manusia sebagai makhluk yang unik yang memiliki dirinya dan bisa melakukan terobosan tidak diakui di zaman ini, pola kehidupan masyarakat telah diatur sedemikian rupa oleh bapak-bapak gereja. Bapak gereja yang diibaratkan dengan tuhan yang berkuasa dalam sebuah wilayah kekuasaan  .
            Hal ini sepertinya cocok untuk disandingkan dengan Ushuluddin saat ini, Ushuluddin yang pernah memasuki masa emasnya, di mana Ushuluddin melahirkan tokoh-tokoh penuh inspirasi dan gebrakan baru, orang-orang yang memiliki dirinya sendiri dan yang mempengaruhi peradaban Indonesia. Orang yang mewarnai lingkup pemikiran-pemikiran besar dalam konteks keIndonesiaan yang menggebrak para konservatif kepada sebuah kesatuan Indonesia.
            Orang-orang itu adalah tokoh pemikir pembaharu Islam kaliber dunia, pemikir pembaharu dan pemersatu Indonesia, yang lahir dari rahim Ushuluddin, lahir dari fakultas yang dahulu menjadikan manusia sebagai manusia yang unik, yang penuh dengan inspirasi dan semangat pembaharuan atas berbagai pemikiran yang kolot. Orang-orang suci yang memiliki niat tulus untuk perubahan yang diinginkan oleh bangsa Indonesia, bangsa yang super multi.
            Era pembaharuan oleh orang-orang suci itu baru saja berlalu, Ushuluddin mulai memasuki zaman yang kelabu, zaman yang mulai dikerubungi oleh kegelapn, di mana “Bapakk” fakultas berbicara maka ia diikuti layaknya tuhan, layaknya citra tuhan yang hadir di bumi Ushuluddin, segala yang berasal dari Bapak Ushuluddin merupakan sesuatu yang suci, yang harus diikuti oleh segenap rakyat Ushuluddin. Ia adalah dewa yang memiliki jiwa segenap rakyat Ushuluddin, dewa yang ditasbihkan sebagai simbol kegelapan.
            Kekuasaan Bapak Ushuluddin bagaikan sesuatu yang mutlak, mereka yang kafir dari Bapak Ushuluddin akan merasakan hidup bagaikan berada di neraka, berada di tempat yang tidak pernah mereka inginkan sebelumnya, seakan mereka berharap tidak pernah untuk lahir di bumi Ushuluddin, di fakultas yang dijanjikan.
            Era keemasan yang pernah dicapai Ushuluddin mulai menunjukkan warna kepudarannya, hari-hari Ushuluddin tidak lagi berwarna seperti era yang baru saja berlalu, ia tidak lagi dipenuhi oleh calon orang-orang suci yang akan mencetak peradaban baru, tidak lagi diisi oleh orang-orang yang memiliki dirinya sendiri, melainkan hanya diisi oleh orang-orang yang menginginkan stempel, nilai, dan penghargaan dari para Bapak-bapak fakultas. Mereka telah kehilangan moral yang sudah ada diciptakan oleh orang-orang suci terdahulu.
Akan kah era itu benar-benar hilang dan berganti kepada zaman kegelapan? Mari kita saksikan bersama...

Senin, 25 Juni 2012

Tiga Fakultas Samawi: Ushuluddin, Dakwah dan Fisip


Tiga Fakultas Samawi: Ushuluddin, Dakwah dan Fisip
Sekilas Tiga Agama Samawi
Tentunya dalam sejarah agama semitik (samawi) kita mengenal ada tiga agama yang merupakan turunan dari millah  Nabi Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Agama Yahudi merupakan kaka pertama yang dibawakan oleh Nabi Musa As bagi umat bani Israel. Lantas kemudian disusul oleh kaka ke dua yaitu agama Nasrani oleh Nabi Isa di Palestina dan Islam sebagai Agama terakhir yang diproklamirkan oleh Nabi Muhammad Saw. Ketiga agama tersebut merupakan agama yang pada dasarnya mengemban sebuah misi ketuhanan yang bersifat monoistik (tauhid).
Meskipun ketiganya bersaudara, namun sejarah mencatat bahwa dalam perjalanannya tidak pernah menemukan suatu titik persamaan untuk mencapai suatu tujuan perdamaian. Ketiganya saling memperkuat barisannya masing-masing dan menyerang jika salah satu diantara mereka ada yang terusik dalam keberadaannya. Klaim atas kebenaran pun sangat gencar dikemukakan. Dan mereka bersikukuh menjari argumentasi teologis yang rasional untuk memperkuat kepercayaan yang mereka amini.
Ada satu tempat suci yang yang merupakan tempat bersejarah bagi ketiga agama tersebut, yaitu Baitul Maqdis di Palestina. Konon katanya, di sana terdapat sebuah bangunan bersejarah bagi masing-masing agama tersebut. Yang di suatu masa sempat terjadi suatu peristiwa berdarah untuk merebut daerah tersebut.
Ushuluddin : Fakultas yang Dijanjikan
            Dari sekilas cerita tiga agama di atas, sepertinya ada unsure kesamaan dalam kejadiannya atas fenomena yang terjadi di Ushuluddin. Pada awal kejadiannya, Ushuluddin merupakan sebuah Fakultas independent yang dimiliki oleh Universitas Islam Negeri Jakarta. Saat berdiri pada tahun 1963, Fakultas Ushuluddin memiliki dua jurusan: Jurusan Dakwah dan Jurusan Perbandingan Agama. Sejalan dengan visi untuk menjadikan Fakultas Ushuluddin sebagai pusat kajian pemikiran Islam, kemudian dibuka Jurusan Aqidah-Filsafat pada tahun 1982. Pada tahun 1989 berdiri pula Jurusan Tafsir-Hadits, sementara pada saat yang sama Jurusan Dakwah memisahkan diri menjadi fakultas tersendiri.
Lambat laun Dakwa menjadi sebuah Fakultas yang mandiri meski gedung dan tanahnya masih bergandengan (nebeng) dengan Ushuluddin. Sebelum berdiri sebagai fakultas, Fakultas Dakwah dan Komunikasi mulanya adalah sebuah jurusan di Fakultas Ushuluddin. Setelah menginduk selama kurang lebih 25 tahun, maka pada tahun 1989 Jurusan Dakwah memisahkan diri dan mandiri sebagai sebuah fakultas. Pada saat berdiri, Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki dua jurusan: Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam.
Pada tahun akademik 1999/2000 dibuka secara bersamaan Program Studi Pemikiran Politik Islam dan Program Studi Sosiologi Agama yang dikemudian hari jurusan ini mengituti millah para pendahulunya untuk mendirikan suatu fakultas secara independent, yang sekarang kita kenal dengan sebutan fakultas Fisip.
            Jadi, sangatlah jelas dari sumber sejarah menjelaskan bahwa Ushuluddin merupakan sebuah fakultas yang memberikan semangat bagi berdirinya fakultas-fakultas yang lain. Dari Ushuluddin munculah Dakwah dan Fisip. Ushuluddin selalu memberikan inspirasi bagi sesuatu di dalam dan di luannya. Potensi yang dimiliki Ushuluddin jika diaktualisasikan tentunya tidak akan pernah tergambarkan efektasinya. Yang pastinya Ushuluddin telah memberikan suatu bukti bahwa ia merupakan sebuah Fakultas yang dijanjikan.
            Apalah jadinya UIN Jakarta jika seandainya Ushuluddin tidak penah ada. Disamping dilegitimasi sebagai sebuah fakultas, Ushuluddin senantiasa menjadi sebuah inspirasi dan the spirite of human being  bagi keberadaan sesuatu yang lainnya, termasuk Dakwah dan Fisip.

Yang Penting Ushuluddin !!!


Rabu, 20 Juni 2012

MENUJU BUDAYA POP: SEBUAH ANALISIS ATAS TRANSFORMASI KEBUDAYAAN USHULUDDIN


MENUJU BUDAYA POP:
SEBUAH ANALISIS ATAS TRANSFORMASI KEBUDAYAAN USHULUDDIN


“Menjadikan Fakultas Ushuluddin sebagai salah satu fakultas yang terkemuka Dalam pengembangan dan pengintegrasian ilmu-ilmu dasar dan sosial yang berdimensi
 etis, keindonesiaan dan kemanusiaan”. (Visi Ushuluddin).
“Ushuluddin merupakan suatu konsep dasar pemahaman tentang : spirit of human being”.
(Pagar Dewo, Yapentush).

Ushuluddin: Sebuah Sketsa
Klaim bahwasanya Ushuluddin merupakan “jantung” UIN Syarid Hidayatullah Jakarta, kiranya itu merupakan suatu penilaian yang tidak berlebihan jikalau kita melihatnya secara objektif dan proposional. Hal demikian tentunya menjadi sebuah tanggung jawab dan beban moral yang sangat berat bagi segenap civitas akademik Ushuluddin, karena sudah selayaknya Ushuluddin wajib untuk memposisikan diri sebagai sesuatu — dalam pengertian sebuah Fakultas -- yang mampu untuk merealisasikan konsep “jantung” ke dunia nyata.
Sebelum IAIN berganti nama ke UIN, Ushuluddin dipandang sebagai fakultas yang bisa dikatakan wah. Bukan dalam artian mahasiswanya banyak secara kuantitatif akan tetapi dalam perwujudannya, Ushuluddin menjelma dalam sesuatu yang berlandaskan atas argumentatsi kesadaran dan kualitas individu dan sosial kemahasiswaan. Dan konon katanya menurut cerita para pendahuluya (senior), Ushuluddin dipandang sebagai suatu pusat peradaban dan pusat wacana ilmu pengetahuan khususnya ilmu keagamaan, yang dikemudian hari para tokoh-tokoh besar bermunculan dari fakultas ini.
Entah harus dengan tolak ukur apa, sehingga Ushuluddin dulunya dikalim sebagai pusat peradaban kampus. Apakah dari realitas mahasiswanya, birokratnya, dosen pengajarnya, output pemikirannya, wilayah ideologinya ataukah para tokoh besar yang terdapat didalamnya. Hal demikian sangatlah penting untuk diketahui, jika kita ingin mengetahui pola yang terjadi di masa lalu. Sehingga untuk melakukan suatu langkah kongkrit ke depannya, Ushuluddin tidak kehilangan akar budaya yang telah melekat sebagai sebuah ciri khas keberadaannya (eksistensi).
Para pemikir biasanya lebih mendahulukan isi (esensi) ketimbang eksistensi. Keduanya memang saling terhubung dan berkaitan. Akan tetapi permasalahannya adalah apa yang menentukan apa. Apakan esensi yang menentukan keberadaan sesuatu, ataukah eksistesi yang menentukan inti dari sesuatu itu?
 Seperti halnya Rane Descartes sebagai tokoh filosof  Francis yang beraliran rasionalis, ia berpendapat bahwa manusia harus mengetahui dulu hakikat dirinya, lalu setelah mengetahui hakikat dirinya, manusia akan menyadari keberadaannya. Hal itu ia ungkapkan dengan istilah “cogito ergo sum” yang dalam bahasa Indonesia diartikan “aku berfikir maka aku ada”.
Ushuludin: dalam Realitas Kekinian dan Budaya Pop
Mengutip perkataannya Muhammad `Abduh bahwa “al-Islamu mahzubun bi al-muslimi” yang artinya Islam terhalang oleh muslim. Dan mungkin kiranya ada hikmah bagi segenap rakyat Ushuluddin di balik kalimat tersebut. Menjawab permasalahan modernisme dan sekularisme pendidikan menjadi tantangan tersendiri yang sedang dihadapi. Disamping tanggung jawab dan beban moral yang sedang di tanggung karena adanya “dosa turunan” bahwa Ushuluddin telah berani dijuluki sebagai pusat peradaban dan jantung kehidupan kampus.
Dalam keadaan fenomena objektif, dengan pendekatan atas pengalaman (empiris a post-teriori) sebagai rakyat Ushuluddin, ada sebuah aroma yang berbeda dan terjadi pergeseran orentasi. Fenomena sosial ke-ushuluddin-an seakan menjadi kaku dan berbasis formalistik. Kebebasan berekspresi dibatasi baik dalam wacana akademis pengetahuan maupun dalam wilayah penampilan (perform). Tidak nampak lagi adanya kebebasan akademis dan kebebasan berekspresi.
Mahasiswa yang selayaknya menjadi komponen dasar yang sangat penting dalam dunia kampus sebagai subjek pelaku, beralih fungsi dan orientasi menjadi sebuah objek belaka. Mahasiswa seolah dijadikan sebagai bahan komoditas dalam kepentingan tertentu, sehingga kualitas pemikiran yang menjadi esensinya terabaikan.
Selanjutnya, terjadi sebuah transformasi budaya ideologis ke ranah budaya pop. Budaya Pop dapat digambarkan sebagai produk dari industrialisasi dan komersialisasi masyarakat. Budaya pop merupakan sintesa dari budaya ideologis. Budaya ideologis yang dulunya menjadi sebuah basis dasar untu menopang nilai-nilai yang tekandung dalam setiap tindakan individu dan sosial kini telah berpindak ke budaya pop yang bersifat sementara dan rapuh.
Dalam tataran ideologis, mahasiswa dituntut supaya bertindak kritis dan memiliki kesadaran yang tinggi. mahasiswa Ushuluddin telah berani secara radikal mengembangkan suatu konsep Ushuluddin kepada tingkat yang lebih mulia yaitu Ushuluddin sebagai “spirit of human being”. Basis ideologis mempu memperikan keberanian dan kepercaya-dirian yang tinggi bagi siapapun yang mengaku dirinya sebagai warga Ushuluddin.  Budaya ideologis pada intinya menjadi sebuah landasan dasar dari setiap tindakan individu yang berepek ke tindakan sosial.
Jika seandainya budaya pop telah menjalar dan mengakar, maka budaya ideologis sebagai produk lokal yang diproduksi dengan berlandaskan kesadaran nilai, akan tercerabut dari akar budayanya. Seperti halnya budaya keroncong diganti dengan budaya rock dan pop melayu, singkong dengan pizza hut, kiyai dengan ustadz artis dan lain sebagainya. Pola pencitraan sebagai suatu tindakan nyata yang dicirikan oleh budaya pop menjadi suatu tujuan untuk mencapai kepentingan domestik.
Budaya pop juga ditandai dengan selebrasi, kemeriahan, banalitas, massifitas dan tolak ukur pada sesuatu yang bersifat formal-materialistis. Dan jika budaya pop ini kita biarkan begitu saja berkembang, maka kemungkinannya adalah apakan keadaan yang menentukan kesadaran ataukah sebaliknya. Dan  mungkin saja dua atau lima tahun ke depan label “jantung” tidak lagi layak disandingkan dengan Ushuluddin.   
Kesadaran akan keadaan yang sekarang ini, menimbulkan sebuah pertanyaan besar, yaitu apakan Ushuluddin mampu untuk menjawab tantangan dan mampu untuk merealisasikan sebuah visi mengembangkan dan mengintegrasikan ilmu-ilmu dasar dan sosial yang berdimensi etis, keindonesiaan dan kemanusiaan?
Wallahu a`lam.
Yang Penting Ushuluddin. . .!!!

Selasa, 27 Desember 2011

Dialog Keushuluddinan Piush


oleh Pagar Dewo pada 19 Desember 2011 pukul 19:16

Kamis (15/12) lalu, Pojok Inspirasi Ushuluddin (Piush) menggelar diskusi menyoal Ushuluddin dan Kebudayaan. Saya mewakili Yapentush, sebuah paguyupan intelektual di Indonesia, hadir sebagai salah-satu dari empat pembicara lainnya, Iman Firmansyah dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta, Yusuf Albana Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), dan M. Yan Anwar dari Fisip UIN Jakarta.
            Diskusi berlangsung tanpa moderator. Panitia langsung menyerahkan mikrofon kepada saya jelang mulainya acara. Sebab itu agak gagap pula saya, bingung harus mulai darimana.
            Satu hal yang masih selalu muncul pada tiap pembahasan kultur ushuluddin adalah soal gaya hidup mahasiswanya. Hingga awal angkat 2007/2008, mahasiswa ushuluddin masih terkenal dengan style yang nyleneh. Rambut gondrong, sandal jepit dan kaos oblong, yang mana hal itu bertentangan dengan kode etik mahasasiswa UIN Jakarta.
            Sekilas hal macam itu dinilai hanya seperti sensasi kosong belaka. Namun perlu dicatat, apa yang dilakukan para mahasiswa ushuluddin tersebut merupakan sentakan atau teror guna menyadarkan, hendaklah kita kuliah atau belajar itu lebih mengandalkan otak bukan pakaian. Don’t judge book from the cover.
            Rambut gondrong dan sandal juga bisa diartikan sebagai media pemberontakan atas kungkungan aturan-aturan yang kaku dan kurang manusiawi. Agar manusia sadar akan dirinya sebagai manusia, bukan mesin. Bahwa masing-masing kita sebagai manusia itu berbeda, tak bisa diseragamkan seperti sekelompok hewan atau tumbuh-tumbuhan tertentu.
            Tak berhenti di pakaian, seloroh dan ucapan-ucapan yang terlontar dari mahasiswa ushuluddin kerap kontroversial. Misalnya ‘Tuhan telah mati’ sebagaimana dalam pemikiran Nietzsche, anjing-Hu akbar, dan lain sebagainya yang kerap membuat telinga serta perasaan kelompok tertentu merah dibuatnya.
            Sekali lagi itu merupakan teror yang membuat kita berpikir dan perlu dikaji lebih dalam. Artinya tak semestinya kita berhenti di situ, pada makna denotatif kalimat tersebut.
            Bermacam hal dan persoalan yang terkait dengan ushuluddin pun terkuak. Mulai dari masa depan kehidupan mahasiswa dan orang yang menggelutinya dan lain-lain. Perlu dicatat, ushuluddin yang dimaksud di sini bukan sekadar sebagai institusi atau salah-satu fakultas yang ada di UIN Jakarta. Lebih dari itu, ushuluddin adalah budaya, ruh kehidupan umat manusia, atau spirit of human being. Semangat yang diusung ushuluddin adalah semangat kesadaran dan perubahan.
Manusia bukanlah apa yang tampak dari raga, melainkan dibaliknya, yang membuat raga itu bergerak, berfikir dan bertindak. Itulah ushuluddin. Ushuluddin adalah kekuatan tak kasat mata, yang bisa diterima oleh manusia yang menggunakan akal dan terbuka hatinya. Sehingga untuk menjadi manusia unggul tak harus berstatus Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, melainkan cukup dengan mengintegrasi nilai dan semangat ushuluddin dalam diri. Tokoh-tokoh seperti Nabi Muhammad, Soekarno, Che Guefara, Galileo, Einsten, Newton dan sebagainya adalah contoh dari manusia yang memiliki jiwa Ushuluddin.

http://yapentush.blogspot.com

Senin, 07 November 2011

Nyamuk Menjawab*

oleh Pagar Dewo pada 14 September 2011 jam 15:47


Berhentilah berumpat bangsat, teman sekamarku. Mereka adalah nyamuk. Bukan anjing atau babi. Aku berani bertaruh, kau tak mungkin bisa mengasuhnya. Sejarah telah menernakkan mereka menjadi lestari. Terhanyut banjir di musim hujan dan berubah banyak di musim kemarau, akibat aliran sungai yang menggenang tenang karena tersumbat sampah.
Umpatanmu sia-sia, karena siklus terus berputar. Walau di kemudian hari, misalnya, kau sukses membangun pabrik racun, mereka tak mungkin punah. Lagipula sekarang, apa yang bisa kita lakukan? Obat nyamuk bakar tak sanggup menyembuhkan kerakusan mereka akan darah. Racun semprot, cuma malah mengotori udara. Mengusir nyamuk beberapa menit saja. Mustahil pula kau hiasi kamar compang-camping itu dengan AC. Sekali lagi itu mustahil.
Tinggal satu solusi terakhir, lotion anti nyamuk. Dan kau tak sudi memakainya. Bukankah kau orang tradisional yang berpikir modern? Otakmu telah terganyang doktrin para medis. Kau sangat mengimani betapa obat nyamuk bakar dan semprot itu akan merusak kesehatan napasmu. Bagimu lotion anti nyamuk juga tak kalah menyeramkan ketimbang serbuan ribuan nyamuk yang sangat meresahkan.
Demikian, kondisimu terjepit. Kau tak punya pilihan. Karena itu mungkin kau mengeluh dan mengumpat. Ya, mengumpatlah semaumu. Atau marah. Itu hakmu. Tapi ingat, nyamuk tak paham bahasamu.
Lalu aku bersemedi. Menutup sementara semua potensi panca indera. Mencoba memahami bagaimana nyamuk bicara.
Percaya atau tidak, aku sukses berdialog dengan mereka. Dengan para nyamuk itu. Mau tahu hasil pembicaraan kami? Baiklah, akan coba aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia. Berikut petikan dialog singkat tersebut.

Kenapa kalian datang dan terus mengusik kami? 
Kami tak berniat mengusik. Kami hanya mencari makan. Mencari sehisap darah untuk bertahan hidup.
Tahukah kalian tentang Surat Terbuka Untuk Nyamuk yang ditulis teman sekamarku?
Ya, aku sudah baca. Surat itu sempat jadi perbincangan hangat di kalangan tokoh nyamuk selama beberapa generasi. Kau tahu, rata-rata umur nyamuk hanya sepekan. Sudah lima hari lima malam aku numpang tinggal di sela-sela tanggalan bajumu
Bagaimana kau menanggapi surat itu?
Dulu waktu masih muda, jiwaku sangat revolusioner. Aku tersinggung dan marah. Aku provokasi teman-teman untuk mengadakan serangan lebih dahsyat ke kamar ini. Tapi sekarang aku makin bijak. Umpatan kawanmu itu wajar. Kuakui, kami layaknya Amerika menginfasi Timur Tengah demi minyak. Manusia adalah ladang darah dan sumber kehidupan kami.
Hmm, kalian telah mendzalimi kami.
Oh, benarkah?
Ya, sangat.
Kalau begitu kami, segenap dan seganjil nyamuk sedunia mohon maaf atas ketidaknyaman Anda semua. Dan maaf sekali lagi karena kami tak bisa menghentikan aksi ini.
Kalian sadar perbuatan itu merugikan pihak lain. Tapi kenapa kalian terus melakukannya seperti tanpa perasaan?
Ah, dasar kau manusia, maunya menang sendiri. Ini demi keberlangsungan hidup kami. Kalau kau tanya kenapa, kami pun tak tahu. Aku, selaku nyamuk juga yakin bahwa kau dan seluruh umat manusia tak tahu pasti kenapa terus mencari makan dan bertahan hidup. Padahal kalau seluruh dunia itu berhenti bekerja, lalu kalian mati bersama, semua akan baik-baik saja.
Baiklah kalau begitu. Tapi setidaknya, bisakah aku minta kalian untuk tidak datang ke kamarku? Tidak mencari makan dengan menggigit dan mengusik di kamar kami?
Berikan alasan yang kuat agar kami berhenti bekerja menghisap darah di kamar Anda. Bukankah Anda dan teman sekamar Anda sama-sama manusia, yang menjadi kilang darah, sumber kehidupan kami?

Aku berpikir sejenak, mencari alasan tepat agar mereka tak menyerbu kamarku lagi. Saat itulah obrolan terputus. Hingga tulisan ini dibuat, nyamuk-nyamuk masih riang terbang, naik, turun dan hinggap menggigit kulitku. Bisakah saudara-saudara pembaca memberiku jawaban itu, plys?

Catatan ini merupakan jawaban atas Surat Terbuka Untuk Nyamuk-nya Abdullah Alawi di http://ceritaremeh.blogspot.com/2011/08/surat-terbuka-untuk-nyamuk.html

Ngoceh Pagi-Pagi

oleh Pagar Dewo pada 29 Oktober 2011 jam 7:16



Sebentar, sebentar.  Banyak hal yang mestinya jadi pemenang. Tapi nyatanya semua sibuk cari uang. Cari kebahagiaan. Berkelompok dan kemudian mencari lawan. Perdamaian, kemajuan, dan kemakmuran hanya bahan diskusi. Seperti tuhan yang kita puja, untuk diharapkan bukan diterapkan.
Ah, bagaimana aku tak apatis. Semua mencari makna dengan menghalalkan berbagai cara. Melanggar peraturan dengan cara yang elegan.
Ah, sebentar. Aku lama menjadi pembenci hal-hal formal. Menurutku itu tidak subtansial, basa-basi dan munafik. Tidak apa adanya.
Tapi mungkin kebenaran dan kejujuran hakikat sejati. Tak mungkin nyata tanpa bingkai formalitas. Seperti nyawa tanpa raga. Seperti Tuhan tanpa semesta.
Lalu berarti, perjuanganku perjuangan semu. Aku memperjuangakan esensi, mengabaikan eksistensi. Tapi ternyata terjebak pula pada kosongnya subtansi.
Sekali esensi itu nyata, segalanya adalah dusta. Yang pantas dihujat, namun dilakukan sampai sekarat zaman.

Mimpi

oleh Pagar Dewo pada 02 November 2011 jam 12:39


“Lama sekali kau tak datang ke sini?”
“Itu bukan berarti aku lupa?”
“Seingatku kau seorang pedagang. Ya, aku tak mungkin lupa itu. Kau saudagar kondang yang tak terbatas ruang dan waktu pekan. Kau tak pernah tertangkap razia polisi pamong praja. Padahal kau tak pernah mau menyewa ruko permanen. Lapakmu cuma kaki lima. Tapi nama lebih menjual ketimbang barangmu.”
“Hmm.”
“Kau tak susah menarik pembeli. Mereka yang mencarimu. Kemana kau berpindah lapak, kabar tersiar sekencang angin. Mereka berhutang padamu karena kepindah-pindahanmu. Berkat itu mereka tahu tempat baru.”
“Hmm.”
“Oya, aku lupa barang apa yang kau dagangkan selama ini. Aku hanya kenal namamu.”
“Hmm.”
“Apa kau hanya menjual namamu?”
“Hmm.”
“Ah ya, aku ingat. Salah-satu barang sekunder daganganmu adalah mimpi. Hanya mimpi. Bayang-bayang. Hitam, semu. Seperti dalang memainkankan wayang. Bayang-bayang hitam bergerak, berperang, bercinta, bicara, dan hanya bayang-bayang.
“Hmm.”
“Kau ke sini hanya sekadar mampir atau menawarkan sesuatu padaku? Ah, tak mungkin itu. Kau tak perlu mengejar pembeli. Tapi memang, aku sudah lelah mengejarmu. Aku sudah malas bermimpi. Makanya aku tak seperti dulu, mengejarmu dari Pasar Rebo ke Pasar Baru. Balik lagi ke Pasar Minggu, lalu Pasar Senen.”
“Hmm.”
“Asu...! Kenapa kau jadi diam?!! Hammm Hmmm Hammm Hmmm. Kalau ketahuan Muri, kamu pasti telah tercatat sebagai pengucap Hmmm terbanyak.”
“Hmm.”
“Sudahlah, aku mau berangkat. Kau mau tetap di sini dengan hmm-mu itu? terserah.”
Kau hanya diam.
“Hmm, aku tahu kenapa kau datang kepadaku. Semua mimpimu telah habis terjual. Ah tidak, kau habis kerampokan atau kecurian. Semua barang-barang yang kau jual, mimpi dan namamu telah hilang. Dicuri orang. Kini kau tak punya lagi apa-apa. Kau tak punya nama dan mimpi untuk dijual lagi. Ya kan?
“Hmm.”
Kau masih diam. Mematung.
“Maaf, sebelumnya. Bukannya apa. Aku tak bisa memberikan modal mimpiku ini padamu. Baru saja kubaca berita di Kompas, mimpi tak lagi diminati pembeli. Menurut mereka, penjual adalah pembual. Dan aku tinggal punya satu mimpi. Makanya tidak kujual. Kalau mau, kita bisa miliki bersama. Untuk berbagi mimpi aku rela.
“Hmm. Terimakasih.
“Sudahlah, aku pergi. Mau ikut?”


Kamar Instalasi, Legoso-Ciputat, 2 November 2011

Tuhan dan Budak

oleh Pagar Dewo pada 01 November 2011 jam 21:37


Berelimpang sudah
satu per satu
dari milyar trilyun sel yang selalu memaksa mendaur nyawa
dari berat kilo langkah menempuh asa
mengabdi tuan
raja yang hilang
di tepi waktu tertinggal
Sebab tuan kebebasan
tak kutemu wujud nyata
Sebab raja sekadar
hasrat timbul sekejap
sesaat kemudian
sesaat terus yang berulang
Maka
Aku menjadi tuhan
tak ketumu budak nyata

Perang

oleh Pagar Dewo pada 03 November 2011 jam 10:45


“Kenapa? Kau sakit?”
Kau hanya diam. Sambil menahan batuk susulan.
“Astaga, kau muntah. Itu darah.”
Kau terbatuk-batuk lagi. Dari mulutmu keluar cairan kental.
“Ah, warnanya jingga. Seperti senja. Tidak, ini sedikit ungu. Ayo ke dokter.
Aku memapahmu sampai ruang periska. Dokter bekerja. Matanya miring ke kiri. Tapi hanya sebentar. Lebih lama saat menunjuk sudut atas kanan. Dia pasti menghayal. Berimajinasi. Kemudian memberi resep biasa.
“Saya sakit apa dok,” tanyamu.
“Cuma kelelahan. Kamu merokok?”
“Tidak, dok.”
“Banyak-banyak minum air putih ya.”
Aku mengiringmu hingga apotik. Ku saksikan obat biasa yang kau terima. Amoxilin dan sebagainya. Di seberang rumah sakit kembali kau terbatuk darah. Keluar dari mulutmu warna jingga unggu.
“Ah, aku yakin ragamu baik-baik saja.”
“Tapi kau tahu, aku begitu lemas.”
“Coba kau pejamkan mata. Lihatlah apa yang terjadi dalam jiwa. Mungkin kau akan dapat jawaban.”
Sebuah medan gersang. Porak-poranda karena perang. Bau hangus letupan meriam. Asap hitam mengepul. Membumbung menjadi awan. Telah terjadi pertempuran besar dalam jiwamu. Tujuh dari sembilan jiwa sedang siaga. Menghadapi pertempuran selanjutnya dengan senjata rahasia.

Ciputat, Student Center-UIN Jakarta, 2 Nov 2011, 09.40

Minggu, 09 Oktober 2011

Ushuluddin; Spirit of Human Bieng

 oleh : Pagar Dewo

INDONESIA, menemui titik kebangkitannya pada tahun 1980an. Ini ditandai dengan berdirinya Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (Ushuluddin) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di fakultas ini, mahasiswa memelajari berbagai disiplin ilmu tentang ushuluddin atau dasar-dasar dari agama dan spiritualitas, serta filsafat, yang merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan.

Karena itulah mengapa hingga kini, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat telah menghasilkan sarjana-sarjana berkualitas dari segi kepribadian, intelektualitas, spiritual dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Alumni-alumni IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sukses dan menjadi tokoh besar, umumnya berasal dari Ushuluddin.

Berbeda dengan fakultas dan jurusan lain di Indonesia, Ushuluddin tak memenjara manusia dengan mencetak sarjana tukang. Tidak ada spesialisi kerja yang dibebankan pada lulusan Ushuluddin. Karena itu, setiap manusia Ushuluddin bebas menentukan masa depannya sendiri, memilih apa yang mereka minati dan merealisasikan apa yang mereka mau.

Mungkin ini kedengarannya terlalu mengawang dan sedikit absurd. Tapi itu bagian dari pendidikan yang ada di Ushuluddin. Mahasiswa Ushuluddin tak dibiarkan instan dan manja. Sebaliknya, Ushuluddin menggembleng mahasiswa supaya mandiri dan mampu menentukan nasibnya sendiri. Oleh karena itu, cuma orang-orang tertentu dan berkemauan kuat serta ambisiuslah yang mampu menerima pendidikan di FUF.

Itu semua terkait dengan kebebasan. Ini adalah fitrah manusia. Manusia berbeda dengan tumbuhan atau binatang, yang segala kehidupannya seragam dan telah ditentukan dari awal. Manusia punya cita-cita dan harapan. Dalam memerjuangkan kehidupannya, manusia harus kreatif. Tak mentah-mentah menelan yang ada, sebagaimana hewan dan tumbuhan. Bagi manusia, semuanya harus diolah, dipikir, dirasa dan dikembangkan. Dari situ, tercipta berbagai kemungkinan-kemungkinan baru. Selanjutnya, terwujudlah proses penciptaan yang terus menerus menuju kesempurnaan.

Demikianlah, Ushuluddin sangat manusiawi. Hal sesederhana ini saja bisa membedakan Ushuluddin dengan fakultas lain, yang tentunya sangat tidak manusiawi. Bicara kemanusiawian, apa yang dipelajari di Ushuluddin pun selaras dengan hal itu. Contoh kecilnya adalah masalah ketuhanan, kehidupan, tujuan penciptaan atau kehidupan sendiri dan sebagainya.

Semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan asasi yang pasti ada di benak manusia. Setiap anak manusia, tak mungkin tidak menanyakan hal itu. Tak mungkin pula pertanyaan ini terjawab hanya dengan mengikuti rutinitas konvensional. Kehidupan manusia bukan sekadar lahir, kecil, dewasa, sekolah, kuliah, kerja, kawin, punya anak dan kecil lagi, begitu seterusnya, Terdapat hal besar di balik itu semua. Ini tak mungkin mampu terpikirkan oleh mahasiswa Fakultas Lain. Dan itulah kenapa, rata-rata alumni Ushuluddin atau yang berjiwa Ushuluddin selalu tampil jadi pemimpin.

Perlu dipahami bahwa Ushuluddin bukan hanya berdiri sebagai fakultas yang khusus ada di UIN, IAIN, Perguruan Tinggi Agama atau Theologi. Lebih dari itu, Ushuluddin adalah ruh atau semacam spirit, yang menyebabkan raga kita hidup. Manusia bukanlah apa yang tampak dari raga, melainkan dibaliknya, yang membuat raga itu bergerak, berfikir dan bertindak. Itulah Ushuluddin. Ushuluddin adalah kekuatan tak kasat mata, yang bisa diterima oleh manusia yang menggunakan akal dan terbuka hatinya. Sehingga untuk menjadi manusia unggul tak harus berstatus Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, melainkan cukup dengan mengintegrasi nilai dan semangat Ushuluddin dalam diri. Tokoh-tokoh seperti Nabi Muhammad, Soekarno, Che Guefara, Galileo, Einsten, Newton dan sebagainya adalah contoh dari manusia yang memiliki jiwa Ushuluddin.
 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube