BREAKING

Senin, 25 Juni 2012

Tiga Fakultas Samawi: Ushuluddin, Dakwah dan Fisip


Tiga Fakultas Samawi: Ushuluddin, Dakwah dan Fisip
Sekilas Tiga Agama Samawi
Tentunya dalam sejarah agama semitik (samawi) kita mengenal ada tiga agama yang merupakan turunan dari millah  Nabi Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Agama Yahudi merupakan kaka pertama yang dibawakan oleh Nabi Musa As bagi umat bani Israel. Lantas kemudian disusul oleh kaka ke dua yaitu agama Nasrani oleh Nabi Isa di Palestina dan Islam sebagai Agama terakhir yang diproklamirkan oleh Nabi Muhammad Saw. Ketiga agama tersebut merupakan agama yang pada dasarnya mengemban sebuah misi ketuhanan yang bersifat monoistik (tauhid).
Meskipun ketiganya bersaudara, namun sejarah mencatat bahwa dalam perjalanannya tidak pernah menemukan suatu titik persamaan untuk mencapai suatu tujuan perdamaian. Ketiganya saling memperkuat barisannya masing-masing dan menyerang jika salah satu diantara mereka ada yang terusik dalam keberadaannya. Klaim atas kebenaran pun sangat gencar dikemukakan. Dan mereka bersikukuh menjari argumentasi teologis yang rasional untuk memperkuat kepercayaan yang mereka amini.
Ada satu tempat suci yang yang merupakan tempat bersejarah bagi ketiga agama tersebut, yaitu Baitul Maqdis di Palestina. Konon katanya, di sana terdapat sebuah bangunan bersejarah bagi masing-masing agama tersebut. Yang di suatu masa sempat terjadi suatu peristiwa berdarah untuk merebut daerah tersebut.
Ushuluddin : Fakultas yang Dijanjikan
            Dari sekilas cerita tiga agama di atas, sepertinya ada unsure kesamaan dalam kejadiannya atas fenomena yang terjadi di Ushuluddin. Pada awal kejadiannya, Ushuluddin merupakan sebuah Fakultas independent yang dimiliki oleh Universitas Islam Negeri Jakarta. Saat berdiri pada tahun 1963, Fakultas Ushuluddin memiliki dua jurusan: Jurusan Dakwah dan Jurusan Perbandingan Agama. Sejalan dengan visi untuk menjadikan Fakultas Ushuluddin sebagai pusat kajian pemikiran Islam, kemudian dibuka Jurusan Aqidah-Filsafat pada tahun 1982. Pada tahun 1989 berdiri pula Jurusan Tafsir-Hadits, sementara pada saat yang sama Jurusan Dakwah memisahkan diri menjadi fakultas tersendiri.
Lambat laun Dakwa menjadi sebuah Fakultas yang mandiri meski gedung dan tanahnya masih bergandengan (nebeng) dengan Ushuluddin. Sebelum berdiri sebagai fakultas, Fakultas Dakwah dan Komunikasi mulanya adalah sebuah jurusan di Fakultas Ushuluddin. Setelah menginduk selama kurang lebih 25 tahun, maka pada tahun 1989 Jurusan Dakwah memisahkan diri dan mandiri sebagai sebuah fakultas. Pada saat berdiri, Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki dua jurusan: Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam.
Pada tahun akademik 1999/2000 dibuka secara bersamaan Program Studi Pemikiran Politik Islam dan Program Studi Sosiologi Agama yang dikemudian hari jurusan ini mengituti millah para pendahulunya untuk mendirikan suatu fakultas secara independent, yang sekarang kita kenal dengan sebutan fakultas Fisip.
            Jadi, sangatlah jelas dari sumber sejarah menjelaskan bahwa Ushuluddin merupakan sebuah fakultas yang memberikan semangat bagi berdirinya fakultas-fakultas yang lain. Dari Ushuluddin munculah Dakwah dan Fisip. Ushuluddin selalu memberikan inspirasi bagi sesuatu di dalam dan di luannya. Potensi yang dimiliki Ushuluddin jika diaktualisasikan tentunya tidak akan pernah tergambarkan efektasinya. Yang pastinya Ushuluddin telah memberikan suatu bukti bahwa ia merupakan sebuah Fakultas yang dijanjikan.
            Apalah jadinya UIN Jakarta jika seandainya Ushuluddin tidak penah ada. Disamping dilegitimasi sebagai sebuah fakultas, Ushuluddin senantiasa menjadi sebuah inspirasi dan the spirite of human being  bagi keberadaan sesuatu yang lainnya, termasuk Dakwah dan Fisip.

Yang Penting Ushuluddin !!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube