BREAKING
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2016

Inilah Lima Jomblo kelas atas di Ushuluddin


Menjadi jomblo adalah perkara tersulit yang ada dalam kehidupan. Tidak ada yang mudah dengan menjomblo. Selain pranata sosial, tekanan keluarga dan kesunyian, menjadi jomblo juga selalu mengalami tekanan psikologis dari hari-kehari.

Nahh buat kalian mahasiswi UIN, ada kabar gembira yang akan saya jelaskan di sini. Untuk sementara lupakan hayalan-hayalan kalian mengenai Nicholas Saputra atau Ariel Noah. Kini PIUSH memiliki rekomendasi jodoh untuk kalian semua. 

Setelah melalui seleksi yang ketat, lebih ketat daripada seleksi lomba penyanyi berbakat yang ada ditelevisi, bekerja sama dengan Lembaga Survey Jomblo Indonesia, Maka PIUSH dengan bangga mempersembahkan lima jomblo berkualitas tinggi untuk anda dekati. Ingat, dekati saja, jangan dipacari. Biarkan mereka tetap sendiri agar tetap menjadi filsuf atau sufi.

5. Solihin (Anu)
Solihin Anu adalah Mahasiswa semester 4 yang paling berbakat di Aqidah Filsafat, Ushuluddin, UIN Jakarta. Ia dikenal dengan nama panggung "Anu". layaknya Mahasiswa Filsafat yang lain, Anu cukup idealis dalam hal percintaan. Ia tidak akan mau mengejar seorang gadis, kecuali gadis itu sendiri yang mendatanginya. Tapi mau sampai kapan Anu ?? aahh sudahlah.

Sebagai pemuda harapan entah siapa, Anu telah berjasa besar dalam menghidupkan kajian pojok inspirasi ushuluddin (PIUSH). Bisa dihubungi dibesment ushul.

4. Edi Marwoto
Jomblo kita yang satu ini adalah gabungan filsuf mahsyur Schopenhauer dan Basiyo. Tercatat sebagai mahasiswa perbandingan agama yang jarang masuk kuliah hingga sekarang.

Edi merupakan sosok yang santai dan periang. Gosip yang beredar, sangking frustasi dengan kejombloannya ia bahkan rela berpacaran dengan leptop yang selalu ditentengnya. Edi Bisa dihubungi di besment ushul.

3. Muhammad Hamiem
Pria yang asal Rembang Jawa tengah ini, memiliki semboyan, "sombonglah selama Tuhan tidak melihat". Lantas pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan kepada Hamim, apa yang bisa disombongkan ? Hidup dalam kesunyian dan kesepian ??

Tercatat masih menjadi Mahasiswa Tafsir Hadis semester 6. Hamim, begitu ia disapa, dikenal menguasai par excellencestudi Alquran, Hadist, dan Filsafat. Dengan wajah yang jika diperhatikan kadar usianya melebihi Nabi Adam, sudah barang tentu Hamim punya kualitas idola.

Jika Anda tertarik untuk berbincang perihal pahitnya kehidupan, Anda bisa menghubunginya di besment ushul.

2. Mohammad Faqih
Tanyakan pada jagat mahasiswa seluruh kampus UIN, Jakarta, siapa Muhammad Faqih. Niscaya anda akan menemukan seorang sosok Marxist yang kaffah nan zuhud.

Faqih adalah salah seorang Aktifis Gerakan yang konsisten menyendiri dan menyendiri. Seluruh rekan-rekannya mengetahui kisah pahit drama percintaannya yang tak menegenal kata "Sampai". Bahkan faqih sukses menjadi "icon" perjombloan di Ushuluddin. Suatu prestasi yang luar biasa tentunya.

Jika "Syarukh khan" dalam film "Jab tak hai jan" berhasil menanti cintanya dalam puluhan tahun, faqih jauh melampaui itu pastinya.

Secara khusus Mahasiswa Tafsir Hadis ini memiliki darah biru dari Bekasi yang jika ditelusuri akan nyambung hingga nabi Adam. Anda bisa menghubungi beliau di besment ushul.

1. Ubaidillah
Dan inilah dia, sosok yang dianggap melampaui jomblo yang lain. Ia adalah ubaidillah atau yang biasa disapa Ubed.

Dikenal berwajah layaknya "boyband", Ubed selalu mengakrabi  kesunyian. Apakah karena memang tidak terlihat? Entahlah. Tapi dari beberapa sumber terpercaya, konon Ubed sedang mengejar cinta ala tirakat khusus yang telah mencapai taraf makrifat seorang sufi.

Mahasiswa Tafsir Gadis ini gemar menonton film drama Korea. Maka wajar saja, apabila ia hingga sekarang selalu bermimpi menjadi "Lee Min Ho"nya Ushuluddin. Silahkan sapa ubed di besment ushul.


D.I



Rabu, 04 Maret 2015

Tiga Mengapa

Roman ini disulam dengan kecupan malam, ia bercerita tentang bulan, matahari dan pergantian antara keduanya.
Sesekali kita pura-pura tak tahu karena sandiwaranya terlalu berlebihan. Namun kelabu tak kunjung dilumat matahari.
Aku menunggu, tentu menunggu halaman terakhir dari roman tebal yang kita tulis setiap hari.
Aku tahu, Kita sedang mencari halaman yang hilang, bahkan sebenarnya tidak ada. Tahukah,  aku ingin menulis tiga kali mengapa saat melihat kita lemas tak waras.
* * *
Mengapa kita tergesa-gesa menulis roman fatalis ini?
Mengapa pula kita membacanya berulang-ulang setiap hari sepulang kau menari?
Mengapa kau memarahi pensil teman kita saat menulis kata per kata, lalu aku dipaksa membanting buku yang kita tumpuk berminggu-minggu, hingga kau dan aku bertengkar saat halaman itu tetap saja hilang, atau sebenarnya tak ada?
* * *
Tiga mengapa ini ku tulis disampingmu, benar-benar saat bersamamu.
Sesekali kita terlihat berpandangan, meski pura-pura saja.
Jujur, Aku sebenarnya melihat keningmu dan kamu diam-diam bergeser sejengkal kebawah; kau menatap tajam komat-kamit bibirku dengan was-was hingga aku tak berani menulis mengapaku yang keempat.
Aku takut kau menantang Tuhan, menuduh aku menulis halaman itu lalu menelannya.
* * *
Malam ini tiba-tiba kau menulis beberapa halaman untuk menghibur pembaca di Bumi.
Kau selipkan apa saja yg kau benci, memutarkan rotasi, hingga matahari kau paksa terbit diujung barat.
Kau telah melepaskan dadu, dan aku  dipaksa bertaruh.
Inikah halaman hilang yg kita inginkan?

Atau matahari esok akan kembali menelannya, lalu kita bertengkar lagi, menulis lagi, lalu kembali hilang .

Senin, 02 Juni 2014

Sajak Kerinduan

Oleh: Hendry Mohammad
I
Lagi-lagi kamu tersenyum. Tulus, terasa. Sebagai penikmat kopi dan penggiat diskusi, tentunya kamu sangat paham, bahwa pesakitan seperti aku harus sering-sering disiram dengan senyum lebar untuk menyemangati hidup. Terimakasih kamu, salam buat yang sedang menyala.
II
Mestinya kita belajar untuk lebih cinta pada kesederhanaan, pada tatanan hidup yang lebih menghargai persamaan, anti todong-menodong, juga saling menyalahkan. Tatap dan raut muka teduh begitu sungguh sangat mahalnya di sini. Gusti, ampunilah preman di depanku ini.
III
Di ujung persimpangan jalan. Selain buku dan kamu, yang lain kurang begitu berarti buatku, manisku. Engkau yang aku cita-citakan.
IV
Seperti Waraqah bin Naufal, aku membisikimu tentang petunjuk hidup di sebuah malam yang tersudut sunyi. Mengertilah ketenangan jiwaku, engkau yang aku yakini sebagai penyejuk saat jalanan menjadi sepi.
V
Aku kepadamu seperti pijar gulma yang meletup-letup di ujung bukit. Kadang berkelok-kelok, sampai rasanya aku tersudut di ruang sepi. Kadang pula aku seperti berjalan dihamparan tanah dan rerumputan luas dengan binar muka yang sumringah tentu saja. Hidupku, Tabik !!
VI
Malam ini Muhammad ke langit, lusa nanti giliran Isa. Pekan ini Tuhan sungguh sibuk.
VII
Pagi dengan segelas kopi hangat, lalu memulai renungan terhadap lembaran buku, sangat lebih mengasyikkan daripada mantengin berita pen-capresan dari media jahat yang sarat bias tak tentu objektifitas. Kopi pagi ini, membawa aku pada renungan bahwa islam adalah fitrah kita.
VIII
Di ujung waktu sana, saya selalu yakin kalau masih ada cahaya. Untuk bangsa kita, maupun untuk kita berdua #KegelisahankuMingguIni.
IX
Demokrasi kita seperti tai ayam. Bukan mengutuk kegelapan, tapi mencerna kenyataan yang cendung menghangat awal-awal lalu mendingin kemudian. Semoga yang seperti tai ayam itu cepat-cepat mendewasakan. Hidup petani ! Hidup juga buruh ! Salam pada tanah di rumah.

Selasa, 18 Februari 2014

Masih Lentera Merah

Masih Lentera Merah

Selamat pagi, Aku menyapamu, dari semua masalah-masalah yang masih betah bergelantungan. Tidak percayakah kamu, akan keseriusan ku. Tapi, jangan sekarang kamu membuka selihut hangatmu, tidurlah kembali dalam mimpi-mimpi indahmu. Selamat pagi untuk hari ini dan seterusnya, ku ucapkan untukmu dan semuanya. Dalam pikiran ini, aku instruksikan supaya aku tidak memikirkannya kembali. Tetepi, wahai pikiran, kenapa kamu mengkonsepkannya dengan bentuk sempurna. Salam termanisku, untukmu, wahai kamu yang masih terselimuti.

Ciputat, 19 Shafar 1435 H (08:30)

BINTANG

BINTANG
Oleh : Ulfiana
Hari ini hari sabtu. Malam ini aku ingin turut berbagi dengan bebintangan. Namun aku tak sedang ingin melakukan aksi tuk melakukan proteksi. Bukan pula ingin mengajaknya bersedih apalagi merintih. Aku juga tak sedang ingin bermain dalam canda bintang. Katanya aku terlalu lugu dengan yang disebut perasaan.
Biarlah apa yang dikata sang teman malam. Aku hanya diam tak ingin bergumam. Dan biarlah kecupan malam terus memburu hati yang sedang tersenyum merekah. Aku hanya ingin berbagi bahagia pada pasukan alam. Aku ingin kita saling menghibur diri.
Rasanya tak elok jika aku hanya ingin berbagi segala ingin di hati. Aku pun ingin mendengar segala yang ingin mereka ceritakan. Oh bintang, betapa aku merindu pada malam yang kelam hingga menjelang pagi. Namun kan ku sisihkan dan kau yang akan mengungkap segala keluhmu.
Lagi-lagi ini bukanlah sebuah aksi untuk menjabat tangan sang pejabat yang turun di jalanan. Namun aku ingin berbagi dengan bebintangan yang selalu menemani kala malam. Aku tak mengerti segelas air itu aku hidangkan untuk menyambutnya atau menyuguhinya karena lelah bicara.
Namun lakumu kali ini berbeda, aku tak sanggup lagi merayumu tuk membukakan pagar yang telah kau kunci rapat. Aku ingin kau layaknya malam yang selalu datang menghampiriku tuk berbagi dan berkasih. Aku ingin bintang malam tampakkan sinarnya kembali dan tidak meredup lagi. 
Jombang, 15 Februari 2014 (20:09)

Selasa, 04 Februari 2014

LENTERA MERAH #II

LENTERA MERAH #II
oleh : Lina Sobariyah Arifin
II
Hari selasa, hari yang cerah kala itu. Tetapi entah, gugusan awan gelap menghampiriku secara tiba-tiba. Aku mulai tersenyum, tersenyum kembali dan rasanya ini akan terulang kembali. Tetapi, jangan sampai hujan itu datang kembali. Menghampiriku, yang seakan hanya mengejekku, meremehkanku. Cermin itu mulai berbicara, genangan air yang di pertengahan jalan yang berlubang itupun mengataka sesuatu. “Kamu payah lina, kamu tidak berhasil lagi. Untuk kali ini, coba lain waktu kembali”.

Api, ketika aku yang hitam ini berbicara api. Memang bukan kamu yang hadir, tetapi entah siapa. Dia sosok yang masih aku kagumi sampai detik ini, yang entah kapan pula menyingkap selimut yang masih melumuri wujudnya. Api, ke’eksotis’an mu masih terjaga asri. Hijau bagaikan, rerumputan liar yang belum tergores sedikitpun oleh manusia yang katanya dari keturunan Adam itu. Tetapi, kamu tetap merah mempesona. Masih di labirin yang teramat gelap itu, kamu menuntunku dengan cahaya merahmu. Kamu bertransformasi menjadi lentera penerang jiwaku, kaki-kaki kecil ini terbantu berkat jasamu.

Ketika, kegelapan mulai datang. Bayanganku menghilang entah kemana, kamu hadir wahai lentera merahku. Dan bayanganku pun bertemu, beradu pandang dengan bayanganmu. Tetepi, aku tidak pernah melihat wujud aslimu. Semisterius itu kah kamu?

Ciputat, 22 Shafar 1435 H (13:10)

Lentera Merah #I

LENTERA MERAH #I
I
Selamat malam,
Ada kalanya ketika aku bosan, ketika senja sudah tak menjadi sebuah kawan. Maafkan aku yang sudah tidak suka dan selalu lari dari sebuah kenyataan, mencari sebuah kenyataan baru dalam kenyataan yang entah sampai kapan aku akan bertahan. Kamu yang masih berselimutan, mengajakku bersembunyi dalam selimut hangatmu. Inilah aku yang menolakmu, walaupun kamu menyebutku sebagai pelangi hidupmu. Aku sungguh merindukanmu, sayang.
Ketika kaki ini mulai bergetar, menyusuri labirin yang teramat gelap. Kamu, yang entah siapa, selalu menjadi lentera merah yang menyala. Dalam diamku pun, kamu selalu bersuara dengan riuhnya. Dalam sedihku pun, kamu memaksa aku mengukir senyum tipis dan menyunggingnya dibibir walaupun dengan terpaksa. Selamat malam manisku, tidurlah di atas ranjang indah yang berukirkan panorama alam. Hijau, dengan rerimbunan pohon, beserta gemercik air yang menjadi nada yang mengiringi mimpi-mimpi indahmu.


Senin, 03 Februari 2014

KAU TERLALU BANYAK DIPERKOSA

KAU TERLALU BANYAK DIPERKOSA
Oleh : Fauzan Anwar



Angin malam membisikiku di balik jendela kamar yang terbuka
Agar berbicara atas nama kegelisahan
Kegelisahan yang diselimuti kasih sayang dan kebencian
Aku keluar mencari angin dan keheningan malam
Keheningan malam yang menuntunku ke arah kerinduan
Intuisi datang padaku tentang ibu pertiwi



Ibu pertiwi kau sedang sempoyongan menghirup candu
Yang memasuki seluruh pori-pori Dalam jiwamu
Leher dan pundakmu adalah pelabuhan zaman
yang bisa memalingkan para tuan


Payudaramu yang kenyal dan segar membuat semua orang ingin meremasnya
Pinggul suburmu membuat Tuan-tuan rindu akan getaran dan kehangatan pahamu
Saat orang asing menggeragahi Tubuhmu kau hanya diam dan pasrah


Apakah kau menikmati terjangan para kesatria Templar
Apakah kau menikmati kehangatan Tubuh Sang Samurai
Apakah kau menikmati Setiap tendangan kungfu yang menghantam
Seberapa besarkah Hasrat purbakalamu wahai engkau ibu pertiwi
yang membuat kau rela dinoda



Setiap hari Tubuhmu dijadikan pemuas birahi para Tuan asing
Waktu demi waktu kau selalu begitu
aku tau kau tak rela tapi kenapa kau diam saja
apakah kau bermuka dua wahai ibu pertiwiku



Nestapa dan angkara Ibu pertiwi mulai murka
Sedikit namun terasa
Dan segera berdoa pada Tuhanya



Ketika ibu pertiwi mulai muak dengan Tuan yang menghisap payudaranya
Payudaranya meledak dan menghamburkan asap
Napasnya mengandung api yang ingin membakar apapun
Dikaki payudaranya ratusan bahkan ribuan orang menderita
Orang tak berdosa orang tak tau apa-apa
kena batunya Karena murka tak pandang siapa



Pingulmu mulai merasakan getaran hebat
Sepertinya kau akan ekresi
Kau meyemburkan separuh air kemurkaan dan kenimatan
Air bah yang dahsyat keluar berbagai macam lubang penjuru
Dari barat hingga ketimur membahasi membanjiri
Dan merusak segala yang ada.



Wahai pemilik ibu pertiwi bantulah kami mengobati ibu pertiwi
Karena hanya kepada engkaulah kami bisa memohon dan berharap
Setelah kami merumuskan keadaan.





F.A.Z

Bandung (03-02-2014).



TIGA MENGAPA #Bagian II

TIGA MENGAPA 
[#ROMAN_UMA] 

Bagian II
Ini permintaanmu setelah malam lalu kita duduk lama dan saling membelakangi. kita bertengkar gara-gara lembaran setan. kau malah menuduhku menelannya. 
Baiklah, memang sudah ku kunyah! Aku pergi! Tapi, tiga mengapa yg semalam kutulis untukmu, ia masih mengantung di ujung jendela. bisa kau lihat sore nanti saat kau sudah waras!
Pagi ini hujan mungkin akan tertahan sebentar, ia tahu aku sudah beku. Mungkin juga hanya pura-pura tahu. Tapi benar tak mudah melepas cerita semalam denganmu saat hujan. Sesekali aku harus menggantung, membelah libasan angin pagi di mulut kereta, membiarkan ingatan pahit ini tertiup perlahan. Sialnya tetap tak berhasil!
Mungkin kau tak mengira, berminggu-minggu sebelum kita menulis cerita, sadarkah kau hanya membaca setiap pesan singkat yang aku kirim tanpa mempedulikannya, dan membiarkan ringkihan suara panggilan di ujung selulermu dengan desisan kebencian?
Aku yakin kau tak mengira juga, ketika kita bertengkar sampai aku diusir pergi olehmu, Aku selalu melakukan perbuatan tolol ini: Mengunjungi tempat-tempat saat kau masih malu-malu memeluku, atau menunggumu di sudut halte, tempat kau berhenti sepulang kerja. padahal aku sendiri tak yakin kau melewatinya, meskipun lewat aku yakin kau tak rela meneduh sebentar bersamaku.
Ataukah kau sudah menduganya, dan membayangkan dari kejauhan seluruh ketololan yang kulakukan ini, lalu kau tertawa disamping naskah palsu yg kita tulis berdua, hingga kau sendiri dan pembacamu tak pernah ingat atau pura-pura tak ingat tentang tiga mengapa dariku sebelum pergi pagi ini.

Sabtu, 25 Januari 2014

TIGA MENGAPA



TIGA MENGAPA
[#ROMAN_UMA] 
Roman ini disulam dengan kecupan malam, ia bercerita tentang bulan, matahari dan pergantian antara keduanya. sesekali kita pura-pura tak tahu karena sandiwaranya terlalu berlebihan. Namun kelabu tak kunjung dilumat matahari. aku menunggu, tentu menunggu halaman terakhir dari roman tebal yang kita tulis setiap hari. Aku tahu, Kita sedang mencari halaman yang hilang, bahkan sebenarnya tidak ada. Tahukah,  aku ingin menulis tiga kali mengapa saat melihat kita lemas tak waras.
Mengapa kita tergesa-gesa menulis roman fatalis ini? Mengapa pula kita membacanya berulang-ulang setiap hari sepulang kau menari? Mengapa kau memarahi pensil teman kita saat menulis kata per kata, lalu aku dipaksa membanting buku yg kita tumpuk berminggu-minggu, hingga kau dan aku bertengkar saat halaman itu tetap saja hilang, atau sebenarnya tak ada?
Tiga mengapa ini ku tulis disampingmu, benar-benar saat bersamamu. Sesekali kita terlihat berpandangan, meski pura-pura saja. Jujur, Aku sebenarnya melihat keningmu dan kamu diam-diam bergeser sejengkal kebawah; kau menatap tajam komat-kamit bibirku dengan was-was hingga aku tak berani menulis mengapaku yg keempat. Aku takut kau menantang Tuhan, menuduh aku menulis halaman itu lalu menelannya.
Malam ini tiba-tiba kau menulis beberapa halaman untuk menghibur pembaca di Bumi. Kau selipkan apa saja yg kau benci, memutarkan rotasi, hingga matahari kau paksa terbit diujung barat. Kau telah melepaskan dadu, dan aku  dipaksa bertaruh. Inikah halaman hilang yg kita inginkan? Atau matahari esok akan kembali menelannya, lalu kita bertengkar lagi, menulis lagi, lalu kembali hilang .

Rabu, 05 Oktober 2011

Bolehkah Aku Bertanya ???

oleh : PIUSH
jika aku dipaksa percaya, bahwa Kau penoreh dan penentu taqdirku..
bolehkah aku bertanya?
mau Kau buat apa aku ini?
mau menuliskan cerita macam apa bagiku?
Manusia jalangkah???  kafir kah??? Pelacur kah???
lalu mengapa  Ibrahim, muhammad dan tentu saja copernicus yang mati di tiang gantung kau buat begitu sholeh sedangkan aku...!!! kau buat begitu jalang...
Rasanya tidak adil bagiku..rasanya Kau hanya nestapa bagiku...rasa-rasanya kau mau tak mau bercerita tentangku...


****
Lalu, jika aku dipaksa percaya, bahwa aku penentu bagi taqdirku...
bolehkah aku kembali bertanya? (dan tentu saja, ini pertanyaan terakhir untuk Mu)
mengapa kesempatan baik hanya menghampiri bill gates dengan microsoftnya dan soekarno dengan gema suaranya dan dengan nama-nama lain hasil kreasiMu yang bagiku amat sewenang-wenang...
lalu dimana keadilan itu Tuhan? padahal Kau sendiri dengan penuh kuasa dan atas ke-tiran-anmu kau definisikan aku sebagai khalifah..tapi pertanyaanku kenapa tak lekas kau jawab jua...
kenapa????

Senin, 03 Oktober 2011

Air mata Negeri Yang Ku Gambar


Puisi ini aku tulis untuk maha siswa
yang melukis namanya dengan rusuk do’a
di dinding-dinding kampus
Oleh : Penyair Muda Hars
 
 
Ummi,
Di wajahmu aku melukis pulau dari kata-kata
menggambar negeri ini menjadi surga
yang manis
 
aku ingin berjalan mengukur panjangnya usia
dari puisi
seperti hantu bertakaran menghilang siang malam
di tepi-tepi jalan kota
sembari menimba air mata para pejalan kaki
yang sedang asyik mencatat panjangnya
sejarah negeri ini
dan bertanya kepada para penghamba
dalam sujudnya
tentang negeri yang telah kehilangan kerakter
 
-sebab janji para cendikiawan tak dapat di percaya
hanyalah menumpuk menjadi sampah di perpustakaan
dan tak dapat ditakwil dari mashap kebenaran
apa lagi mengkajinya lewat huruf dan bahasa
 
sungguh...!
 
dimanakah kerakter negeri?
yang ingin membawa anak-anak bangsa berlari
memanggul pendidikan ke ujung masa depan gemilau
 
di manakah tubuh negeri?
yang pernah berdiri tegab tersenyum manis
dan mengemban sinis
 
Ummi,
nadiku berbisik;
ku dengar pertanyaan maha siswa
dalam detak jantung penuh luka
air matanya berubah gerimis
mengikuti aliran darah  penuh derita
 
malam ini mataku masih rabun melihat masa depan
siapa yang meruang di aliran do'a
Ummi?
siapa yang mewaktu?
aku ingin belajar menulis
puisi kembali
tentang air mata rakyat
dan nafas duka maha siswa
bahkan jeritan anak-anak tanpa pendidikan
 
agar mereka dapat merasa;
bukan hanya ke kuasaan
yang selalu menindas negeri ini
dengan kata-kata dan gambar
 
agar mereka dapat melihat
betapa zionisnya rezim pemerintahan
yang menjatuhkan kegagahan negeri ini
menjadi seribu bayang-bayang lezat di kakinya
 
Ummi,
kali ini
kutukku dalam hati Tuhan pada mereka
 
karena
kami
mereka
dia
mengkaji kembali
mengaji kembali
 
(Alif-Bha-Ta-Sya)
 
dan berteriak
Negeriku terlahir tanpa papa!
 
2011, Jakarta

 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube