BREAKING
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2016

Timpang

Oleh: Sadam Husein **


Sewaktu siang saya sedang menikmati indahnya Alun-alun kota Pare, dengan antusias melihat di sekitar tanpa luput satu pun yang terlewatkan dari pandangan saya, cuaca yang panas namun asri menghiasi gedung dan penataan kota yabg rapih, dengan hiruk pikuk saat itu terjadi, sudah menjadi hal yang biasa ketika aku berada di ibu kota indonesia yaitu jakarta, yang justru lebih parah dari pada itu. Namun, tak Berbeda dalam menjalani aktivitas sehari-hari, ada yang sekolah, bekerja, Pedagang Kaki lima, sampai ada yang menarik becak motornya.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, seseorang dengan kelas ekonomi atas dapat saja merasakan segala kemewahan kehidupan dunia. Namun, beda halnya dengan ekonomi menengah kebawah. Sekiranya masyarakat indonesia merupakan contoh konkrit mengenai ketimpangan kelas ekonomi. Seseorang dengan kelas ekonomi bawah, jangankan memenuhi kehidupanya, untuk makan sehari-hari mereka pun harus mengucrkan keringat berlebih hanya demi sesuap nasi.

ketika sedang menikmati suasana dan secangkir kopi, seketika terpaku pada salah satu penarik becak motor, dengan muka tampak lesuh dan kecewa, dengan khas bau sinar matahari yang menyelimutinya, baju yang sederhana tampak menghiasinya, dengan langkah yang berat tak kuduga mendekati dan duduk di sampingku. Dia adalah bapak haryono, dia adalah salah satu warga pare jawa timur. sehari-hari dia bekerja hanya sebatas menarik becak motornya.

"Iya nih mas, saya sudah dari kemarin narik tapi belum ada satupun penumpang, jangankan makan ngopi pun saya ndak mas". Ketika dia menjawab pertanyaan saya perihal pekerjaan.
Dia melanjutkan, "mencari nafkah saat ini memang sangat sulit, saya tidak bisa menghidupi Ke empat anak saya. Maka saya terpaksa harus menitipkan mereka ke panti asuhan, dan istri saya pun yang entah kemana meninggalkan saya, belum juga orang tua saya yang sakit-sakitan, belum lagi saya sendiri mas pusing saya mas."

Dari perkataan tersebut, saya menyadari betapa ketimpangan terjadi di Negri ini. Dibalik bangunan-bangunan kota yang megah dan kayanya alam Indonesia, hanya sebagian orang saja yang dapat merasakannya dan mendapatkan keuntungannya, tapi justru masih banyak orang-orang yang sama sekali tak pernah merasakan kenikmatan itu.

Akutnya permasalahan ekonomi, tak hanya membuat bapak haryono kehilangan keluarganya, bahkan bapak tersebut juga mulai sakit-sakitan. “Saya juga sering merasakan sakit perut”. Sambil menunjuk perut yang ada bekas jahitan luka yang jauh dikatakan sempurna.
Begitu teriris saya mendengarkan curhatan bapak ini, memang kehidupan saat ini di negri kita tercinta ini, bahwa tak semua bisa merasakan manisnya hidup yang kita jalani saat ini, tak seimbangnya pendapatan dengan kebutuhan, sehingga masyarakat kelas menengah kebawah seakan semakin terpuruk dan semakin pesimis menjalani hidup.

Kebutuhan sandang dan pangan yang harganya semakin melunjak, ditambah lagi dengan harga BBM yang inkonsisten, membuat masyarakat yang notabene jelas menengah kebawah sangat merasakan betul asam manisnya kehidupan di negeri ini.Salah satunya harapan dari masyarakat hanya pada pemerintah untuk bagaimana mencari solusi atas kebijakannya untuk menaungi masyarakat menengah kebawah.

Lihat profil: Sadam Husein

Selasa, 15 Maret 2016

Besment Ushuluddin dan Para Pencari Inspirasi

Oleh: Dedy Ibmar**



Sulit bagi saya untuk tidak menyertakan Basement Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah sebagai spirit of human being. Saya jatuh cinta pada tempat ini karena pada beberapa derajat, ia jauh lebih mendewasakan dan mencerdaskan daripada apa yang dilakukan Pak Rektor kepada saya.

Mungkin basement adalah ibu saya yang lain. Berkali-kali dibuat jatuh cinta, dibuat marah, dibuat patah hati, berkali-kali juga saya dibuat tak berdaya dan bersimpuh diam ketika dunia sudah kepalang brengsek.

Di basement itu saya menemukan terlalu banyak alasan untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Tentang bagaimana tempat ini memejalkan keinginan membaca saya pada titik paling tinggi, juga tentang bagaimana di tempat ini saya menemukan manusia-manusia getir yang begitu optimis menjalani hidup. Lebih dari itu, tempat ini adalah tempat dimana setiap kenangan bermuara hingga berujung haru.

Tentu saja terlalu banyak hal sentimentil yang bisa kita gali dari basementUshuluddin. Seperti kehilangan pacar, teman, rokok, kopi atau bahkan kehilangan akal sehat karena mengganggu latihan organisasi paduan suara kampus.

Tapi yang membuat basement Ushuluddin jadi istimewa, selain kopi, rokok atau gorengan adalah sesuatu yang menyangkut perasaan. Ya.. Itu cinta. Basement adalah tempat yang banyak mempertemukan dua hati. Ia adalah saksi dari sekian banyak kisah percintaan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ada banyak alasan mengapa mereka yang sudah berkarat di kampus susah untuk tidak nongkrong di pojokan basement itu. Basement itu terlalu banyak memiliki sudut-sudut melankolis yang menjadi kediaman kisah cinta yang putus baik karena berpisah maupun menikah. Ini saintifik, ilmiah. Jika tak percaya, coba tanyakan teman, rekan, senior yang pernah punya hubungan percintaan di pojokan basementushuluddin itu.

Pernahkah kalian merasakan senja yang beranjak roboh (meskipun tak terlihat karna ditutupi tujuh lantai gedung Ushuluddin) sambil mendengarkan azan magrib di pojokan basement itu? Mendiskusikan logika (mantik) seraya menikmati sejuk sore dengan corat-coret lantai? Bermuka pucat karena tak tidur semalaman hanya untuk memandang perempuan pujaan masuk ke ruang kelas? Aah, mungkin itu hanya saya.

Bagi saya, basement itu seperti kesadaran, ia menjadi penting bagi banyak orang karena membuat tiap-tiap yang nongkrong punya rasa memiliki yang kuat. Buktinya, entah siapa yang punya kopi, tetap akan diminum dengan muka polos dan tak bersalah. Basement juga bisa disebut sebagai pengorbanan, karena di tempat ini kamu dipaksa menerima fakta keji yang demikian pahit, bahwa sahabat terbaikmu menjadi pengkhianat karena telah menikungmu dari belakang.

Di basement itu pula kalian dapat belajar bahwa uang bukan segalanya, mungkin ia bisa memberimu banyak hal. Tapi di tempat ini, kebersamaan dan keberadaan teman yang selow, kurang piknik dan punya energi ceng-cengan yang melimpah-ruah adalah alasan untuk tetap hidup. Di tempat ini kalian akan menemukan keriangan-keriangan goblok, tolol, namun dibungkus dengan bahasa kefilsafatan yang akademis. Meskipun hal itu berlangsung monoton (itu-itu doang) namun sama sekali tak mengurangi kadar serta kualitas kelucuannya.

Di basement itu kalian akan merasakan bahwa menjadi bodoh dan tak tahu apa-apa bukanlah pilihan. Di tempat ini terlalu banyak sumber pengetahuan yang membuat orang paling goblok, setidaknya bisa memahami hidup dengan membaca, berdiskusi atau sekadar kursus singkat dari para pencari inspirasi.

Sekiranya, makna-makna itulah yang mungkin tak dapat dijangkau oleh kalian “Dede Rosyada and The Geng”. Kebanyakan anda-anda semua hanya melihat basementsebagai tempat kotor dan kumuh yang hanya layak diinjak-injak untuk dilewati. Larangan merokok serta lulus lima tahun merupakan sebagian kebijakan yang membuat mahasiswa mengurangi jadwal nongkrongnya. Bahkan yang lebih parah,basement sebagai tempat nongkrong penuh cerita itu saat ini telah dibentuk menjadi ruang-ruang yang tak begitu jelas.

Khusus untuk Pak Rektor Dede Rosyada tercinta, sekali-kali bapak benar-benar harus nongkrong di basement fakultas-fakultas, khususnya di Fakultas Ushuluddin yang semoga tidak akan bernasib sama dengan Basement Fakultas Dakwah yang kini sudah beralih fungsi. Dengan begitu, saya haq al yaqin bapak pasti akan merasakan sensasi seperti yang saya katakan di atas. Santai pak, nongkrong di basement nggakbakal digerebek teroris kaya di Starbucknggak bakal ditabrak Lamborgini, nggakmengandung Sianida juga pak. Semuanya aman. #RektorAyoNongkrong


Senin, 14 Maret 2016

Inilah Lima Jomblo kelas atas di Ushuluddin


Menjadi jomblo adalah perkara tersulit yang ada dalam kehidupan. Tidak ada yang mudah dengan menjomblo. Selain pranata sosial, tekanan keluarga dan kesunyian, menjadi jomblo juga selalu mengalami tekanan psikologis dari hari-kehari.

Nahh buat kalian mahasiswi UIN, ada kabar gembira yang akan saya jelaskan di sini. Untuk sementara lupakan hayalan-hayalan kalian mengenai Nicholas Saputra atau Ariel Noah. Kini PIUSH memiliki rekomendasi jodoh untuk kalian semua. 

Setelah melalui seleksi yang ketat, lebih ketat daripada seleksi lomba penyanyi berbakat yang ada ditelevisi, bekerja sama dengan Lembaga Survey Jomblo Indonesia, Maka PIUSH dengan bangga mempersembahkan lima jomblo berkualitas tinggi untuk anda dekati. Ingat, dekati saja, jangan dipacari. Biarkan mereka tetap sendiri agar tetap menjadi filsuf atau sufi.

5. Solihin (Anu)
Solihin Anu adalah Mahasiswa semester 4 yang paling berbakat di Aqidah Filsafat, Ushuluddin, UIN Jakarta. Ia dikenal dengan nama panggung "Anu". layaknya Mahasiswa Filsafat yang lain, Anu cukup idealis dalam hal percintaan. Ia tidak akan mau mengejar seorang gadis, kecuali gadis itu sendiri yang mendatanginya. Tapi mau sampai kapan Anu ?? aahh sudahlah.

Sebagai pemuda harapan entah siapa, Anu telah berjasa besar dalam menghidupkan kajian pojok inspirasi ushuluddin (PIUSH). Bisa dihubungi dibesment ushul.

4. Edi Marwoto
Jomblo kita yang satu ini adalah gabungan filsuf mahsyur Schopenhauer dan Basiyo. Tercatat sebagai mahasiswa perbandingan agama yang jarang masuk kuliah hingga sekarang.

Edi merupakan sosok yang santai dan periang. Gosip yang beredar, sangking frustasi dengan kejombloannya ia bahkan rela berpacaran dengan leptop yang selalu ditentengnya. Edi Bisa dihubungi di besment ushul.

3. Muhammad Hamiem
Pria yang asal Rembang Jawa tengah ini, memiliki semboyan, "sombonglah selama Tuhan tidak melihat". Lantas pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan kepada Hamim, apa yang bisa disombongkan ? Hidup dalam kesunyian dan kesepian ??

Tercatat masih menjadi Mahasiswa Tafsir Hadis semester 6. Hamim, begitu ia disapa, dikenal menguasai par excellencestudi Alquran, Hadist, dan Filsafat. Dengan wajah yang jika diperhatikan kadar usianya melebihi Nabi Adam, sudah barang tentu Hamim punya kualitas idola.

Jika Anda tertarik untuk berbincang perihal pahitnya kehidupan, Anda bisa menghubunginya di besment ushul.

2. Mohammad Faqih
Tanyakan pada jagat mahasiswa seluruh kampus UIN, Jakarta, siapa Muhammad Faqih. Niscaya anda akan menemukan seorang sosok Marxist yang kaffah nan zuhud.

Faqih adalah salah seorang Aktifis Gerakan yang konsisten menyendiri dan menyendiri. Seluruh rekan-rekannya mengetahui kisah pahit drama percintaannya yang tak menegenal kata "Sampai". Bahkan faqih sukses menjadi "icon" perjombloan di Ushuluddin. Suatu prestasi yang luar biasa tentunya.

Jika "Syarukh khan" dalam film "Jab tak hai jan" berhasil menanti cintanya dalam puluhan tahun, faqih jauh melampaui itu pastinya.

Secara khusus Mahasiswa Tafsir Hadis ini memiliki darah biru dari Bekasi yang jika ditelusuri akan nyambung hingga nabi Adam. Anda bisa menghubungi beliau di besment ushul.

1. Ubaidillah
Dan inilah dia, sosok yang dianggap melampaui jomblo yang lain. Ia adalah ubaidillah atau yang biasa disapa Ubed.

Dikenal berwajah layaknya "boyband", Ubed selalu mengakrabi  kesunyian. Apakah karena memang tidak terlihat? Entahlah. Tapi dari beberapa sumber terpercaya, konon Ubed sedang mengejar cinta ala tirakat khusus yang telah mencapai taraf makrifat seorang sufi.

Mahasiswa Tafsir Gadis ini gemar menonton film drama Korea. Maka wajar saja, apabila ia hingga sekarang selalu bermimpi menjadi "Lee Min Ho"nya Ushuluddin. Silahkan sapa ubed di besment ushul.


D.I



Kamis, 19 Juni 2014

Orang Neo-Pojokan

Oleh: Ikhsan Yaqub
“Kita telah gagal, bahkan gagal sebelum mengetahui apa itu keberhasilan!”. Kira-kira seperti itulah suara-suara parau yang ku dengar dari mulut-mulut asam orang pojokan. Tatapan-tatapan kosong “khas” orang pojokan di siang hari (entah apa yang mereka pikirkan; kelaparan atau mungkin kasmaran) seolah menjadi pemanis tumpahan kopi di atas “lantai pengetahuan” itu.
Menjelang sore, pojokan pun sudah mulai ramai oleh orang-orang penghamba absen, dihiasi ceng-cengan yang juga absenistik. Sesekali topik dialihkan kepada pilpres, cinta yang tak sampai, piala dunia, puasa, RAK (Ssst..), KKN, lebaran, dan aforisme-aforisme pojokan lainnya. Indah sekali, mengiringi keindahan mendung di akhir juni Ushuluddin.
Namun dibalik keindahannya itu, apa sebenarnya yang mereka tunggu? Hey, tunggu dulu! Lantas bagaimana aku? Apa yang aku tunggu bersama mereka disini? Bersama orang-orang “neo-pojokan” ini? Orang-orang yang kehilangan induknya, atau telat menjadi induk, atau mungkin sudah menemukan induk baru? entahlah.
Aku dengar mereka menunggu kesepakatan, kesepakatan apa? Lantas apakah aku bagian dari kesepakatan itu, sehingga aku masih duduk disini?; menunggu. Padahal anomali-ku atas isu-isu ini sudah memuncak, sementara orang-orang lewat men-generalisirku bahwa aku bersama mereka; menunggu.
Aku juga dengar omongan “bubarkan saja pojokan”, dengan dalih tak ada kajian? Apanya yang akan dibubarkan? Lantas apakah aku juga bagian dari kebubaran itu? Menurutku tak usah dibubarkan pun realitanya memang sudah bubar! Neo-Pojokan,  sejatinya memang tak ada lagi kumpulan yang bercerita tentang kebenaran, tak ada lagi permainan menebak kemauan Tuhan. Tak ada lagi, sosok?
Jawablah apa yang tidak pernah aku pertanyakan.

Senin, 02 Juni 2014

Penculik dan Pembohong

Oleh: Hendry Mohammad
Kemarin saya sempat diskusi dengan Mugianto. Aktivis 98 yang kini sebagai ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI).
Mugianto menyatakan, bahwa orang yang milih ‪‎Prabowo itu benar-benar buta mata hatinya. “Penculik kok dipilih,” katanya.
Dua pekan sebelumnya, sempat menyaksikan deklarasi buruh tentang dukungan penuh kepada capres Prabowo. Letaknya tak jauh-jauh amat dari tempat saya tinggal juga sekaligus deklarasi tersebut sempat dihadiri oleh Fadli Zon, Sekertaris Umum Partai Gerindra saat ini.
Orasi ‪Fadli sangat sekali menggugah. Negeri ini jangan sampai dipimpin oleh capres pembohong. “Jangan sampai dipimpin oleh orang yang ngurusi Jakarta aja ndak becus (‪‎Jokowi maksudnya, red) jangan sampai pokoknya,”Katanya.
Dua orang ini sama-sama benar, bahwa calon presiden kita saat ini, 2014 ini, calon yang akan memimpin Indonesia ke depan, adalah “Penculik” dan “Pembohong”.

Jumat, 30 Mei 2014

Bukan Aku Tidak Peduli Atas Semua Ini

Oleh: Syahrul Ramadhan
Tidak ada satu pun kebahagiaan yang ku dapatkan di saat aku tertawa ataupun masalah di saat aku marah karna semuanya telah di rampas oleh mereka.
Pikiranku, pikiran kita, pikiran mereka telah menyatu di atas semua kehampaankuIni bukan sekedar kebetulan dan juga bukan sebuah rencana yang harus di jalankan tapi ini semua ketidakjelasan di antara semunya. 
Bicara idiologi, politik adat ataupun budaya sudah menjadi hal yang lumrah bagiku. Mungkin mereka memikirkan hal itu tapi aku tidak. 
Mungkin mereka mengeluarkan keringat ataupun harta benda tapi aku tidak. Bukan aku tidak peduli atas semua ini.

KORUPSI MENJERAT RAKYAT

Oleh: Ulfiana*
Kini Indonesia menjadi lumbung korupsi. Berbagai sisi kehidupan telah dipenuhi dengan aksi tidak sehat ini. Pemerintah yang seharusnya menjadi wakil dari rakyat malah berkhianat atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Mereka tidak lagi dapat dijadikan tumpuan rakyat dalam memajukan bangsa ini sehingga tidak salah jika masyarakat tidak lagi menaruh percaya dengan pemegang tampuk kekuasaan di Indonesia ini.
Bahkan korupsi telah menyebabkan ketidakmamuran masyarakat dalam berbagai hal, seperti dalam pendidikan, pembangunan yang tidak tuntas, kemiskinan, kebobrokan moral, dan sebagainya. Kemudian hal yang paling ironis dari akibat korupsi adalah krisis kepercayaan oleh masyarakat kepada pemerintah. Hal inilah yang menjadikan masyarakat apatis terhadap berbagai isu yang tejadi di Indonesia.
Dari segi pendidikan, korupsi telah menelan pelajar miskin yang seharusnya menuntut ilmu. Bermiliar uang yang telah diambil dengan merasa tidak bersalahnya oleh pemerintah menjadikan anak-anak di usia produktif tidak belajar dengan alasan tidak mendapat beasiswa sehingga tidak heran jika banyak anak kecil yang mengamen di jalanan. Padahal uang yang dikorupsi tersebut seharusnya dapat memintarkan rakyat malah dijadikan sebagai pemuas nafsu pribadi yang tidak ada habisnya. Semakin meninggi angka anak yang tidak sekolah maka tinggal menunggu saja kehancuran negera ini. Karena pendidikan adalah penentu dari kemajuan bangsa.
Kemudian akibat dari adanya korupsi yang semakin merajalela adalah pembangunan yang tidak tuntas. Hal tersebut sebagaimana pembangunan proyek di Hambalang yangbelum juga selesai padahal pembangunan telah dimulai sejak lama. Dan pembangunan jembatan di Lebak, Banten yang ditangani sangat lambat oleh Gubernurnya. Dua peristiwa tersebut hanyalah sebagai perwakilan dari banyak kasus yang belum terselesaikan atau mungkin tidak terselesaikan.
Pun korupsi telah menyengsarakan rakyat Indonesia, sepertinya maraknya kemiskinan, terjadinya busung lapar di berbagai tempat, dan sebagainya. Sebut saja, banyaknya masyarakat yang hidup di kolong jembatan, di tepian rel kereta api, atau bahkan di jalanan. Sedang pemerintah tidak memperhatikan kebutuhan rakyatnya malahan sibuk untuk memperkaya diri dengan uang yang bukan haknya. Kemiskinan itu sudah dianggap sebagai hal yang biasa atau mungkin sebagai penghias gedung-gedung yang menjulang tinggi bak pencakar langit. Bukankah ini hal yang sangat membuat hati perih? Sehingga tidak heran jika Indonesia berada di posisi 124 dalam kesejahteraan di kancah internasional berdasarkan hitungan Development Report 2011.
Korupsi sudah mengakibatkan kesulitan dalam masyarakat yang tidak ada ujungnya. Namun praktik ini semakin subur seiring dengan banyaknya kasus yang terungkap dalam pemerintahan Indonesia. Ironisnya pula, masyarakat di Indonesia tidak lagi percaya dengan pemerintah sehingga hal ini akan menyebabkan tidak adanya kontrol tehadap pemerintah. Penulis berpendapat demikian karena dari fenomena masyarakat yang ogah-ogahan untuk memilih pemimpin ketika dia tidak diberi uang yang disebut-sebut sebagai ganti dari gaji kerjanya selama sehari tersebut dan ketika dia tidak mendapatkan uang, dia lebih memilih untuk kerja dibandingkan memilih pemimpin.
Dari berbagai segi yang telah disebutkan, seolah-olah Indonesia akan terus menuju kepada kemunduran sehingga pemerintah harus memperbaiki citra agar masyarakat tidak apatis dengan kejadian-kejadian yang menjadi masalah bersama. Pemerintah harus kembali kepada tugasnya yakni menjadi fasilitator rakyat dalam mewujudkan kemakmuran di Indonesia. Karena kepercayaan rakyat sudah dalam titik nadir yang mengkhawatirkan jika tidak segala ditangani.
Penyalahgunaan kekuasaan oleh kaum birokrat seperti sudah menjadi budaya yang mendarah daging. Seperti dalam tubuh DPR yang seharusnya ia menjalankan amanat rakyat untuk menyampaikan aspirasi malah jarang hadir dalam pembahasan masalah rakyat dan ini merupakan bentuk sebuah korupsi pula, yakni korupsi waktu dan termasuk juga memakan gaji buta.
Lalu siapa yang dapat memperbaiki keadaan yang sudah tidak keruan tersebut? Penulis menaruh harapan besar kepada pelajar muda yang merupakan agent of change untuk turut dalam melakukan perubahan di Indonesia. Di tangan-tangan itulah diharapkan tumbuh pemimpin-pemimpin yang akan memakmurkan Indonesia. Para pelajar muda harus memprioritaskan intelektual dengan tidak menafikan perpolitikan. Meski pada kenyataannya pendidikan di Indonesia tidak mengalami kemajuan signifikan malahan mengalami kebobrokan.
Korupsi-korupsi yang terjadi di Indonesia tidak lain juga disebabkan adanya krisis moral. Dengan demikian masyarakat harus menjadikan moral sebagai pijakannya untuk melangkah ke depan. Karena tanpa adanya moral maka negara ini tidak akan mengalami perbaikan malahan akan menjadikan semakin dalam bobrok. Meski masyarakat sudah kehilangan percaya namun perbaikan dalam segala hal masih dapat diupayakan untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih maju walau mungkin menurut sebagaian orang solusi ini adalah suatu hal yang utopis.
*Kader HMI Komisariat Ushuluddin dan Filsafat, Aktivis PIUSH.

Senin, 19 Mei 2014

MASIHKAH TERJAGA IDEALISME ITU?

Oleh Ulfiana
Berbicara tentang idealisme memanglah sangat membingungkan. Ketika aku membaca perjalanan Gie aku dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tak mampu menguraikan. Aku mempertanyakan, benarkah aku menjunjung idealisme itu? Atau aku malah terjatuh dalam kubangan lumpur yang menghalangi masyarakat untuk memandangiku? Atau aku telah berpaling ke dalam sikap yang membuatku gerah kala merasanya, yakni pragmatisme.
Mahasiswa yang katanya sebagai agent of change akankah benar-benar melawan sikap otoriter pemerintah yang telah menyudutkan masyarakat bawah? Gumulan tanya telah memenuhi pikirku yang semakin gundah. Aku tak menuntut mahasiswa-mahasiswa yang merupakan agen perubahan untuk menjadi idealis akan tetapi siapakah yang akan menjadi generasi bangsa yang tangguh menghadapi tantangan dunia. Meski demikian aku pun masih mempertanyakan di manakah posisiku.

Alangkah baiknya ketika kita memilih jalan untuk memperjuangkan tujuan-tujuan bangsa yang semakin tergerus oleh zaman yang serba instan. Karena mahasiswa adalah tumpuan bangsa sehingga apakah kita harus mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat kepada kita? Dan ternyata menjadi mahasiswa bukanlah sesuatu tugas yang mudah karena ditangan kita-lah masa depan akan terukir nyata. Jabatan memang suatu kemutlakan untuk digenggam namun ia haruslah dijadikan sebagai alat untuk mengubah dunia menjadi semakin baik karena Indonesia membutuhkan uluran tangan-tangan kita bukan malah menyuburkan praktik korupsi yang katanya semakin mendarah daging saja.

Catatan Tentang Selingkuh

Oleh Ramdhany
Dalam setiap kesempatanku mengisi materi di acara pelatihan kader di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam, aku sering mengatakan kepada peserta, mengapa Tuhan atau Allah itu sangat membenci dosa syirik?
Aku kemudian menjelaskan bahwa syirik berarti mengelingkuhkan atau berselingkuh. Seseorang dapat dikatakan syirik atau berselingkuh jika seandainya seseorang itu pada mulanya telah mengikatkan suatu komitmen kepada sesuatu, dan dalam konteks syirik berarti berkomitmen kepada Tuhan atau Allah. Akan tetapi di tengah perjalanannya, seseorang itu mengikatkan komitmen-komitmen yang lain kepada sesuatu selain Tuhan atau Allah.
Kemudian aku pun menganalogikan kasus tersebut dalam fenomena yang tejadi dalam konteks interaksi sosial. Seseorang dapat dikatakan selingkuh jika ia telah memiliki kekasih yang sah, baik sah menurut agama, negara, maupun suka sama suka.
Dampak dari perselingkuhan sangatlah fatal. Perselingkuhan dapat menyebabkan hubungan seseorang menjadi retak, hancur bahkan bisa memutuskan tali ikatan kasih antara satu dengan yang lainnya. Perselingkuhan merupakan pintu masuk bagi prahara kisah cinta yang berubah mejadi kebencian.
Berselingkuh berarti pula meduakan, mentigakan dan seterusnya. Artinya berselingkuh pada dasarnya menjadikan diri seseorang itu tidak bebas, atau terjajah, karena dirinya telah memiliki banyak sekali ikatan dengan sesuatu yang lian.
Maka sangatlah wajar jika seseorang akan merasakan cemburu atau benci yang teramat dalam kepada pasangannya yang melakukan perselingkuhan. Bahkan lebih jauh, jika seseorang berselingkuh, sudah bisa dipastikan tiada maaf lagi baginya.
Berselingkuh itu prilaku yang menyimpang dari thabi`at atau fitrah manusia. Jalan yang benar adalah ketika ia telah mampu mempertahankan komitmen awalnya pada satu hal saja. Manusia merdeka adalah ia yang tidak melakukan perselingkuhan, walau sepintas memang selingkuh itu terasa indah.

Senin, 21 April 2014

REFLEKSI HARI KARTINI

Oleh: Ulfiana
Kartini tidak hanya sekedar peringatan 21 April dengan mengenakan sanggul besar serta atribut kebayanya. Kartini adalah salah satu dari perempuan Indonesia yang ingin mendobrak budaya patriarkhi yang menjamur di Indonesia. Ia adalah perempuan tangguh yang tidak ingin ada diskriminasi dan pembedaan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki. Karena kedudukan keduanya itu setara yang bukan berarti sama rata. Mereka memiliki kesempatan yang sama dalam menempati posisi strategis dalam publik baik dalam pendidikan maupun lainnya. Karena pada masa Kartini ini perempuan tidaklah diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan tinggi layaknya kaum pria. Perempuan dipingit sampai tiba masanya dia untuk menikah. Selain itu, kehidupan dia sebagai Raden Ayu itu pun tidak membuatnya nyaman, di mana ia harus berjalan dengan lutut ketika menghadap ayahnya dan suaminya.
Sebagai generasi setelah Kartini, kita sebagai perempuan-perempuan Indonesia sudah selayaknya untuk melanjutkan perjuangan Kartini dalam mendobrak budaya patriarkhi yang masih menjamur. Perempuan memiliki hak yang sama dengan kaum pria sehingga steorotype yang sangat melekat pada diri perempuan itu harus bisa dihilangkan karena hal ini sangat merugikan. Dalam ranah publik pun perempuan masih dipandang sebelah mata bahwa ia adalah manusia nomor dua sehingga kekerasan terhadap perempuan dalam ranah publik masih sangat banyak. Mereka dianggap makhluk lemah sehingga dapat diperdaya seenaknya oleh kaum pria.
Kaum perempuan masa sekarang memang sudah memiliki kelonggaran dalam menyetarakan dirinya dengan laki-laki, seperti dalam pendidikan atau lainnya. Namun permasalahan yang masih saja menghantui perempuan adalah label yang menempel, yakni perempuan itu makhluk yang lemah. Sehingga di sana-sini kekerasan terhadap perempuan itu masih sangat mudah ditemui baik secara fisik, psikis, ekonomi, maupun secara seksual.
Memang perjuangan Kartini di masanya dengan perjuangan kita di masa ini sangatlah berbeda. Kartini menyuarakan keberatannya terhadap perempuan yang dipingit dan tidak diperbolehkannya untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sedang perempuan sekarang telah memiliki kebebasan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi namun pada masa sekarang ini adalah perjuangan untuk melawan dan menghilangkan steorotype yang melekat pada diri perempuan agar mendapat jaminan hak yang sama serta tidak lagi terjadi kekerasan di mana-mana. Namun substansi keduanya adalah sama yakni untuk menyetarakan hak dan kewajiban keduanya. Kawan, Hari Kartini perjuangannya tidak boleh terhenti hanya sampai pada 21 April tapi setiap hari adalah perjuangan untuk keluar dari budaya patriarkhi yang tak kunjung usai. Dan sekali lagi Hari Kartini bukan peringatan perempuan dengan adat jawanya- kebaya- dan make up tebal yang menghiasi wajah. Hari Kartini selayaknya untuk meng-upgrade semangat kita untuk melanjutkan perjuangannya dalam menuntaskan kekerasan yang tak kunjung usai. Dan perjuangan tersebut bukan hanya harus dilakukan oleh kaum hawa tapi juga pria.
SELAMAT HARI KARTINI

Ciputat, 20 April 2014

Jumat, 28 Februari 2014

Wisudalah Pada Waktunya

Wisudalah Pada Waktunya

Oleh : Ramdhany

Mahasiswa mana yang tidak ingin wisuda, jika pun ada mungkin itu mahasiswa yang "gila".
Ya, wisuda ! ! ! Sesuatu yang sering dipertanyakan bagi mereka yang sudah mengenyam pendidikan kuliah tepat atau lebih dari ambang batas kepantasan akademis yang sudah ditentukan yaitu 4 tahun atau 8 semester sampai dengan tahun ke 8 atau semester 16 dan selebihnya "DO".
Bang kapan wisuda? Tanya adik kelas. Pertanyaan itu seakan menjadi "momok" dan menjadi pertanyaan yang menggelitik telinga. Atau bisa dikatakan bahwa itu merupakan pertanyaan "haram" yang harus disimpan rapat-rapat.
Bagi mahasiswa tingkat akhir juga rupanya berbagai tuntutan untuk cepat wisuda datang dari berbagai kalangan, seperti adik kelas, kawan seperjuangan, keluarga, senior, calon istri/suami, dosen serta abang-abang penjaga warung kopi.
Ada beberapa alasan mengapa mahasiswa tingkat akhir itu telat atau belum diwusuda. Ada yang beralasan sibuk kerja, sibuk berorganisasi, ada yang nikah duluan, ada yang kebingungan bikin skripsi serta ada yang kewalahan menyelesaikan beberapa mata kuliah yang belum ada nilainya.
Ada juga beberapa mahasiswa yang beralasan bahwa buat apa wisuda cepat-cepat kalau seandainya status identitas pasca wisuda itu tidak jelas atau pengangguran.
Tapi pada intinya wisuda bagi mahasiswa adalah suatu janji yang harus ditunaikan di waktu yang tepat. Wisudalah pada waktunya ! ! !

Kamis, 07 November 2013

SUMPAH PEMUDA ITU SEBUAH VISI PROGRESIF BAGI YANG BERJIWA MUDA

SUMPAH PEMUDA ITU SEBUAH VISI PROGRESIF BAGI YANG BERJIWA MUDA 

Sumpah Pemuda adalah salah satu tonggak sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Seperti kita telah ketahui, ada tiga butir penting Sumpah Pemuda, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Tiga hal ini merupakan faktor penting bagi negara kita.

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Sesuai namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda. Mereka kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Para pemuda tidak lagi berjuang sendiri, melainkan bersamasama.Sebuah Refleksi…

Mengapa harus yang masih muda?! Pertanyaan ini tidak diposisikan dalam sebuah pertanyaan, akan tetapi ia merupakan sebuah manifesto, sebuah jawaban, sebuah keharusan, tentang masa depan bangsa, Indonesia! Kita, generasi muda, sudah saatnya untuk beranjak dari kungkungan konservatisme sebuah bangsa yang dipimpin oleh rezim “tua” yang tidak lagi punya cukup akal untuk merangkul beratus juta ummat yang notabene telah “melampui” definisi "masa lalu yang membunuh masa depan"; kaum tua dan keangkuhan patriarkalnya ! apa hal?

Masih ingatkah kita dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, Natsir? Mereka adalah sosok-sosok generasi muda awal-awal kemerdekaan yang memiliki semangat yang sama, semangat kemerdekaan! Mereka, tanpa mengesampingkan yang lain, adalah tameng sejarah awal kemerdekaan bangsa ini yang dengan sigap menjadi motor penggerak bagi setiap langkah bangsa Indonesia untuk selalu merdeka. Dan, ketika itu, mereka masih muda, dalam pengertian yang sebenarnya.

Kata ‘kemerdekaan’, sebuah manifesto yang tidak akan pernah selesai bagi bangsa, bagi masyarakat, bahkan bagi seluruh masyarakat di dunia ini. Untuk itu, motor penggerak kemerdekaan harus selalu berganti mesin, selalu dimodifikasi, agar tetap dinamis untuk menggerakkan speed, power and acceleration of democracy. Di antara beratus juta rakyat Indonesia pada kenyataannya, telah muncul “spare part-spare part” baru yang siap mengganti mesin-mesin lama yang tidak lagi sanggup melewati sirkuit-sirkuit kehidupan yang berkelok-kelok dan terjal.Inilah sebuah zaman di mana kompleksitas kehidupan sedang berjalan. Menegakkan tiang kemerdekaan tidak lagi berarti kesatuan, ketunggalan, penyeragaman, yang justru seringkali menjadi justifikasi untuk melakukan pemberangusan, penghancuran, penindasan terhadap realitas yang lain (otherness), perbedaan dan diversitas (diversity).

Kemerdekaan yang seutuhnya adalah kemerdekaan yang mengamini berbagai kearifan lokal (local wisdom), yang melestarikan asset-aset keberagaman (multiplicity), yang menumbuhkembangkan setiap –meminjam istilah Bennedict Anderson— komunitas-komunitas terbayang (imagined communities) yang selalu berimajinasi, mencipta, melahirkan kesatuan dan keutuhan bangsa Indonesia dengan cara pengungkapan yang berbeda-beda. Tentu saja, kemerdekaan semacam ini mungkin asing bagi mereka yang sudah sepuh (kalau boleh disebut demikian), tapi tidak bagi yang masih muda.

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA

Kado Terindah Untuk Ibu

Kado Terindah Untuk Ibu

Oleh : Ulfi Tsalj

Bismillahirrahmanirrahim

Sedetik terasa cukup rangkaian bunga yang diikat dengan tali bismillah itu dihadiahkan di 22 Desember esok. Hari Ibu hakikatnya bukan hanya pada esok hari tapi substansi yang selalu mengingatkan kepada kita akan perjuangan Ibu yang mampu mencetak pribadi-pribadi yang tangguh. Sebuah euforia bulan Desember untuk Ibu kita. Berbicara tentang Ibu memang tidaklah akan habis kata-kata karena ia tidak tergambar walau dideskripisikan. Tapi, hanya satu yang ku tahu tentang Ibu bahwa dia adalah wakil Tuhan. Ia diutus untuk menjaga insan-insan mungil yang dititipkan kepadanya. Ikatan cinta yang kuat antara Ibu dan anak pun tak bisa dipungkiri, karena Ibu berbicara dengan Bahasa Kalbunya, bahasa yang dianugrahkan oleh Tuhan kepada wanita  mulia itu

Kawan, sebuah kata yang indah melayang di telinga kita "Selamat Hari Ibu" tidak patut jika diucapkan pada hari yang diagungkan tanpa ada bakti dari laku kita? Genggaman tangan Ibu yang tak pernah lepas di kala kita senang atau bahkan sedih, akankah mampu dibayar hanya dengan kado indah di hari esok? Padahal pengorbanan, cinta, dan kasih sayangnya sepanjang masa hingga tak mampu dilukis walau di kanvas sutra.

Cinta dan sayangnya tak dimiliki oleh selainnya. Terbukti di saat aku dirantau, kawan atau bahkan sahabat tak mempunyai rasa yang mampu mengubah duri menjadi seindah mawar. Tapi, cinta Ibu bukan hanya di detik ini, ia mampu menjadi sesosok kawan di kala hatiku menegang dan ia mampu menjadi sahabat yang selalu mengajarkan aku akan arti berbagi, mengerti dan membalas budi. Meski ia dapat berposisi sebagai kawan dan sahabat tapi ia tetap berjiwa Ibu karena seorang teman datang di saat butuh sedang di saat hati ini pilu tak ada yang peduli apalagi mengerti. Cinta Ibu itu abadi dan tak mengenal pamrih, dekapannya selalu menghangatkan hati yang sedang rindu. Semoga Tuhan menyayangi layaknya cinta yang ia tampilkan dengan apa adanya kepada buah hatinya.

Sahabatku, sudah selayaknya kita torehkan tinta emas sebagai kado terindah untuknya, sebuah kado yang akan kita persembahkan di saat ia telah ringkih, di saat suaranya semakin lirih, dan di saat mahkotanya telah memutih. Apa yang harus kita hadiahkan? Membuatnya bahagia atau menorehkan arang di keningnya?

Kita akan selalu merayakan Hari Ibu. Dengan bakti dan segenap kerendahan hati, marilah kita rangkai kotak cinta yang dibalut dengan pita indah al-fatihah sebagai kado terindah yang kan selalu terhatur ba'da perjumpaan kita dengan Tuhan di setiap kita panjatkan do'a.:)

21 Desember 2012

Sabtu, 27 Juli 2013

Amandemen Sumpah Sang Mahapatih

Amandemen Sumpah Sang Mahapatih

Oleh Lina Sobariyah Arifin


Apa yang sebenarnya manusia cari di alam materi ini? Bergulat dengan ketidakpentingan yang hanya menyibukkan, tanpa ada hal yang benar-benar merubah suatu kebijakan, yang sudah tergembok oleh suatu adat kebiasaan. Sudah mulai skeptisisme mendominasi,mengurungkan niat untuk mencoba menghancurkan gembok berkarat yang terendam oleh lumpur hitam pekat yang mulai tak terindra kini.

        Apa yang sebenarnya kita cari di alam materi ini? Sebuah kesombongan langkahan kaki dan lirikan mata kosong yang berisikan kepongahan-kepongahan. Belum ada sebuah evolusi yang kita rasakan sekarang, baik dalam hal yang terkecil maupun menglobalisasi.

        Bagaimana kita memasukan kunci, jika gembok yang kita pegang sekarang sudah mulai tak kita kenali bentuk wujudnya? Teknologi tercanggih puntak berfungsi untuk merevolusi. Bersikap seperti apapun nanti, kita hanya mempunyai rencana-rencana panjang yang tak mampu menggoyahkan sedikit pun bangunan berpondasi kuat  ini.

        Teringat oleh sumpahnya sang Mahapatih. Yang ingin mempersatukan sebuah daratan, hanya untuk mendapatkan pengakuan kehebatan yangtak tertandingi. Dan akhirnya sumpah pun tersampaikan tanpa ujung yang menyenangkan, hanya karena satu lubang yang berisikan kerikil tajam.

        Dirasa kita mewarisi apapun yang ditinggalkan oleh sang Mahapatih, dan melanjutkan apapun yang tersirat dan tersurat dalam sumpah tersebut. Mempersatukan menjadi satu kesatuan dibawah satu payung keadilan “menurut sang Mahapatih”, yang kemarin sore sudah diblokir oleh sebuah kata “mati”.

        Perlukah kita melanjutkan tanpa mengamandemen sumpah tersebut? Mencari kembali celah dalam gembok yang sudah berkarat tersebut. Sangat perlu, karena untuk melanjutkan tongkat estafet yang diserahkan oleh sang Mahapatih, walaupun secara tidak langsung. Tetapi, perlu juga kita mengamandemen sumpah tersebut. Ya, amandemen sumpah sang Mahapatih. Merubah sedikit tujuan sumpah tersebut dengan ideologi-ideologi yang berbeda juga, bukan untuk menyatukan Nusantara menjadi satu, Majapahit. Tetapi menyatukan Indonesia menjadi satu, HMI.

        Menghijaukan kembali yang sudah kuning kerontang, menghijaukan kembali daratan tandus yang haus kekeringan, menghijaukan dan menginstal ulang hati-hati insan yang kosong akan ideologi, mereboisasi bulatan raksasa yang dihuni oleh manusia-manusia dengan berbagai macam ketangguhannya. Demi tercapainya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, yang diridhoi Allah swt. Amin, Yakin Usaha Sampai, Yang Penting Ushuluddin.

26 Juli 2013
Cilegon, 05 Ramadhan 1434

Kamis, 25 Juli 2013

Membaca Dibalik Bentrok FPI-Warga; “Who's Behind Who”

Membaca Dibalik Bentrok FPI-Warga; “Who's Behind Who”

Oleh Ali Topan Ds

Pada bulan Ramadhan, masyarakat sering dipertontonkan dengan aksi sweeping tempat-tempat hiburan malam yang dilakukan ormas Islam, Front Pembela Islam (FPI). Aksi sweeping tersebut cukup beralasan bagi FPI yakni amar ma’ruf nahi mungkar (menolak hal-hal yang tidak terpuji). Sweeping FPI seringkali menimbulkan kerusakan dan berujung bentrok dengan pengelola tempat hiburan tertentu.

Beberapa saat kemarin, Kamis (18/7) FPI terlibat bentrok dengan warga masyarakat. Sebagian sumber menyebutkan bahwa FPI tidak melakukan sweeping. Tetapi hanya konvoi simpatik di bulan Ramadhan. Namun, tiba-tiba ada warga yang menyerang massa FPI saat konvoi. Karena serangan tersebut, massa FPI kalut dan menabrak pengendara motor hingga tewas. Hal ini kemudian membuat amuk massa sekitar. Warga kemudian mengepung massa FPI disebuah masjid. Hingga aparat turun untuk meredakan bentrok tersebut.

Kemarahan warga terhadap FPI barangkali punya alasan kuat. Ormas Islam tersebut telah melakukan sweeping yang kerap kali meresahkan mayarakat Muslim. Aksi kekerasan yang dilakukan FPI dianggap telah mencoreng wajah umat Islam. Atas ulah FPI, Islam tidak jarang disebut agama kekerasan dan preman. Ketua PBNU, Said Agil mengatakan bahwa tindakan sweeping tidak dibenarkan dalam Islam dan kehidupan di negara hukum. Ia mendorong pemerintah agar menindak tegas ulah ormas tersebut.

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi berjanji akan menindak tegas jika FPI terus membuat aksi-aksi kekerasan. Ia akan mengajukan tindakan FPI ke Mahkamah Agung untuk dipertimbangkan keberadaannya sebagai sebuah organisasi. Presiden SBY pun tak ketinggalan, ia menyinggung bahwa atas ulah FPI tersebut, FPI telah kehilangan pesan-pesan Ramadhan.

Pada saat kritik menghujani FPI, FPI seakan tidak terima dan menyerang balik para kritikusnya. Menurut FPI, aksi sweeping yang mereka lakukan lebaih dikarenakan kekecewaan terhadap aparat kepolisian. FPI melihat lemahnya aparat untuk menindak penyelenggara hiburan malam di bulan puasa. Bahkan FPI menyerang balik penyataan SBY. Bahwa sebaiknya SBY tidak ikut campur urusan FPI, karena lebih baik ia mengurus kadernya yang tersandra kasus korupsi.

Lepas dari polemik tentang siapa yang salah dan benar, penulis menganalisa secara obyektif beberapa kejadian sebelum terjadi bentrok di atas. Pertama, UU ormas beberapa waktu yang lalu sempat menimbulkan polemik. Sebagaian besar menolak disahkannya UU tersebut. Meski pada akhirnya UU tersebut telah diketuk palu oleh DPR. Kini UU hanya menunggu teken dari Presiden. UU yang dianggap akan membatasi gerak ormas tersebut mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak. Muhammadiyah dengan tegas menyatakan menolak UU ormas karena didalamnya ada upaya menuju pemerintah yang otoriter memperlakukan ormas. Maka, dengan adanya kekerasan yang dilakukan ormas, pemerintah dapat melanggengkan tanda tangan Presiden berkaitan dengan UU tersebut.

Kedua, jika dikaitkan peristiwa bentrok FPI dengan deklarasi Wiranto-Hari Tanoe sebagai capres dan cawapres sepertinya tidak terlalu lama. Selama ini muncul dugaan bahwa FPI ada di “ketiak” jendral (purn) TNI tersebut. Ditinjai dari kacamata politk, bisa jadi peristiwa bentrok FPI tersebut adalah bagian pelemahan pamor Wiranto yang saat ini sedang genjar kampanye.

Terlepas dari egoisitas ideologi; upaya menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar; dan siapa yang punya kepentingan atas siapa, aksi kekerasan tidaklah dibenarkan. Masih banyak cara pencegahan kegiatan hiburan malam dengan cara yang lebih santun tanpa melibatkan bentrok. Sebagai negara hukum, tentu saja Indonesia sudah mengatur aturan mainnya.

Kamis, 30 Mei 2013

HMI KOMFUF : Mau Dibawa Ke Mana ?

HMI KOMFUF : Mau Dibawa Ke Mana ?
oleh Muflihun Hidayatullah

Politik ?
Aristoteles memaparkan, manusia pada dasarnya adalah binatang politik. Hakikat kehidupan masyarakat adalah hubungan satu sama lain. manakala manusia mencoba menentukan posisinya dalam masyarakat, berusaha meraih kesejahteraan pribadi dengan sumber yang tersedia, dan berupaya memengaruhi orang agar menerima pandangannya, maka saat itulah manusia berpolitik. Hal ini berjalan secara alamiah. Dengan pengertian luas ini, maka setiap manusia adalah politisi. Lanjut aristoteles, satu-satunya cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dan untuk membentuk kehidupan masyarakat yang tinggi adalah dengan berpolitik dalam kerangka organisasi yang membentuk tujuan bersama.
Jika kita telusuri politik lebih mendalam, maka kita akan menjumpai pengertian politik yang tidak semudah pemaparan di atas. Terjadi banyak pergolakan dalam politik; Tarik-menarik kekuasaan, pendominasian satu kelompok, kesepakatan sepihak, dan lain-lain. Perbedaan kepentingan menjadikan manusia berlomba untuk saling meningkatkan daya saing dan terkadang saling menciptakan jurang pemisah. Manusia yang tidak sadar dengan peran politik secara utuh akan terbuai dengan jurang-jurang pemisah tersebut, sehingga memunculkan pertikaian.          
Pergolakan HMI Struktural-Kultural
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir di tengah hiruk pikuk dunia mahasiswa dengan segala pergolakannya. Di satu sisi HMI merupakan organisasi perkaderan yang memiliki misi; terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang benafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala. Hal ini menyatakan bahwa HMI adalah organisasi yang bergelut pada aspek pengembangan keilmuan. Sedangkan, di sisi lain HMI sebagai sebuah organisasi yang sarat dengan nuansa politik, selalu memiliki percikan pertikaian antar kepentingan. Kedua hal tersebut, jika tidak dikemas secara rapi, maka akan menimbulkan dilema yang cukup meresahkan.
HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (KOMFUF) Cabang Ciputat merupakan salah satu anak kandung yang mengemban misi HMI. Tentunya, sebagai sebuah organisasi, Ia juga memiliki beberapa agenda politik, seperti Pemilu Raya (PEMIRA) kampus pada tataran eksternal dan kongres, Konferensi Cabang (KONFERCAB), Rapat Anggota Komisariat (RAK)  pada tataran internal.
Fakta di lapangan menyebutkan bahwa mereka yang mengusung calon ketua yang berbeda-beda dalam agenda politik tersebut selalu angkat kaki manakala calon yang mereka usung kalah dalam pertarungan di medan pemilihan. Ironisnya lagi, ketidaksukaan pada pemangku jabatan mulai tumbuh, sehingga berimbas melemahkan jabatan. Seakan tak mau kalah, pemangku jabatanpun hanya menampung kepentingan kelompoknya saja tanpa menghirukan kepentingan kelompok lain. Sementara itu, ada juga kelompok yang hanya ingin fokus pada dunia kajian keilmuan, karena mereka sudah lelah dengan suasana politik yang kejam dan kotor, sehingga mereka berlabuh pada prinsip bahwa politik tidak layak untuk digeluti. Ini merujuk pada pembedaan antara HMI struktural yang bekutat pada politik saja dan HMI kultural yang berkutat pada kajian saja, keduanya selalu dipertentangkan.     
HMI KOMFUF : Mau Dibawa Ke Mana ?
Pembiaran atas kenyataan dalam pergolakan HMI KOMFUF tersebut akan melahirkan jurang pemisah antara HMI struktural dan HMI kultural. Kita harus menyadari bahwa setiap pribadi memiliki kepentingannya masing-masing dan semua orang memiliki hak untuk mewujudkannya. Namun, satu hal yang harus kita jaga bersama, yaitu keutuhan HMI KOMFUF, karena hakikat berorganisasi adalah mewujudkan cita-cita bersama, sehingga perlu adanya koridor yang harus ditaati bersama, dan  tidak ada pembeda diantara kita. Bagaimanapun kerasnya arus politik dalam ber-HMI, perlu kita sadari bahwa ribuan adik-adik kita dengan wajah kosong sedang menanti sebongkah bimbingan.
Tulisan ini bukanlah sebuah penentuan arah laju HMI KOMFUF, akan tetapi sebuah gagasan kecil seorang kader atas apa yang ia lihat, jika kawan-kawan memiliki sendiri kompas yang menentukan arah HMI KOMFUF, silahkan pergunakan. HMI KOMFUF : mau dibawa kemana ? jawabannya ada di tangan kawan-kawan.  




 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube