BREAKING
Tampilkan postingan dengan label Keindonesiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keindonesiaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Mei 2017

4 Alasan Kenapa Anda Harus Kuliah di UIN Jakarta

Oleh; Abdul Aziz Hakim
@hakimukemo

Adalah kuliah, salah satu jalan menggapai kesuksesan menurut sebagian masyarakat muda Indonesia setelah lulus SMA sederajat. Dengan beragam persepsi, baik yang jelas tergambar atau masih samar-samar dalam benak calon pengenyam pendidikan ini, kuliah masih menjadi pilihan bagi sepertiga masyarakat muda indonesia. Maka, bukan sebuah keabsurdan jika 30 persen tamatan SMA sederajat memilih kuliah sebagai proses mematangkan diri sebelum benar-benar mengarungi hidup yang sebenarnya di masyarakat. Lihat TEMPO.CO (07/06/14).
Sebagai calon mahasiswa, tidak kesemuanya dari mereka benar-benar memahami tentang apa itu kuliah, latar belakang kampus, atau dengan jurusan apa yang akan diambil. Bahkan biasanya ada beberapa calon mahasiswa yang asal-asalan menentukan tempat kuliah tanpa adanya dasar pengetahuan terlebih dahulu. Sebagian lagi malah ikut-ikutan teman tongkrongan dan ahirnya, salah jurusan.  "Teman saya kuliah di kampus itu, fakultas ini, jurusan ini. Yaudah, saya ikut kuliah disini". Ada yang seperti ini? Banyak.
Mungkin bagi kalian, (red. calon mahasiswa) sebelum  menghibahkan diri menjadi mahasiswa perguruan tinggi ; akademi, sekolah tinggi, atau universitas, alangkah lebih baiknya jika mempertimbangkan beberapa alasan-alasan dibawah ini kenapa anda semua harus kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai institusi pendidikan tinggi pengembang potensi diri.
1.UIN Jakarta banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional.
Salah satu kunci utama yang mempengaruhi kecerdasan seseorang adalah melalui pendidikan. Tempat pendidikan yang layak dan benar merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan kecerdasan paripurna seseorang. Berhasil tidaknya setiap pelajar berbanding lurus dengan tempat dimana mereka belajar. Adalah Nur Cholis Madjid, atau yang biasa disapa Cak Nur, tokoh legendaris yang wafat dua belas tahun silam ini, (Allahu yarham) merupakan salah satu alumnus UIN Jakarta (dulu IAIN) yang banyak mendedikasikan hidupnya untuk Indonesia, dan Islam lewat kejeniusan berfikirnya yang mampu membawa angin segar baru dalam dunia pemikiran Islam nusantara bahkan mancanegara.
Selain Cak Nur, dari segi pendidikan, ada juga Prof. Mohammad Atho Mudzhar (Rektor UIN Jogja periode 1997-2001) Prof. Oman Fathurahman (ahli filologi Islam pertama Indonesia) Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta dua periode yang namanya sempat masuk dalam bursa calon Kemendikbud waktu itu dan Azumardi Azra, (Sejarawan sekaligus orang Asia pertama yang diangkat sebagai professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia (2004-2009). Selain itu, dari segi pemerintahan, ada Ade Komaruddin, (Ketua DPR RI 2016-2017) Prof. Abdul Ghani, (Ketua MA 2014-2019) Prof. Amin Suma (Ketum Himpunan Ilmuan dan Sarjana Syariah) dan dari bidang Consulting politik, Saiful Mujanni, founder lembaga survei Saiful Mujanni Reserch and Colsulting, (SMSRC) Burhanuddin Muhtadi, (Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia) dan masih banyak lagi yang lain.
2.Tumbuh Pesatnya Dunia Organisasi 
Sebagai mahluk hidup, dimana pun dan kemanapun kita, tidak akan pernah lepas dari dunia organisasi. Baik organisasi pemerintahan, kemasyarakatan, kepemudaan, kelompok atau golongan-golongan tertentu. Bagi calon mahasiswa yang mempunyai jiwa organisatoris, jiwa yang selalu kepo dan ingin terus merasakan nikmatnya dinamika dalam berorganisasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jawabannya. Disamping mengetahui, kalian juga bisa bergabung dan belajar langsung dengan berbagai macam organisasi yang ada di UIN Jakarta beserta latar belakang dan dinamikanya masing-masing. Mulai dari organisasi ekstra kampus (HMI, PMII, IMM, KAMMI, GPPI, GMNI) intra Kampus, (DEMA, SEMA, BEM, HMJ, LDK, dll.) primordial, (HMB, Himabo, FKMB, Permata , Formla dsb.) alumni pesantren, (IKPM, IKPDN, HIMAM dst.) dan masih banyak lagi yang lain. Sangat cocok sekali dengan latar belakang mahasiswa organisatoris. Janganlah heran ketika nanti kalian mengetahui setiap kelombok atau komunitas diatas diorganisasikan.
3. Letaknya strategis dan multigeografis
hhhhh
Mayoritas pengambilan nama setiap universitas yang ada di Indonesia, selalu dinisbatkan kepada nama daerah dimana universitas itu berdiri. Seperti kampus Islam negeri yang bertempat di Malang, Jawa Timur. Diberi nama Universitas Islam Negeri Malang, (UIN Malang) Karena memang letaknya di Malang, bukan dengan nama daerah yang berada disekitarnya. UIN Kediri atau UIN Pasuruan, misalkan. Sama halnya UINSA (Sunan Ampel) Surabaya, UIN SUKA (Sunan Kali Jogo) Jogja, dan perguruan tinggi islam lainnya. Penamaan Universitas Islam negeri tak pernah luput dari nama daerahnya.
Tapi tidak demikian dengan UIN Jakarta. Bertempat di daerah Ciputat, Tangerang Selatan, tidak lantas menjadikan UIN Syarif Hidayatullah ini diberi nama UIN TANGSEL, (Tangerang Selatan) atau UINBAN (Banten), akan tetapi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Entah dengan alasan apa, atau mungkin biar keren, yang pasti selalu ada alasan dan makna tersendiri dibalik sebuah nama. Inilah yang mungkin menjadi keistimewaan dan keberkahan bagi UIN Syarif, penisbatan nama dengan 'Jakarta', sukses membuat nama UIN ini melambung tinggi dan terus dicintai selain aksesnya ke pusat kota Jakarta yang mudah.
4Pusat Peradaban Tangerang Selatan
Jika kalian Mahasiswa UIN Jakarta, atau warga sekitar kampus, mungkin slogan  "Ciputat is nothing without UIN" tidak akan asing lagi ditelinga. Patut dibenarkan kiranya karena lewat UIN lah, Ciputat, kecamatan kecil tempat gedung-gedung megah UIN Jakarta berdiri, kecamatan yang dulunya bukan apa-apa, kini mampu menjadi role model peradaban kecamatan lain yang ada di Tangsel dan bahkan Indonesia karena peradaban dan kemajuannya yang signifikan.
Segi ekonomi misalkan, ada ratusan orang yang ter-sukseskan bisnis dan usahanya karena mamanfaat kan peluang besar pasar puluhan ribu mahasiswa UIN Jakarta. Berapa ratus bahkan ribuan lapak usaha yang terus berdiri karena UIN ini. Dari pedagang kaki lima, kelontong, warung makan, aneka jajanan, poto copy, rental dan cafe-cafe besar yang labanya dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah tiap harinya, terus ada dan berkembang dari awal berdirinya UIN Jakarta hingga kini. Begitu halnya dari pendidikan, tidak sedikit mahasiswa, dosen bahkan alumni yang ikut mendedikasikan dirinya untuk ikut membantu tugas pemkot Tangsel mencerdaskan warganya. Mengajar di sekolah/universitas, menjadi guru ngaji sampai menjadi DAI dalam pengajian-pengajian, sudah banyak dilakukan dan tersebar disetiap wilayah Tangerang Selatan.

Itulah beberapa alasan kenapa anda harus masuk UIN Jakarta. Selain empat hal diatas, masih banyak lagi alasan lain yang menjadikan UIN Jakarta tetap banyak diminati oleh mahasiswa nusantara. Untuk kalian yang masih kepo, bisa langsung dateng aja ke kampus langsung. Atau bisa ke besmen-besmen di setiap fakultas. Khususnya fakultas Ushuluddin. Kalau hanya sekedar ngopi-ngopi, Insya Allah akan ada Kaka-kaka gemes yang sukarela dan senang hati berbagi alasannya masing-masing kenapa menjatuhkan pilihanya ke UIN Jakarta. Tapi buat kalian mahasiswi, perlu diketahui, basement tidak hanya tempat bertukar cerita dan ngadem saja. Harus hati-hati. Tetap merahasiakan nomer adalah jurus paling utama. Karena basement adalah salah satu tempat ampuh mahasiswa tua menebarkan bunga-bunga cintanya kepada mahasiwa-mahasiswa unyu yang masih baru.
Nah UIN Lovers, itulah sedikit alasan yang bisa saya paparkan. Sekedar informasi, setiap tahunya ada puluhan ribu calon mahasiswa yang mendaftar, dan UIN Jakarta  hanya menerima 4.000 mahasiswa baru saja. Bisa dipastikan kamu bakal bersaing dengan banyak sekali calon mahasiswa lainnya. Untuk itu, persiapkan dirimu dari sekarang ya, UIN Lovers. Selamat mencoba!!!

*Penulis adalah penyuka dedek unyu

Jumat, 18 Maret 2016

Timpang

Oleh: Sadam Husein **


Sewaktu siang saya sedang menikmati indahnya Alun-alun kota Pare, dengan antusias melihat di sekitar tanpa luput satu pun yang terlewatkan dari pandangan saya, cuaca yang panas namun asri menghiasi gedung dan penataan kota yabg rapih, dengan hiruk pikuk saat itu terjadi, sudah menjadi hal yang biasa ketika aku berada di ibu kota indonesia yaitu jakarta, yang justru lebih parah dari pada itu. Namun, tak Berbeda dalam menjalani aktivitas sehari-hari, ada yang sekolah, bekerja, Pedagang Kaki lima, sampai ada yang menarik becak motornya.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, seseorang dengan kelas ekonomi atas dapat saja merasakan segala kemewahan kehidupan dunia. Namun, beda halnya dengan ekonomi menengah kebawah. Sekiranya masyarakat indonesia merupakan contoh konkrit mengenai ketimpangan kelas ekonomi. Seseorang dengan kelas ekonomi bawah, jangankan memenuhi kehidupanya, untuk makan sehari-hari mereka pun harus mengucrkan keringat berlebih hanya demi sesuap nasi.

ketika sedang menikmati suasana dan secangkir kopi, seketika terpaku pada salah satu penarik becak motor, dengan muka tampak lesuh dan kecewa, dengan khas bau sinar matahari yang menyelimutinya, baju yang sederhana tampak menghiasinya, dengan langkah yang berat tak kuduga mendekati dan duduk di sampingku. Dia adalah bapak haryono, dia adalah salah satu warga pare jawa timur. sehari-hari dia bekerja hanya sebatas menarik becak motornya.

"Iya nih mas, saya sudah dari kemarin narik tapi belum ada satupun penumpang, jangankan makan ngopi pun saya ndak mas". Ketika dia menjawab pertanyaan saya perihal pekerjaan.
Dia melanjutkan, "mencari nafkah saat ini memang sangat sulit, saya tidak bisa menghidupi Ke empat anak saya. Maka saya terpaksa harus menitipkan mereka ke panti asuhan, dan istri saya pun yang entah kemana meninggalkan saya, belum juga orang tua saya yang sakit-sakitan, belum lagi saya sendiri mas pusing saya mas."

Dari perkataan tersebut, saya menyadari betapa ketimpangan terjadi di Negri ini. Dibalik bangunan-bangunan kota yang megah dan kayanya alam Indonesia, hanya sebagian orang saja yang dapat merasakannya dan mendapatkan keuntungannya, tapi justru masih banyak orang-orang yang sama sekali tak pernah merasakan kenikmatan itu.

Akutnya permasalahan ekonomi, tak hanya membuat bapak haryono kehilangan keluarganya, bahkan bapak tersebut juga mulai sakit-sakitan. “Saya juga sering merasakan sakit perut”. Sambil menunjuk perut yang ada bekas jahitan luka yang jauh dikatakan sempurna.
Begitu teriris saya mendengarkan curhatan bapak ini, memang kehidupan saat ini di negri kita tercinta ini, bahwa tak semua bisa merasakan manisnya hidup yang kita jalani saat ini, tak seimbangnya pendapatan dengan kebutuhan, sehingga masyarakat kelas menengah kebawah seakan semakin terpuruk dan semakin pesimis menjalani hidup.

Kebutuhan sandang dan pangan yang harganya semakin melunjak, ditambah lagi dengan harga BBM yang inkonsisten, membuat masyarakat yang notabene jelas menengah kebawah sangat merasakan betul asam manisnya kehidupan di negeri ini.Salah satunya harapan dari masyarakat hanya pada pemerintah untuk bagaimana mencari solusi atas kebijakannya untuk menaungi masyarakat menengah kebawah.

Lihat profil: Sadam Husein

Rabu, 16 Maret 2016

ASEAN Economic Community (MEA) of The Village Development

Gilang Ramadhan **

            The free market with the frame of ASEAN Economic Community will start rolling in 2015. The extent to which Indonesia 's readiness to deal with it ?ASEAN has outstanding advantages. Firstly, ASEAN has 600 million inhabitants. Then ASEAN also has an incredible diversity, has a mega such as Singapore, Jakarta, Kuala Lumpur, and its inhabitants are very rich. But on the other hand, ASEAN also has Laos, Myanmar. Well…, this range is so diverse that make the market become more widespread, not just in number but also has a breadth of products that can be sold.        

    Idealism of the MEA is not just a trade between countries but make ASEAN a production base to supply the world market.So where opportunity of Indonesia ?It is a paradox with a lot of exposure, both academics and government elite, who saw that Indonesia had to face an external enemy in the form of agricultural products from other ASEAN countries. Such exposures forget one important thing: could we face the rice Thailand and Vietnam when farmers in this country even more lost their access to land ? And then, How about the position of Indonesia as an agricultural country ?Indonesian farmers conditions today, in various regions, is quite alarming. BPS data in 2013 mentioned that there is a decrease in the number of households of farmers from the amount of 31,17 million in 2003 to 26,04 million in 2013. However, on the contrary, there is an increasing number of agricultural companies of 4086 the company became 5011 companies in 2013.     

     For more than a problem later on Indonesian rice whether it can compete with the rice farmer from Thailand or Vietnam. Because it is clear on paper, without land, our farmers have lost even before the MEA whistle sounded. We will not be able to talk about agricultural products without being planted. Without guarantees and subsidies from the state, of the low quality of our agricultural products will not be able to compete with any country. Finally clear; our society from all walks of consumption will rely instead on domestic production, but on the imported products that should be our production.     

    ASEAN Economic Community (MEA) has a tendency to pivot on the industries and the exclusion of those who live from natural products. This is further exacerbated by the fact that the ASEAN Human Rights Declaration, the points on the rights of farmers in the development have not been included. That is, the rights of farmers in a very vulnerable MEA related to regional integration projects are being initiated.

Lihat Profil: Gilang Ramadhan

Senin, 14 Maret 2016

Inilah Lima Jomblo kelas atas di Ushuluddin


Menjadi jomblo adalah perkara tersulit yang ada dalam kehidupan. Tidak ada yang mudah dengan menjomblo. Selain pranata sosial, tekanan keluarga dan kesunyian, menjadi jomblo juga selalu mengalami tekanan psikologis dari hari-kehari.

Nahh buat kalian mahasiswi UIN, ada kabar gembira yang akan saya jelaskan di sini. Untuk sementara lupakan hayalan-hayalan kalian mengenai Nicholas Saputra atau Ariel Noah. Kini PIUSH memiliki rekomendasi jodoh untuk kalian semua. 

Setelah melalui seleksi yang ketat, lebih ketat daripada seleksi lomba penyanyi berbakat yang ada ditelevisi, bekerja sama dengan Lembaga Survey Jomblo Indonesia, Maka PIUSH dengan bangga mempersembahkan lima jomblo berkualitas tinggi untuk anda dekati. Ingat, dekati saja, jangan dipacari. Biarkan mereka tetap sendiri agar tetap menjadi filsuf atau sufi.

5. Solihin (Anu)
Solihin Anu adalah Mahasiswa semester 4 yang paling berbakat di Aqidah Filsafat, Ushuluddin, UIN Jakarta. Ia dikenal dengan nama panggung "Anu". layaknya Mahasiswa Filsafat yang lain, Anu cukup idealis dalam hal percintaan. Ia tidak akan mau mengejar seorang gadis, kecuali gadis itu sendiri yang mendatanginya. Tapi mau sampai kapan Anu ?? aahh sudahlah.

Sebagai pemuda harapan entah siapa, Anu telah berjasa besar dalam menghidupkan kajian pojok inspirasi ushuluddin (PIUSH). Bisa dihubungi dibesment ushul.

4. Edi Marwoto
Jomblo kita yang satu ini adalah gabungan filsuf mahsyur Schopenhauer dan Basiyo. Tercatat sebagai mahasiswa perbandingan agama yang jarang masuk kuliah hingga sekarang.

Edi merupakan sosok yang santai dan periang. Gosip yang beredar, sangking frustasi dengan kejombloannya ia bahkan rela berpacaran dengan leptop yang selalu ditentengnya. Edi Bisa dihubungi di besment ushul.

3. Muhammad Hamiem
Pria yang asal Rembang Jawa tengah ini, memiliki semboyan, "sombonglah selama Tuhan tidak melihat". Lantas pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan kepada Hamim, apa yang bisa disombongkan ? Hidup dalam kesunyian dan kesepian ??

Tercatat masih menjadi Mahasiswa Tafsir Hadis semester 6. Hamim, begitu ia disapa, dikenal menguasai par excellencestudi Alquran, Hadist, dan Filsafat. Dengan wajah yang jika diperhatikan kadar usianya melebihi Nabi Adam, sudah barang tentu Hamim punya kualitas idola.

Jika Anda tertarik untuk berbincang perihal pahitnya kehidupan, Anda bisa menghubunginya di besment ushul.

2. Mohammad Faqih
Tanyakan pada jagat mahasiswa seluruh kampus UIN, Jakarta, siapa Muhammad Faqih. Niscaya anda akan menemukan seorang sosok Marxist yang kaffah nan zuhud.

Faqih adalah salah seorang Aktifis Gerakan yang konsisten menyendiri dan menyendiri. Seluruh rekan-rekannya mengetahui kisah pahit drama percintaannya yang tak menegenal kata "Sampai". Bahkan faqih sukses menjadi "icon" perjombloan di Ushuluddin. Suatu prestasi yang luar biasa tentunya.

Jika "Syarukh khan" dalam film "Jab tak hai jan" berhasil menanti cintanya dalam puluhan tahun, faqih jauh melampaui itu pastinya.

Secara khusus Mahasiswa Tafsir Hadis ini memiliki darah biru dari Bekasi yang jika ditelusuri akan nyambung hingga nabi Adam. Anda bisa menghubungi beliau di besment ushul.

1. Ubaidillah
Dan inilah dia, sosok yang dianggap melampaui jomblo yang lain. Ia adalah ubaidillah atau yang biasa disapa Ubed.

Dikenal berwajah layaknya "boyband", Ubed selalu mengakrabi  kesunyian. Apakah karena memang tidak terlihat? Entahlah. Tapi dari beberapa sumber terpercaya, konon Ubed sedang mengejar cinta ala tirakat khusus yang telah mencapai taraf makrifat seorang sufi.

Mahasiswa Tafsir Gadis ini gemar menonton film drama Korea. Maka wajar saja, apabila ia hingga sekarang selalu bermimpi menjadi "Lee Min Ho"nya Ushuluddin. Silahkan sapa ubed di besment ushul.


D.I



Senin, 10 Agustus 2015

Pasal Penghinaan Presiden Dihidupkan lagi, SBY: Pemerintah Jangan Berlebihan

Wacana Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang akan memberlakukan lagi Undang-Undang tentang penghinaan presiden menuai banyak kritik, termasuk kritikan dari mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yodhoyono (SBY).
SBY menyatakan, meskipun presiden memiliki kekuasaan tertinggi untuk menangkap siapapun yang menghinanya, namun ia mengingatkan untuk tidak menggunakan kekuasaan secara berlebihan.
”Para pemegang kekuasaan (power holders) tak boleh salah gunakan kekuasaannya, kita sepakat negara dan penguasa tak represif dan main tangkap," ungkap SBY di dalam akun twitternya @SBYudhoyono, minggu (9/8).
Bagi SBY, kritik yang dilontarkan oleh rakyat seharusnya dijadikan masukan yang positif untuk membangun pemerintahan yang lebih baik. "Kalau pemimpin tak tahu perasaan dan pendapat rakyat apalagi media juga diam dan tak bersuara saya malah takut jadi bom waktu," katanya.
SBY mencontohkan, saaat i masih menjabat sebagai Presiden Indonesia, ia banyak sekali mendapatkan kritikan sampai hinaan dari rakyat. "Terus terang, selama 10 tahun jadi presiden ada ratusan perkataan dan tindakan yang menghina, tak menyenangkan, dan cemarkan nama baik saya," curhatnya.
Menurut SBY, jika seandainya hinaan yang ia dapatkan dari rakyat tersebut dilaporkan kepada polisi mungkin jumlahnya sangat banyak sekali, namun hal itu tidak ia lakukan. "Barangkali saya juga justru tidak bisa bekerja, karena sibuk mengadu ke polisi, konsentrasi saya akan terpecah," pungkasnya. 

Reporter: Mughni Labib

Senin, 17 November 2014

Sadarlah DPR

 Oleh: Syahrul Ramadhan
Rakyat di buat bingung oleh DPR...
Rakyat di buat gelisah oleh DPR...
Rakyat di buat stres oleh DPR...
Rakyat di buat gila oleh DPR...
Rakyat di buat sakit oleh DPR...
Kasian aku
kasian kamu
Kasian kita
Kasian kami
Kasian mereka
Kasian orang orang yang punya hati nurani...
Sadarlah DPR..kasian rakyat INDONESIA

Pahlawan yang Terlupakan



 
Syafruddin Prawiranegara
Oleh: Siti Mahfudzoh
Mahasiswi Perbandingan Agama, Semester I
Kemerdekaan bangsa Indonesia tidaklah diraih dengan mudah. Memerlukan perjuangan berpuluh-puluh tahun untuk mewujudkannya. Selama masa perjuangan itu, sudah tak terhitung putra bangsa yang harus meregang nyawa dalam upaya mengusir bangsa penjajah dari bumi Indonesia. Selama masa itu pula sudah tak terhitung materi yang harus dikorbankan untuk kepentingan perjuangan.
Nyatanya, kemerdekaan Indonesia baru bisa diraih pada tahun 1945 setelah melewati masa perjuangan yang amat panjang, yakni setelah bangsa Belanda melepas taring-taring kekuasaannya selama lebih 3,5 abad ditambah jepang yang berhasil menjajah harta kekayaan penduduk pribumi, selama 3,5 tahun yang menyakitkan. Dengan kata lain, kemerdekaan bangsa Indonesia sesungguhnya diraih dengan perjuangan berdarah-darah yang menyedihkan.
Kini saat bangsa Indonesia sudah merdeka, kita dihadapkan pada pertanyaan penting, siapakah Pahlawan bangsa yang pantas untuk kita kenang jasanya?
Tentu jumlahnya lebih dari jutaan nama. Namun pasti ada beberapa nama untuk kita ingat. Selain nama-nama tenar seperti Soekarno dan Hatta, masih banyak tokoh penting yang terlibat dalam lahirnya kemerdekaan Indonesia. seperti seorang presiden yang namanya tidak tercantum dalam urutan presiden walaupun hanya menjadi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, yaitu Syafruddin Prawiranegara. tapi ia sudah menorehkan jiwa dan raganya untuk Indonesia yang pada saat itu sangat amat genting, Namun sayang nama ini nyaris tidak terdengar dikalangan kaum muda pada saat ini, namanya begitu saja dilupakan tidak melihat seberapa beratnya jasa-jasa yang telah diberikan pada saat ia menjadi presiden walaupun hanya 8 bulan. Dia adalah Putra Bangsa yang berasal dari Banten, Tidak terlalu luas untuk wilayah Indonesia mengetahui tentang beliau. Tapi  adakah penduduk Banten sendiri mengetahui bahwa daerahnya pernah menjadi kebanggaan memiliki putra bangsa seperti Syafruddin Prawiranegara? tentu ada yang mengetahui, tetapi hanya sebagian kecil. Entah sejarah yang tak sampai atau mungkin tidak ada nama beliau dalam sejarah. Dia adalah pahlawan yang terlupakan.
Maka dari itu Penulis akan membahas tentang pahlawan yang terlupakan ini, yaitu Syafruddin Prawiranegara.
Syafruddin Prawiranegara merupakan pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911. Beliau menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan RI di Yogyakarta  ke tangan Belanda. Tepat saat peristiwa Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948. Tokoh yang lahir di Anyar Kidul ini lebih akrab disapa “Kuding” oleh keluarga maupun kawan-kawannya. Dalam darahnya, mengalir campuran Banten dan Minang. Buyutnya dari pihak ayah, Sutan Alam Intan, masih keturunan raja Pagaruyunh di Sumatera Barat yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Sutan Alam menikah dengan putri bangsawan Banten, melahirkan kakeknya yang memiliki anak yang bernama Raden Arsyad Prawiraatmadja. Ayah Syafruddin bekerja sebagai jaksa, tetapi cukup dekat dengan masyarakat sehingga dibuang oleh Belanda ke Jawa Timur.
Sebagai keturunan bangsawan, Syarifuddin memperoleh pendidikan formalnya dengan baik. Beliau  menempuh pendidikan Europeesche Lagere School (ELS) pada tahun 1925, dilanjutkan ke MULO di Madiun pada tahun 1928, dan Algemene Middelbare School (AMS) di Bandung pada tahun 1931. Beliau mengambil pendidikan tinggi di Rechtshoogeschool (sekolah tinggi hukum) di Jakarta (sekarang Fakultas Hukum di Universitas Indonesia) pada tahun 1939, dan berhasil meraih gelar Meester in de Rechten (saat ini setara dengan magister hukum). Selepas meraih gelar Meester, Syafruddin yang dikenal sebagai kutu buku ini pernah bekerja sebagai pegawai siaran radio swasta (1939-1940), petugas Departemen Keuangan Belanda (1940-1942), dan pegawai Departemen Keuangan Jepang.
Pascakemerdekaan RI,  Syafruddin yang dimasa mudanya sudah akrab dengan berbagai organisasi pergerakan nasional menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) pada tahun 1945. Badan ini bertugas sebagai badan legislatif di Indonesia sebelum terbentuknya MPR dan DPR. KNIP diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
Ketika Belanda melakukan Agresi Militer II di Indonesia pada tanggal 19 Desember 1949, pada saat itu Soekarno-Hatta dan kawan-kawan sedang ditawan oleh Belanda, kemudian Soekarno-Hatta memutuskan untuk memberi mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang pada saat itu pusat pemerintahan berada di Yogyakarta, Soekarno-Hatta sempat mengirimkan telegram yang berbunyi,
“Kami, presiden Republik Indonesia Republik Indonesia memberitahukan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 jam enam pagi Belanda telah mulai serangannya atas ibu kota Yogyakarta. Jika dalam keadaan pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, kami mengusahakan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera.”
Namun sangat disayangkan, telegram itu tidak sampai ke Bukit Tinggi, Yogyakarta (posisi Syafruddin saat itu) karena sulitnya sistem komunikasi. Namun, ketika mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki ibukota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pemimpin pemerintahan RI, pada tanggal 19 Desember sore hari, Syafruddin segera mengambil inisiatif senada. Yaitu mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok,  Bukit Tinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintahan darurat (emergency government). Gubernur Sumatera Utara, Teuku Muhammad Hasan menyetujui usul tersebut demi menyelamatkan RI yang berada dalam bahaya.
Atas usaha Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang di prakarsai oleh Syafruddin Prawiranegara, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. kemudian adanya Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda dalam Agresi Militernya. Akhirnya, soekarno dan kawan-kawan dibebaskan hingga bisa kembali ke Yogyakarta. Dan pemerintahan Pada 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Pesiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta dan sejumlah menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.
Selama 8 bulan, ia menjadi presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, walaupun singkat, Ia tengah berhasil meredamkan Agresi Militer Belanda II melalui Perjanjian Roem-Royen. Kiprahnya sebagai pahlawan bangsa tidak diragukan lagi, sudah jelas beliau patut dikenang jasanya dan dicatat dalam sejarah.
Selain itu, Sebagai aktivis, karir politik Syafruddin memang terbilang cemerlang. Tercatat, ia pernah menduduki beberapa jabatan penting di pemerintahan RepublikIndonesia. Ia pernah ditunjuk pemerintah Soekarno untuk menempati jabatan Wakil Menteri Keuangan pada 1946 dan Menteri Kemakmuran pada 1947. Pada saat masih menjabat sebagai Menteri Kemakmuran inilah terjadi Agresi Militer Belanda II 1948, dan menyebabkan terbentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Setelah menyerahkan kembali kekuasaan menjadi presiden PDRI, Syafruddin menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI pada 1949 dan Menteri RI pada 1949 -1950. Selaku Menteri Keuangan  dalam Kabinet Hatta, kiprahnya dalam dunia keuangan sangat berperan penting sehingga pada Maret 1950, ia melaksanakan pengguntingan uang dari nilai 5 rupiah ke atas sehingga nilainya tinggal separuh yang pada saat itu sedang terjadi Krisis Moneter (Krismon), tidak sedikit yang banyak menimbulkan pro dan kontra, namun Syafruddin tetap teguh dalam kebijakan yang digagasnya, karena demi Krisis moneter tersebut berkurang. Kebijaksanaan moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan julukan “Gunting Syafruddin”.
Pada tahun 1951, Syafruddin menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama. Sebelumnya, ia adalah Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir yang kemudian diubah menjadi Bank Sentral Indonesia.
Ketika pada awal tahun 1958, Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berdiri. Hal ini akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah karena ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi dan pengaruh komunis (terutama PKI) yang semakin menguat. Syafruddin diangkat sebagai perdana menteri PRRI dan membentuk kabinet tandingan sebagai jawaban atas dibentuknya kabinet Ir.Juanda di  Jawa. Kabinet PRRI berbasis di Sumatera Tengah. PRRI masih mengakui Soekarno sebagai presiden PRRI karena diangkat secara konstitusional.
Pada bulan Agustus 1958, perlawanan PRRI dinyatakan berakhir dan pemerintah pusat di Jakarta berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya bergabung dengan PRRI. Keputusan Presiden RI No. 449/1961 menetapkan pemberian amnesti dan abolisi bagi orang-orang yang tersangkut dengan pemberontakan, termasuk PRRI yang perdana menterinya adalah Syafruddin Prawiranegara.
Kiprahnya dalam dunia politik amat begitu besar, menurut hemat penulis, PRRI tidak layak di cap sebagai pemberontak karena mencoba menghilangkan pengaruh-pengaruh komunis dalam pemerintahan. Dan seharusnya dianggap sebagai Pelopor Upaya Pembersihan PKI dalam pemerintahan.  Hal-hal ini perlu di jadikan pelajaran atas apa yang seharusnya apresiasi yang diberikan.
Setelah bertahun-tahun berkarir di dunia politik, Syafruddin akhirnya memilih berdakwah sebagai kesibukan masa tuanya. Ternyata, hal itu tidak mudah. Berulang kali ia dilarang naik mimbar karena cap-an Pemberontak PRRI. Pada Juni 1985, ia diperiksa sehubungan isi khutbahnya pada Hari Raya Idl Fitri 1404 H di Masjid Al-A’raf, Tanjung Priok, Jakarta.
“Saya ingin mati didalam Islam, dan ingin menyadarkan bahwa kita tidak perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah,” ujar Syafruddin mengenai aktivitasnya.
Ditengah kesibukan sebagai mubaligh, syafruddin masih sempat menyusun buku Sejarah Moneter dengan bantuan Oei Beng To, direktur utama Lembaga Keuangan Indonesia.  
Dalam kesibukan berdakwahnya, Syafruddin Prawiranegara meninggal pada 15 Februari 1989 dan dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta Selatan pada usia 77 tahun.
Sangat ironis memang, seorang pahlawan yang mati-matian memerjuangkan bangsanya demi kemerdekaan yang sebenarnya, di judge sebagai pemberontak, bahkan berdakwahnya pun menjadi kecaman yang tidak dibenarkan. Entahlah, kekuatan pada waktu itu mungkin terlalu lemah untuk melawan kecaman dan judge-an.
Penulis mendoakan semoga meninggalnya Syafruddin dalam keadaan Syahid, sehingga bisa mencapai surga-Nya Allah. Allah mengetahui apa yang tidak ketahui.
Penulis berharap semoga semakin banyak yang mengetahui kedudukan Syafruddin yang sebenarnya, bukan hanya untuk orang Banten, tetapi untuk seluruh penduduk Indonesia. dengan selalu membaca sejarah-sejarah yang masih tersingkap dalam kemisteriusan sejarah yang ada sekarang dengan yang ada pada zaman dahulu. Sehingga menjadi suatu keniscayaan kecaman Syafrudddin sebagai “Pemberontak” itu dihapuskan.  Karena seperti apa yang dikatakan Soekarno “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya (Jas Merah).” Dan penulis juga berharap, maksimal, Syafruddin Prawiranegara ini terdaftar dalam urutan ‘Mantan Presiden’ melihat perjuangan dan kegigihan beliau yang telah Penulis ungkapkan.














 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube