BREAKING
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2016

Tentang Penolakanmu waktu itu

Oleh; Dedy Ibmar **




Malam ini, malam yang begitu dingin, angin bertiup lembut, namun bau matahari masih begitu akrab pada jendela kamar. Melupakan kekecewaan pada secangkir kopi yang malah dirayakan semut. Tepat disamping gelas terdapat satu bungkus rokok lengkap dengan korek api kayu yang biasa kugunakan. Laptop dan buku-buku belum sedikitpun kusentuh padahal niatan awalku ialah membuat suatu artikel untuk kukirimkan ke media masa.

Dari dalam, tampak didepan kost jalan masih basah dengan genangan air yang menyerbu langit sore tadi. Ntah karna cuaca yang sejuk atau apa, tiba-tiba lamunanku berubah menjadi melankolis. Pikiran itu menyerang dan menusuk hati hingga membuatku menarik nafas panjang dan memejamkan mata. Wajah itu.. dengan jilbab yang menutupi rambut, mata yang tajam, kedua pipinya penuh, yang jika dipandang dari dekat maka akan tampak sosok gabungan antara Dian Sastro dan Nabilah jkt48 (oke sipp, ini lebayy).

Aku masih ingat, disebuah acara OPAK, Tuhan berhasil mempertemukanku dengan dirimu. Sungguh pertemuan yang tak bisa terlupakan. Begitu membekas, dan masih terus membayang hingga sekarang.
Entah mengapa aku benar-benar telah jatuh cinta pada dirimu, aku tak tau apa alasannya. Aahh, bukankah cinta memang tidak butuh alasan?. Yang pasti aku bertemu, bercengkrama, berdebat, hingga akhirnya aku jatuh cinta padamu. Einstan sangat benar dalam hal ini. Ternyata waaktu begitu sangat cepat berlalu.

Dan seperti layaknya tokoh protagonis dalam serial drama korea, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku ini. sungguh, sangat ingin. Menahan diri untuk tidak menyatakan cinta padamu rasanya seperti menahan rokok sehabis makan. Sulit sekali.

Kemudian, suatu waktu, aku mencoba mengutarakan perasaan. Tapi sayang, meski betapa kuatnya kau mengetahaui kedalaman cintaku, kau tetap tidak bisa menerimaku. Sikapmu yang diam disertai dengan tetesan air mata, kuanggap sebagai penoakan halus. Ketika itu, aku sadar, mungkin kau masih kurang stres untuk bisa menerima lelaki seperti aku.

Setelah penolakan itu, beberapa kali aku terus mencoba yang pada akhirnya usahaku berbuah hasil. Cintaku diterima. Meski dalam hanya sekitar 6-7 bulan aku harus kembali kepada gelap dan meceritakan kehilangan.

Perjalanan itu menyadarkanku bahwa mencintai adalah menerima, termasuk segala hal yang memberatkanku. Aku akan membawanya seringan kapas untuk bergerak, sebebas merpati untuk tidak saling mengikat. Yang penting ia tahu bahwa aku menunggunya, aku membutuhkannya. Didepanmu, aku hanya ingin mencinta tanpa perlu banyak janji. Berdua bahagia sewajar dan sesederhana mungkin, tumbuh dan berkembang bersama menikmati fase hidup yang terjalani. Itu bayangah kebahagiaanku dulu.

Namun kini, cerita beserta angan-angan itu sudah berlalu. Entah apa yang sedang kau kerjakan. Tapi yang pasti, kau pasti tidak sedang memikirkan cerita kita.
Perlahan kudengar kabar bahwa kau sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Tentu itu kabar yang menyakitkan. Namun layaknya jagoan, aku berusaha untuk tenang dan sok kuul. Kendati perasaanku remuk dan ragaku mengamuk.


Aah, Jika mencintaimu adalah sebuah dosa, sudah pasti akulah orang pertama yang masuk neraka.


(Kutulis setelah aku menlintasi kostmu)

Lihat Profil Dedy Ibmar

Kamis, 17 Maret 2016

Trik-Trik Melawan Patah Hati

Oleh: IkhsanYaqub


Siapa yang tidak pernah patah hati? Bagi anda yang pernah mengalaminya, pastinya pedih tak terkira, ya? Langit runtuh, bumi bergemuruh. Makan tak kenyang, tidur pun tak nyenyak. Padahal dulu, ketika cinta baru menyapa, ‘tai kucing pun rasa coklat'. “Ah, lebay lu,” ledek seorang teman.
Lantas, mengapa segalanya menjadi terbalik? Apakah cinta memang di atas segala-galanya? sehingga begitu kapal cinta itu kandas diterjang badai, kita pun seolah-olah ikut tenggelam dan karam bersamanya.
Bicara soal patah hati, menurut banyak teman saya, adalah hal yang paling mengerikan di dunia. Coba, hitung saja alasan-alasan bunuh diri yang banyak diberitakan. “Ngga mau lagi deh, pokoknya lebih serem dari Zika (Virus yang sedang mewabah di Amerika Latin)”, keluh seorang teman.
Terus bagaimana agar kita tak terjangkit penyakit itu?  Begitu pasti anda bertanya. Dibawah ini adalah trik-trik yang saya tuliskan dari berbagai nasihat teman-teman saya, ketika saya terjangkit penyakit itu beberapa bulan lalu.
Trik pertama adalah, buatlah nominasi-nominasi (peringkat) ketika kita kesemsem dengan seseorang. “Maksudnya,” kata teman saya, “jangan sekali-kali suka dengan satu orang saja, sampai kita buta bahwa, diluar sana, ada banyak orang yang lebih baik dan hebat darinya.” “Tapi cinta ‘kan emang buta!” bantah teman yang lain.
“Soalnya,” lanjut teman saya menggurui”, “kalau kita tidak punya cadangan, kita akan kelimpungan sendiri. Kalau pakai nominasi begini kan asyik. Nominasi pertama gagal, tinggalkan saja, ganti nominasi kedua. Nominasi kedua mulai lapar (baca: ‘aneh-aneh'), ya ganti lagi. Ganti. Begitu seterusnya. Sampai puluhan nominasi pun tidak masalah, yang penting dunia persilatan aman, kan?” Tapi perlu digarisbawahi, jangan sampai orang yang dinominasikan itu tahu. Sebab kalau ‘beliau-beliau’ ini sampai tahu, wah, anda tahu sendiri lah akibatnya.
Trik yang kedua, curahkan setengah saja hatimu padanya. Dengan demikian, apabila gagal, kita masih punya setengah lagi untuk ‘ancang-ancang’ lagi. “Jatuh cinta ‘kan ibarat makan duren; kebanyakan mabok, kurang melongok,” seloroh seorang teman di tempat lain.
Ini penting, terutama bagi kaum hawa. Karena dalam mainstreem masyarakat patriarki seperti Indonesia, “Cewek kalau sudah bekas, harganya berkurang. Cewek ‘kan dinilai dari masa lalunya. Cowok mah enak, dinilai dari masa depannya. Jadi, sebobrok-bobroknya cowok, kalau dia anggota DPR, atau aktor bergelar ‘rising star', misalnya, yah, hapus sudah masa lalunya, sehitam apapun”, tutur seorang teman perempuan yang juga aktifis gender.
Jadi, meski anda sudah betul-betul falling in love, jangan lantas anda merelakan segalanya, bulat-bulat, buat dia. Ingat, mau seromantis apapun ‘modusnya’, tetap saja hanya omongan dan gaya belaka. Karena tidak ada hukum yang mengikat (pernikahan). Banyak omong dan gaya tidak banyak membantu, ‘kan?
Trik yang ketiga adalah, percaya dan yakinlah pada pameo lama: ‘lebih baik dicintai daripada mencintai', kata orang sih, itu juga kalau anda mau cari aman banget. “Mencintai ‘kan pekerjaan penuh resiko. Jadi kalau tidak mau resiko yang ‘jleb’ itu (baca: ‘patah hati'), ya sudah, nikmati saya ‘sajian’ (baca: ‘cinta’) yang sudah ada,” canda teman saya sambil terbahak. Terkecuali bagi anda yang mempunyai prinsip: ‘Tak ada rotan akar pun ngga usah sekalian'.
Nah, inilah trik pamungkas. Yakinlah bahwa jodoh itu ditangan Tuhan. Jadi jangan takut ngga kebagian, deh. Usahakan, namun hasilnya pasrahkan saja. Tidak ada betul-betul tahu dan mampu mengendalikan masa depan, bukan? Bahkan tidak ada manusia yang tahu sampai mana batas kemampuannya sendiri. Paling-paling kita hanya bisa ber-angan, berusaha, minimal berjanji lah.
Nah buat anda yang sudah/sedang patah hati, jangan mau terkena penyakit ini lagi. Sibukkan diri anda dengan hal-hal yang produktif, karena, mengutip Richard Brodie dalam bukunya ‘Virus of the Mind': “Hidup bukan hanya untuk makan dan berkembang biak saja.


Lihat Profil: Ikhsan Yaqub

Rabu, 16 Maret 2016

(Sementara) Cintamu Terlarang

Oleh : Dani Ramdhany**



Baiklah, setelah sekian lama saya bungkam tentang hiruk-pikuk narasi kehidupan ini, akhirnya mau tak mau, risalah sederhana ini harus jua aku tulis, meski dalam keadaan berat hati. Yak maklumlah, nasib mahasiswa injurytime.


Tentu risalah ini tidak bicara tentang wacana teologi, filsafat, tarikh, fiqh, ataupun tasawuf, melainkan tentang hubungan dua insan yang mengundang kontroversi dan kegaduhan di ruang publik.

Pada dasarnya, tidak ada larangan seseorang untuk menyukai objek apapun yang ada di semesta ini. Seumpama seseorang menyukai benda-benda tertentu, laki-laki menyukai perempuan, perempuan menyukai perempuan, dan begitupun sebaliknya. 

Hal demikian berdasar atas satu alasan bahwa rasa 'suka' atau 'cinta' merupakan anugrah Tuhan yang hadir begitu saja, tanpa ada paksaan.Seorang ibu mencintai anaknya, seorang buruh mencintai majikannya, kawan seperjuangan saling mencintai, dan bahkan kecintaan Nabi Ya'kub terhadap Yusuf melebihi kecintaannya terhadap sebelas anaknya yang lain adalah hal yang lumrah dan wajar.

Namun bagaimana dengan kasus Lesbian dan Gay yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan oleh khalayak umum.

Jika Lesbian dan Gay diartikan sebagai ketertarikan manusia kepada sesama jenis, maka tidak ada masalah serius terkait hal tersebut. Mengacu pada prinsip dasar tadi bahwa pada dasarnya manusia berhak mencintai siapapun dan apapun.

Namun, jika Lesbian dan Gay diartikan lebih dari itu, misal, setelah satu sama lain saling suka dan mencintai, kemudian mereka berhubungan seks untuk menyalurkan hasrat dalam jiwanya, maka disitulah masalah serius hadir.

Pertama, jangankan laki-laki ke laki-laki atau perempuan ke perempuan, yang 'normal' saja antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berhubungan seksual jika belum disahkan dalam ritual pernikahan.

Baik secara adat, agama, maupun hukum positif, seorang laki-laki diperbolehkan untuk menggauli perempuan jika antara keduanya sudah melakukan ijab-qabul pernikahan. Jika tidak demikian, maka yang ada adalah perbuatan zina dan melawan hukum.

Kedua, di Indonesia belum ada satu hukum yang dapat dijadikan acuan untuk para Lesbian dan Gay. Selama ini hukum yang mengatur perkawinan mengacu pada Undang-undang nomor 1 tahun 1974. Dan itu khusus perkawinan antara laki-laki dan perempuan.

Artinya, laki-laki tak dapat menikah dengan sejenisnya, begitupun dengan perempuan. Mengingat bahwa Indonesia adalah negara hukum, maka setiap apapun harus diatur dan dilakukan berdasarkan hukum yang berlaku, termasuk prihal Lesbian dan Gay.Bagi anda yang ditakdirkan untuk menjadi Lesbian atau Gay, bersyukurlah. Karena hal itu adalah anugerah Tuhan yang sangat langka. Jika anda ingin melakukan sesuatu hal yang melampaui batas kewajaran seseorang yang mencinta, 'puasa' dan bersabarlah. Karena jika tidak bersabar, malapetaka dan cibiran orang akan menghantam.

Jika eksistensi dan popularitas yang kau kejar, terlalu besar pengorbanan hidup jika sekiranya harus menjadi Lesbian ataupun Gay.

Untuk sementara, di sini dan untuk saat ini, (maaf) cintamu terlarang.

Lihat Profil: Dani Ramdhany

Selasa, 15 Maret 2016

Besment Ushuluddin dan Para Pencari Inspirasi

Oleh: Dedy Ibmar**



Sulit bagi saya untuk tidak menyertakan Basement Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah sebagai spirit of human being. Saya jatuh cinta pada tempat ini karena pada beberapa derajat, ia jauh lebih mendewasakan dan mencerdaskan daripada apa yang dilakukan Pak Rektor kepada saya.

Mungkin basement adalah ibu saya yang lain. Berkali-kali dibuat jatuh cinta, dibuat marah, dibuat patah hati, berkali-kali juga saya dibuat tak berdaya dan bersimpuh diam ketika dunia sudah kepalang brengsek.

Di basement itu saya menemukan terlalu banyak alasan untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Tentang bagaimana tempat ini memejalkan keinginan membaca saya pada titik paling tinggi, juga tentang bagaimana di tempat ini saya menemukan manusia-manusia getir yang begitu optimis menjalani hidup. Lebih dari itu, tempat ini adalah tempat dimana setiap kenangan bermuara hingga berujung haru.

Tentu saja terlalu banyak hal sentimentil yang bisa kita gali dari basementUshuluddin. Seperti kehilangan pacar, teman, rokok, kopi atau bahkan kehilangan akal sehat karena mengganggu latihan organisasi paduan suara kampus.

Tapi yang membuat basement Ushuluddin jadi istimewa, selain kopi, rokok atau gorengan adalah sesuatu yang menyangkut perasaan. Ya.. Itu cinta. Basement adalah tempat yang banyak mempertemukan dua hati. Ia adalah saksi dari sekian banyak kisah percintaan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ada banyak alasan mengapa mereka yang sudah berkarat di kampus susah untuk tidak nongkrong di pojokan basement itu. Basement itu terlalu banyak memiliki sudut-sudut melankolis yang menjadi kediaman kisah cinta yang putus baik karena berpisah maupun menikah. Ini saintifik, ilmiah. Jika tak percaya, coba tanyakan teman, rekan, senior yang pernah punya hubungan percintaan di pojokan basementushuluddin itu.

Pernahkah kalian merasakan senja yang beranjak roboh (meskipun tak terlihat karna ditutupi tujuh lantai gedung Ushuluddin) sambil mendengarkan azan magrib di pojokan basement itu? Mendiskusikan logika (mantik) seraya menikmati sejuk sore dengan corat-coret lantai? Bermuka pucat karena tak tidur semalaman hanya untuk memandang perempuan pujaan masuk ke ruang kelas? Aah, mungkin itu hanya saya.

Bagi saya, basement itu seperti kesadaran, ia menjadi penting bagi banyak orang karena membuat tiap-tiap yang nongkrong punya rasa memiliki yang kuat. Buktinya, entah siapa yang punya kopi, tetap akan diminum dengan muka polos dan tak bersalah. Basement juga bisa disebut sebagai pengorbanan, karena di tempat ini kamu dipaksa menerima fakta keji yang demikian pahit, bahwa sahabat terbaikmu menjadi pengkhianat karena telah menikungmu dari belakang.

Di basement itu pula kalian dapat belajar bahwa uang bukan segalanya, mungkin ia bisa memberimu banyak hal. Tapi di tempat ini, kebersamaan dan keberadaan teman yang selow, kurang piknik dan punya energi ceng-cengan yang melimpah-ruah adalah alasan untuk tetap hidup. Di tempat ini kalian akan menemukan keriangan-keriangan goblok, tolol, namun dibungkus dengan bahasa kefilsafatan yang akademis. Meskipun hal itu berlangsung monoton (itu-itu doang) namun sama sekali tak mengurangi kadar serta kualitas kelucuannya.

Di basement itu kalian akan merasakan bahwa menjadi bodoh dan tak tahu apa-apa bukanlah pilihan. Di tempat ini terlalu banyak sumber pengetahuan yang membuat orang paling goblok, setidaknya bisa memahami hidup dengan membaca, berdiskusi atau sekadar kursus singkat dari para pencari inspirasi.

Sekiranya, makna-makna itulah yang mungkin tak dapat dijangkau oleh kalian “Dede Rosyada and The Geng”. Kebanyakan anda-anda semua hanya melihat basementsebagai tempat kotor dan kumuh yang hanya layak diinjak-injak untuk dilewati. Larangan merokok serta lulus lima tahun merupakan sebagian kebijakan yang membuat mahasiswa mengurangi jadwal nongkrongnya. Bahkan yang lebih parah,basement sebagai tempat nongkrong penuh cerita itu saat ini telah dibentuk menjadi ruang-ruang yang tak begitu jelas.

Khusus untuk Pak Rektor Dede Rosyada tercinta, sekali-kali bapak benar-benar harus nongkrong di basement fakultas-fakultas, khususnya di Fakultas Ushuluddin yang semoga tidak akan bernasib sama dengan Basement Fakultas Dakwah yang kini sudah beralih fungsi. Dengan begitu, saya haq al yaqin bapak pasti akan merasakan sensasi seperti yang saya katakan di atas. Santai pak, nongkrong di basement nggakbakal digerebek teroris kaya di Starbucknggak bakal ditabrak Lamborgini, nggakmengandung Sianida juga pak. Semuanya aman. #RektorAyoNongkrong


Senin, 14 Maret 2016

Inilah Lima Jomblo kelas atas di Ushuluddin


Menjadi jomblo adalah perkara tersulit yang ada dalam kehidupan. Tidak ada yang mudah dengan menjomblo. Selain pranata sosial, tekanan keluarga dan kesunyian, menjadi jomblo juga selalu mengalami tekanan psikologis dari hari-kehari.

Nahh buat kalian mahasiswi UIN, ada kabar gembira yang akan saya jelaskan di sini. Untuk sementara lupakan hayalan-hayalan kalian mengenai Nicholas Saputra atau Ariel Noah. Kini PIUSH memiliki rekomendasi jodoh untuk kalian semua. 

Setelah melalui seleksi yang ketat, lebih ketat daripada seleksi lomba penyanyi berbakat yang ada ditelevisi, bekerja sama dengan Lembaga Survey Jomblo Indonesia, Maka PIUSH dengan bangga mempersembahkan lima jomblo berkualitas tinggi untuk anda dekati. Ingat, dekati saja, jangan dipacari. Biarkan mereka tetap sendiri agar tetap menjadi filsuf atau sufi.

5. Solihin (Anu)
Solihin Anu adalah Mahasiswa semester 4 yang paling berbakat di Aqidah Filsafat, Ushuluddin, UIN Jakarta. Ia dikenal dengan nama panggung "Anu". layaknya Mahasiswa Filsafat yang lain, Anu cukup idealis dalam hal percintaan. Ia tidak akan mau mengejar seorang gadis, kecuali gadis itu sendiri yang mendatanginya. Tapi mau sampai kapan Anu ?? aahh sudahlah.

Sebagai pemuda harapan entah siapa, Anu telah berjasa besar dalam menghidupkan kajian pojok inspirasi ushuluddin (PIUSH). Bisa dihubungi dibesment ushul.

4. Edi Marwoto
Jomblo kita yang satu ini adalah gabungan filsuf mahsyur Schopenhauer dan Basiyo. Tercatat sebagai mahasiswa perbandingan agama yang jarang masuk kuliah hingga sekarang.

Edi merupakan sosok yang santai dan periang. Gosip yang beredar, sangking frustasi dengan kejombloannya ia bahkan rela berpacaran dengan leptop yang selalu ditentengnya. Edi Bisa dihubungi di besment ushul.

3. Muhammad Hamiem
Pria yang asal Rembang Jawa tengah ini, memiliki semboyan, "sombonglah selama Tuhan tidak melihat". Lantas pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan kepada Hamim, apa yang bisa disombongkan ? Hidup dalam kesunyian dan kesepian ??

Tercatat masih menjadi Mahasiswa Tafsir Hadis semester 6. Hamim, begitu ia disapa, dikenal menguasai par excellencestudi Alquran, Hadist, dan Filsafat. Dengan wajah yang jika diperhatikan kadar usianya melebihi Nabi Adam, sudah barang tentu Hamim punya kualitas idola.

Jika Anda tertarik untuk berbincang perihal pahitnya kehidupan, Anda bisa menghubunginya di besment ushul.

2. Mohammad Faqih
Tanyakan pada jagat mahasiswa seluruh kampus UIN, Jakarta, siapa Muhammad Faqih. Niscaya anda akan menemukan seorang sosok Marxist yang kaffah nan zuhud.

Faqih adalah salah seorang Aktifis Gerakan yang konsisten menyendiri dan menyendiri. Seluruh rekan-rekannya mengetahui kisah pahit drama percintaannya yang tak menegenal kata "Sampai". Bahkan faqih sukses menjadi "icon" perjombloan di Ushuluddin. Suatu prestasi yang luar biasa tentunya.

Jika "Syarukh khan" dalam film "Jab tak hai jan" berhasil menanti cintanya dalam puluhan tahun, faqih jauh melampaui itu pastinya.

Secara khusus Mahasiswa Tafsir Hadis ini memiliki darah biru dari Bekasi yang jika ditelusuri akan nyambung hingga nabi Adam. Anda bisa menghubungi beliau di besment ushul.

1. Ubaidillah
Dan inilah dia, sosok yang dianggap melampaui jomblo yang lain. Ia adalah ubaidillah atau yang biasa disapa Ubed.

Dikenal berwajah layaknya "boyband", Ubed selalu mengakrabi  kesunyian. Apakah karena memang tidak terlihat? Entahlah. Tapi dari beberapa sumber terpercaya, konon Ubed sedang mengejar cinta ala tirakat khusus yang telah mencapai taraf makrifat seorang sufi.

Mahasiswa Tafsir Gadis ini gemar menonton film drama Korea. Maka wajar saja, apabila ia hingga sekarang selalu bermimpi menjadi "Lee Min Ho"nya Ushuluddin. Silahkan sapa ubed di besment ushul.


D.I



Sabtu, 25 Oktober 2014

Surat Untuk Yang Ada di Sana


Untukmu yang ada di atas sana semoga dalam keadaan sehat walafiat. Teruntuk yang termanis dan tetap tersenyum di sore hari menanti senja.
Semoga senyumanmu masih seperti yang dulu tetap utuh. Senja pun menanti malam  hanyalah senyuman manis yang kau torehkan saat itu. Semoga senyuman itu bisa menjadi penyegar bunga yang sedang layu dan sekaligus menjadi penyejuk hati di sore hari yang menyambut senja.
Kali ini aku yang katanya di sebut-sebut  sebagai aktivis jalan harus bergelut dengan suara hati yang bising di dengar dan geram untuk di ucapkan yaitu kata "Cinta-buta" dalam lingkaran aktivis Jalanan, bahasa cinta buta itu di larang, dan bahkan harus di hilangkan karena bahasa tersebut "Kontra Revolusioner" namun apa hendak di kata jika ini sudah menjadi kemestian.
Biarkan rasa sayang ini tertanam abadi, di dalam hati nurani, biarkan rasa ingin memiliki dan menyayangimu ini tetap bersemayam di dalam lubuk hati yang paling dalam, biarkan semuanya mengalir seperti air yang terus menempati ruang-ruang kosong, dan biarkan rasa sayang ini menemukan makna yang sebenarnya. Yaitu makna untuk saling menyayangi satu sama lain "antara aku dan kamu".
Sunyinya malam ini melahirkan kerinduan yang begitu dalam seolah malam ini tidak ada bermakna dan tidak ada artinya jika kamu tidak berada di sampingku manisku. Apakah engkau merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini. ?
Seandainya malam yang begitu sunyi ini dapat berbicara mungkin kesunyian malam ini akan berontak dan berkata bahwa "aku merindukanmu dan aku ingin selalu di sampingmu manisku" namun apalah daya kesunyian ini tidaklah mengerti tentang apa yang ku rasakan saat ini. Dan biarkan kerinduan ini menemukan maknanya sendiri.
Senyumanmu yang begitu manis dan  mampuh mengubah rasa kopi pait menjadi manis, wajahmu yang begitu anggun yang selalu memancarkan cahaya untuk menerangi gelap, dan suaramu yang selalu menjadi pengantar takutku ketika aku sendirian, parasmu yang begitu tenang yang selalu menjadi penyejuk hatiku di saat aku risau.
apakah kau tidak tau jika aku sangat "Menyayangimu" apakah kau tidak tau jika aku sangat "Merindukanmu" apakah engkau tidak tau jika aku ingin memilikimu seutuhnya ? Apakah aku harus membangunkan arwah soekarno agar engkau mengerti tentang apa yang aku rasakan saat ini?.
Apakah aku harus membangkitkan semangat Tan-Malaka untuk meruntuhkan hatimu yang keras itu, atau aku harus pergi ke kayangan untuk meruntuhkan dewa-dewa yang ada di sana dan apakah aku harus meyakinkan pada dewa-dewa yang ada di kayangan sana bahwa "Aku menyayangimu dan Aku ingin memilikimu seutuhnya" ? Agar hatimu itu bisa runtuh.
Aku selalu menggantungkan harapan kepada Tuhan semoga alam jagat raya ini bisa mengerti dan paham bahwa aku sangat menyayangimu. Maka dengan mengucapkan Bismillah Izinkanlah aku meruntuhkan hatimu.
Coretan ini saya persembahkan untuk wanita yang paling istimewa dia adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam, dan Mahasiswa Perbandingan Agama.
Ciputat, 23 oktober 2014.
Deni Iskandar (Goler)

Jumat, 27 Desember 2013

Konsep cinta dalam perspektif Matrealisme, Dialektis

Konsep cinta dalam perspektif Matrealisme, Dialektis
Oleh: Marx_Goler
@DheniGholler

   A.    Pendahuluan
Matrealisme dialektis, matrealisme historis, maupun matrealisme dialektika historis  merupakan gagasanbesar karl marx. Di kalangan civitas akademika nama marx saya kira sudah tidak asing lagi, karl marx yang muncul pada abad ke 19 merupakan seorang filosof, ekonom dan juga sosiolog, gagasan-gagasannya sangatlah banyak di adopsi oleh berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Dalam disiplin ilmu ekonomi misalnya karl mark berbicara mengenai pertentangan kelas, antara kaum borjuis, feodal, dan ploletar yang memang ketiga kategori ini memiliki kadar yang berbeda.
Begitupun dalam disiplin ilmu filsafat karl marx menganut aliran matrealisme yang memang menjadikan materi sebagai landasan utama jika dalam filsafat ini di kategorikan empirisme, dalam disiplin ilmu sosiologi marx berbicara mengenai perbedaan antar kelas yang nantinya menjadi sebuah pertentangan kelas dan dari pertentangan kelas ini berakhir pada Revolusi.
Namun dari ketiga disiplin ilmu itu semuanya berawal dari pemikirannya mengenai Matrealisme, Dialektika, Historis. Meskipun gagasan marx ini sangatlah brilian baik mengenai Revolusi tetapi marx sendiri hanyalah konseptor. Justru yang menjalankan adalah Vladimier Ilyic Uliyanov yang akrab di sapa lenin yang pada akhirnya buah pemikiran marx pun dapat membumi.

B.     Pembahasan
            Dalam aliran filsafat terdapat dua kubu besar yaitu: idealisme dan matrealisme, kedua kubu ini memiliki akar yang ajeg dan dalam tradisi filsafat di jadikan sebagai ideologi yang di bumikan. Plato dan Hegel misalnya yang memang keduanya ini di juluki sebagai bapak filsafat yang beraliran idealisme telah mempengaruhi banyak orang, tak kalah hebatnya dengan kalr marx, dan lenin yang sama-sama menjungjung tinggi paham filsafat yang bercorak matrealisme yang sempat mendapatkan masa keemasannya di era abad ke 20 dengan terbentuknya.

negara unisoviet yang memiliki sistem komunisme meskipun demikian dalam hal ini karl marx tidak bisa di kategorikan sebagai marxisme maupun berideologi komunis, dan seandainya kal marx masih hidup saat ini mungkin dia akan marah dan akan membanting meja ketika dia di katakan seorang komunis ataupun marxis, karl marx sendiri adalah orang yang memiliki ideologi sosialisme ilmiah, adapun yang menjadikannya sebagai ideologi komunis adalah Vladimier Ilyic Uliyanov yang di sapa lenin. Dan itupun berangkat dari landasan pemikiran kalr marx (Matrealisme, Dialektika, Historis) yang di tafsirkan ulang oleh bung lenin sendiri.
Dalam hal ini saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai perjalanan dialektika pemikiran matrealisme dialektika Histori karl marx dengan lenin. Karena pembicaraan ini bukan pada wilayah itu tetapi pada wilayah “cinta” dalam konsep Matrealisme, Dialektisnya.
a.      Konsepidealisme
Filsafat yang beraliran idealisme pada dasarnya berangkat dari kesadaran/ rasionalitas yang menjadikan sebuah materi, hingga dari kesadaranlah suatu materi itu terjadi. Dalam aliran idealisme rasionalitas yang di nomor satukan bukan materi, karena terbentuknya suatu materi merupakan hasil dari rasionalitas yang terus berdialektika misalnya: rasa cinta seseorang dapat di ukur dengan sifat kemanusiaannya, rasa cinta itu ada sebelum manusia terlahir kedunia sebagaimana halnya Plato membagi dua realitas yaitu: realitas idea dengan realitas materi bagi plato yang abadi adalah realitas idea bukan realitas materi, kemudian Hegel menyempurnakan idea menjadi sebuah kekuatan atau dasar bagi terciptanya sesuatu sebagai keabsoutan. Sehingga rasa cinta merupakan suatu kesadaran manusia sebelum materi itu ada.
Ada sebuah kisah tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta kepada seorang wanita, yang wajahnya cantik, imut, senyumannya manis, suaranya bagaikan permata yang menghiasi mahkota, berjalanlah wanita itu dari arah aic ke kohati dengan langkah yang kalem.
Kemudian laki-laki itu berjalan dari arah timur dengan langkah yang serudukan memegang sebatang roko sambil di hisap berambut gondrong, dekil dan celana bolong di dengkul.
Wanita itu pun melemparkan senyuman manisnya kepada laki-laki yang dekil, gondng itu,
Begitupu dengan laki-laki itu yang senyum dengan wajah malu-malu kucing, semakin mendekat, mendekat, dan mendekat hingga pada akhirnya suara sapaan pun berbunyi.
Wanita : abang dari mana ?
Laki2: dari kampus. Kamu dari mana ? dan wanita itu menjawab dengan nada yang lembut
Wanita: aku dari cabang bang, abis diskusi kesetaraan gender sambil ketemu abang aku di cabang,
Laki2: oh, mantaplah, bagus itu, emang abang kamu orang cabang yahh,,
Obrolan pun semakin memanjang. Hingga pada akhirnya obrolanpun terhenti oleh waktu, yang kurang bersahabat,,
Laki2: iya udah abang pulang dulu ea soalnya abang di tungguin senior abang di markas,,
Wanita: ohhh iya bang hati-hati yaa bang, dan wanita itu pun masuk dan menutup pintu kostannya dengan perlahan,,,,
Laki2” itu pun pergi ke markas,, dengan wajah tersenyum dan hati yang berbunga2 meskipun belum bertemu dengan sesuap nasi dari kemarin.
Dari kisah tadi dapat kita ambil mengenai kesadaran yang membentuk materi yaitu: kata manis, cantik, imut, dan sebagainya itu hadir dari realitas idea bukan materi karena yang membentuk realitas cantik, manis, imut dan lain-lain itu adalah kesadaran bukan materi. Kenapa demikian karena cantik, manis, imut itu memiliki realitas yang absolut (Hegel) atau realitas abadi (plato), yaitu: ke cantik an, ke manis an, ke imut an dll.
Maka rasa “cinta” dalam pemikiran filsafat aliran ini berasal dari kesadaran manusia yang membentuk realitas materi itu. (wujud wanita).
b.      Konsepmatrealisme
Berbeda halnya dalam pemahaman filsafat yang beraliran matrealisme, aliran ini menganggap bahwa segala realitas yang nyata ini adalah materi. Maka paham ini menolak bahkan membantah habis-habisan paham idealisme, yang engatakan “ realitas yang nyata adalah kesadaran/ idea” bagi aliran matrealisme bukan “kesadaran manusia yang menciptakan realitas tetapi materi lah yang membentuk kesadaran manusia. Aliran matrealisme menjadikan “materi” sebagai ukuran nomor satu setelah kesadaran. Dan dialektika pemikiran kedua filosof ini bagi Marx Goler sah-sah saja karena keduanya memiliki argumentasi yang cukup kuat.
Pemahaman karl mark mengenai realitas yang nyata adalah materi sebenarnya berangkat dari konsep dialektika yang di ucapka oleh hegel yaitu triadik: tesis, sintesis, dan antitesis. Namun marx mengubah itu dalam kategori materi tetapi menggunakan konsep yang sama yaitu konsep dialektika (triadik): tesis, sintesis, dan antitesis. “materi selalu memiliki sifat gerak, gerak itu sendiri terwujud karena hukum dialektika, begitupun dialektika bergerak karena di dalamnya mengalami kontradiksi-kontradiksi, kontradiksi-kontradiksi itu merupakan dari pengembangan dialektika” dalam pemaham ini dapat kita ambil contoh misalnya: wanita-wanita yang ada di fakultas Adab&Humaniora itu cantik-cantik (tesis) wanita-wanita yang tinggal di kohati itu yang lebih cantik (antitesis) setiap wanita itu baik di fakultas adab maupun di kohati itu cantik (sintesis).
Bagi aliran ini bahasa cantik itu merupakan pengembangan dari materi. Kita dapat mengatakan wanita itu lebih cantik dari pada wanita-wanita lainnya, itu karena pengindraan kita mengenai cantik itu sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering di benturkan dengan realitas yang memang bersifat relatif, kita dapat mengatakan wanita (B) itu cantik, kita dapat mengucapkan kata cantik kepada wanita (C-K) itu cantik, bahkan kita dapat mengatakan wanita (L#) itu lebih cantik dari pada wanita (B) dan (C-K) itu karena pengembangan dari materi artinya pengindraan kita terhadap wanita-wanita cantik yang pernah kita temui.
Begitupun dalam hal “cinta” tidak salah ketika orang mengatakan bahwa cinta itu anugrah, musibah, ataupun wabah, pengandaian seperti itu merupakan pengembangan dari materi yang di hasilkan oleh dialektika yang memiliki konsep triadik tadi yang sudah saya jelaskan tadi.

Bagi Orang yang di tolak cintanya mengatakan bahwasannya “cinta” itu adalah wabah, bagi orang yang tidak kesampaian cintanya karena sang wanitanya mendua dengan yang lain itu musibah, begitupun dengan orang yang di terima cintanya itu anugrah.
Nah pengandaian yang seperti itu merupakan pengembangan dari materi dan itu di hasilkan dari proses dialektika tadi dengan menghadirkan tesis, antitesis, dan sintesis.  Dari mana cinta rasa cinta itu muncul ? kesadaran ataukan materi ? bagi saya itu muncul karena realitas material.
Rasa cinta tidak akan muncul jika seandainya wanita itu tidak ada, rasa cinta itu akan muncul ketika kita melihat wanita yang kita sukai dan itu sesuai dengan keinginan kita sendiri. Tentunya munculnya itu karena pengindraan kita kepada materi (wanita) sehingga kesadaran kita pun terkonstruk oleh materi yang kita indra yang di hasilkan oleh dialektika. Kita merasa tidak cocok dengan (B-k) kemudian kita merasa cocok dengan(L#) kecocokan itu di hasilkan dari dialektika yang berpusat pada materi.

Tulisan ini saya persembahkan untuk yang ada di sana dan senior saya yang paling saya kagumi, yang mendidik saya, dan mendorong saya agar suka membaca, diskusi, dan bertempur di dunia pena (tulisan).

Dan untuk orang-orang yang sedang bingung, melayang-layang seperti orang yang ingin mati hari ini. Jika memang tulisan ini menghasilkan kontroversi maka saya sangat senang dengan pembantahan atau kritikan lewat buah pemikiran dan tertuang dalam pertempuran pena (tulisan).

Minggu, 09 Juni 2013

Menyoal Selingkuh


MENYOAL SELINGKUH
oleh Ramdhany
 
Ada istilah yang menyatakan bahwa selingkuh itu indah. apakah nyatanya seperti itu? jawabannya bisa ya, ataupun sebaliknya. tapi sebelum kita memberi kepastian jawaban dari pertanyaan tersebut, tidak ada salahnya sejenak kita uraikan pemahaman kita tentang selingkuh itu apa.
  
Seseorang dapat dikatakan “selingkuh” apabila ia sudah dipastikan memiliki hubungan terhadap pasangan yang sah, baik secara de jure maupun secara de facto. Artinya, tidak akan dikatakan selingkuh apabila seseorang tersebut tidak memiliki ikatan apapun terhadap sesuatu (alias : jomblo).

Seperti halnya orang menikah atau pacaran, selingkuh kerap terjadi dan rentan dilakukan oleh salah satu dari kedua pasangan yang sebelumnya sudah membuat suatu komitment. komitment awal menjadi sebuah legitimasi atas sah atau tidaknya suatu hubungan.

Menyimpang dari komitment awal dan melakukan komitmen kepada pihak yang lain dan itu disetarakan dengan pihak awal mungkin itu bisa menjadi definisi sederhana dari selingkuh. kesetaraan antara pasangan awal dengan yang berikutnya menjadikan pusat perhatian sang pelaku menjadi mendua. selingkuh dapat diartikan juga sebagai “kemenduaan” kerhadap sesuatu.

Idealnya, kita harus menggantungkan komitment kepada sesuatu yang tunggal, bukan dua atau tiga dan seterusnya. Konsep tersebut dapat terpahami dalam aspek teologis ketika menyoal monoteisme dan politeisme.

Ada tiga pihak yang terlibat dalam perselingkuhan, yang berselingkuh, yang diselingkuhi dan yang diselingkuhkan.

Penulis bisa menspekulasikan bahwa tidak ada satupun dari salah satu pasangan yang mau di selingkuhkan. kecenderungan orang lebih suka menjadi subjek-pelaku dari peristiwa perselingkuhan. Berselingkuh itu memalingkan diri kepada yang lain, tapi masih memiliki ikatan yang sah dengan yang pertama. Maka wajar saja jika pasangan yang diselingkuhkan marah dan memiliki rasa cemburu yang amat mendalam.

Pantaskan dan pastikan bahwa kita benar-benar komitment terhadap sesuatu yang tunggal, tidak mendua ataupun mentiga. wallahu a`lam

Kamis, 17 November 2011

Surat Untuk Bunga tasik (Evi sayang) yang di tulis oleh Har'z pada Musim semi pertama di negeri Penyair yang berdebu

oleh Penyair Muda Yang Gelisah pada 17 November 2011 jam 21:00
Surat – 1
                                                                                                                                                                                         
Evin Bunga Tasik
Di negeri yang datar ini banyak kutemukan tulisan terlahir dari kegelisahan hati penyair. Seperti sajak, puisi, artikel, esai, bahkan opini, yang terbang melewati Media Kompas. Dan aku membacanya dengan nikmat sambil menulis keresahan dari usia. Senyummu mengingatkan aku pada malam yang berdebu. Di saat aku menulis surat sambil meraba detak jantung yang hampir hilang digamang musim—perempuan.

Sajak yang kutulis ini. Adalah remahan kegelisahan, di saat aku membayangkanmu  datang pada musim semi pertama. Dingin menghampiriku, sepi mencikal jiwaku. Kabut-kabut airmata turun dengan perlahan membasahi bumi. Aku pun dilelap sajak pada mimpi yang aksa akan sebersit keindahan. Di negeri penyair yang datar ini. Sesiur angin yang selalu menyapu lekat di dinding rumahku—mengasingkan separuh jiwaku pada puisi yang sulit kuterjemahkan menjadi makna akan hadirmu.

Pernahkah kau rasakan? Tentang “kelelahanku” air mataku yang selalu mengubur kesetiaan pada—kertas tanpa mengenal dentang waktu. hingga langit pun luruh, menapaki jalan setapak dari kesaksian cinta yang berwujud kearifan dalam hatinaya. Di situlah aku semakin akrab memaknai diri dari rasa sakit. Menghitung ruas jalan dari riuh derita, menggambar kematian. Dan merasakan keagungan cinta yang sering dilakukan para “Sufi” menari, hingga —Bionik. Aku pun mengawali hal yang sama untuk menuju ke hutan hatimu.

Sedikitpun. Kau tak pernah menulis opini kesetiannya, deritanya. Bahkan jalan takdir usianya yang perlahan diringkap—masa. Dimana orang-orang mulai ramai mengutuk dirinya dari kedudukan. bertuhan pada ‘uang’ tapi bagiku tidak! Aku—Bahitsah keagungan, sebagai tempat hati bertawaf kedamaian. Yaitu di hatimu. Aku melihat Firdauzi
Jakarta, 17 November 2011






Surat-2

Evi sayang 
Jika aku harus melupakanmu. Aku mesti menghapus semua puisi yang pernah ku tulis. Dan merubah takdir sendiri. Tapi semuanya terasa tak mungkin. Di jalan ini sudah lama aku meninggalkan jejak. Semenjak ‘Adam’ meninggalkan kabut keramaian tentang kutukan khuldi. Dan Hawa meninggalakan belahan gunung di perutmu. Aku harus menyisir buih yang bergelantungan di Lazuardi—hatimu. Meski ku taktahu setapak malam, rindu yang masih belum kukubur dari surat pertama. Surat yang ke dua mengantarkan aku pada alibi kata. Dimana orang mulai enggan melukis laut sebagai—Ibtihaj pencariannya.

.... Vin, kugambarkan engkau sebagai kitab-kitab bersahaja para raja. Yang banyak orang mencarinya. Dan aku pun ingin memetik makna darimu. Bila sudah waktunya tiba. Kau harus tahu.  aku tak ingin bertanya. Meski pertayaan menurut—Sokrates melahirkan kesempurnaan yang takkan meninggalkan kesejatiaanya. Tapi bagiku lain sayang... aku bukan sang pencari kebijaksanaan seperti orang-orang Atena. Aku mengagumimu. Bahkan mencintaimu. Karena kesejatian itu ada sebelum aku terpulas ke dunia, membawa potert perempuan.

Vin... nyatalah bagimu? Percayakah engkau? Pada—tastis yang kubangun dari lembah kesadaran. Jika, pernahkah engkau mengingat ketelanjangan sepinya? Atau membaca esai resahnya? Mengertikan—pragmen deritanya? Semua ini mestinya kau catat. Dijadikan dasar jalan pengetahuan yang agung. Dan aku pun takkan pernah berhenti menyuratimu. Selagi lidah masih bisa melahirkan kata. Dan lembar menerima bahasa. Itulah takdir keyakinanku.

Jakarta, 17 November 2011








Surat-3

Evin sayang
Aku berdosa pada seorang “wanita” yang melahirkanku, yang telah menitipkan hatinya padaku. jika aku tidak berani mengatakan isyarat hati. Karena hati bagiku adalah dewa yang selalu nampak kebenarannya. Dan dia lah yang membukakan pintu mataku untuk melihat ketenangan dunia. Meski beraneka ragam. Pernahkah kau dengar bahasa cinta yang telah dibisikkan Soe Hok Gie pada kematiannya. Hingga air mata jadi lautan para pembacanya... dan aku juga mengagumi sosok itu. Maka disaat kau mengatakan penyair........
Aku bukan penyair, seperti Gibran yang mampu meretakkan hati My Ziadah perempuan yang dicintainya. Dan aku bukan pelukis keindahan seperti Leonardo davinci. Melainkan yang kutulis adalah remahan kegelisahan, keterkejutan pada suatu kebenaran yang bisa di indra. Seperti kelahiran filsafat karena keheranan. Dan menjadi buah titian imaji. Aku pun sama melihatmu suatu kebenaran. Tapi bukan kebenaran yang di katakan—Rumi. Melihat Tuhan dalam tubuhmu... bukan! Bukan sayang... tapi aku adalah petualang. Lelaki berkalung langit, membangun rumah dari api. Dan aku pun tak pernah percaya pada takdir jika masih ada proses untuk memilikmu.

.... Vin, bunga tasik yang aku cintai. bukan pada wanita Mesir, bukan pada wanita Libanon. Tapi padamu yang kekal kugambar sampai kematian.  Malam ini kumasih duduk. Menghisap rokok, menikmati kopi seharum tubuhmu pagi hari di jalan itu. Jika selama ini diammu adalah  waban yang sempurna. Membuat aku tak memahami. Maka aku takkan pernah alfa mengirimkan surat padamu tentang perasaan. Tanpa kutitipkan pada siapa pun. Jika kau ingin melihat seberapa lama aku bertahan dengan dengan persaan ini. Kau takkan bisa menilai, walau dari angka, seperti Pythagoras yang mengatakan dunia ini tercipta dari bilangan-bilangan angka.  Karena cintaku padamu lebih besar dari dunia ini. Dan kelak kau akan tahu. Mengapa aku mencintaimu lebih dari diri sendiri?

Jakarta, 17 November 2011
 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube