Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Senin, 21 April 2014

UNTUK PEREMPUANKU

Oleh: Ulfiana
Benarkah itu cinta?
Menggumam dalam sukma
Namun sakit kala dirasa
Tapi bukan nyaman dalam dekapan

Benarkah itu cinta, wahai perempuanku?

Kala lelakimu mencium bibirmu
Mendekap hangat tubuhmu
Merayu manis dalam sunyimu

Benar itu cinta?
Kala lelakimu mesra membelaimu
Kala ia memandang dengan mata elangnya
Kala sejuta harapan dilontarkan

Tak berpikirkah kau, wahai perempuan?
Bahwa ia dalam dusta?
Hanya ingin menikmati aroma wangi tubuhmu
Membelai rambut ikalmu

Sadarilah, wahai perempuanku
Terkadang ia sedang dalam dusta
Dan ia tak sedang dalam cinta

Jagalah dirimu dari lelaki durjana
Mungkin kau adalah mangsa selanjutnya
Kenali, pahami, dan lawanlah

Ciputat, 20 April 2014

REFLEKSI HARI KARTINI

Oleh: Ulfiana
Kartini tidak hanya sekedar peringatan 21 April dengan mengenakan sanggul besar serta atribut kebayanya. Kartini adalah salah satu dari perempuan Indonesia yang ingin mendobrak budaya patriarkhi yang menjamur di Indonesia. Ia adalah perempuan tangguh yang tidak ingin ada diskriminasi dan pembedaan hak dan kewajiban antara perempuan dan laki-laki. Karena kedudukan keduanya itu setara yang bukan berarti sama rata. Mereka memiliki kesempatan yang sama dalam menempati posisi strategis dalam publik baik dalam pendidikan maupun lainnya. Karena pada masa Kartini ini perempuan tidaklah diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan tinggi layaknya kaum pria. Perempuan dipingit sampai tiba masanya dia untuk menikah. Selain itu, kehidupan dia sebagai Raden Ayu itu pun tidak membuatnya nyaman, di mana ia harus berjalan dengan lutut ketika menghadap ayahnya dan suaminya.
Sebagai generasi setelah Kartini, kita sebagai perempuan-perempuan Indonesia sudah selayaknya untuk melanjutkan perjuangan Kartini dalam mendobrak budaya patriarkhi yang masih menjamur. Perempuan memiliki hak yang sama dengan kaum pria sehingga steorotype yang sangat melekat pada diri perempuan itu harus bisa dihilangkan karena hal ini sangat merugikan. Dalam ranah publik pun perempuan masih dipandang sebelah mata bahwa ia adalah manusia nomor dua sehingga kekerasan terhadap perempuan dalam ranah publik masih sangat banyak. Mereka dianggap makhluk lemah sehingga dapat diperdaya seenaknya oleh kaum pria.
Kaum perempuan masa sekarang memang sudah memiliki kelonggaran dalam menyetarakan dirinya dengan laki-laki, seperti dalam pendidikan atau lainnya. Namun permasalahan yang masih saja menghantui perempuan adalah label yang menempel, yakni perempuan itu makhluk yang lemah. Sehingga di sana-sini kekerasan terhadap perempuan itu masih sangat mudah ditemui baik secara fisik, psikis, ekonomi, maupun secara seksual.
Memang perjuangan Kartini di masanya dengan perjuangan kita di masa ini sangatlah berbeda. Kartini menyuarakan keberatannya terhadap perempuan yang dipingit dan tidak diperbolehkannya untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sedang perempuan sekarang telah memiliki kebebasan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi namun pada masa sekarang ini adalah perjuangan untuk melawan dan menghilangkan steorotype yang melekat pada diri perempuan agar mendapat jaminan hak yang sama serta tidak lagi terjadi kekerasan di mana-mana. Namun substansi keduanya adalah sama yakni untuk menyetarakan hak dan kewajiban keduanya. Kawan, Hari Kartini perjuangannya tidak boleh terhenti hanya sampai pada 21 April tapi setiap hari adalah perjuangan untuk keluar dari budaya patriarkhi yang tak kunjung usai. Dan sekali lagi Hari Kartini bukan peringatan perempuan dengan adat jawanya- kebaya- dan make up tebal yang menghiasi wajah. Hari Kartini selayaknya untuk meng-upgrade semangat kita untuk melanjutkan perjuangannya dalam menuntaskan kekerasan yang tak kunjung usai. Dan perjuangan tersebut bukan hanya harus dilakukan oleh kaum hawa tapi juga pria.
SELAMAT HARI KARTINI

Ciputat, 20 April 2014

Rabu, 16 April 2014

AL-ISYĀRAT WA AL-TANBIHĀT (Isyarat dan Peringatan)






















Selasa, 08 April 2014

KONSEP HERMENEUTIK FRIEDRICH SCHLEIERMACHER















KONSEP HERMENEUTIK FRIEDRICH SCHLEIERMACHER[1]

Papi Udin
Abstraksi
Dalam lintasan sejarah, hermeneutik pada mulanya dipahami sebagai sesuatu yang eksklusif dan hanya berurusan dengan teks-teks tertentu. Bukan hanya khusus, hermeneutik juga digunakan sebagai interpretasi yang bersikap dingin kepada teks dengan menganggap teks sebagai sesuatu yang sepenuhnya objektif di luar sana. Seolah tanpa membawa kehendak jiwa pengarangnya. Terbatasnya wilayah teks dan diabaikannya peran sang penulis kemudian mendapatkan penolakan. Hermeneutik lalu diberikan jiwa dalam proses kerjanya sebagai upaya untuk memahami kehendak sang penulis yang menciptakannya. Lebih dari itu, ia juga dilepaskan dari sekat-sekat khusus dan merangsek masuk ke segala bentuk teks yang menjadikannya hermeneutika umum, serta menjelma menjadi sebuah studi baru yang dikenal sebagai “art of understanding” (seni pemahaman). Dan yang paling bertanggung jawab atas semua kemajuan besar hermeneutik ini adalah seseorang yang bernama Friedrich Schleiermacher.
Keywords:
Hermeneutika umum – seni pemahaman – lingkaran hermeneutik -  interpretasi gramatikal – interpretasi psikologis
I. Defenisi Hermeneutik
Secara etimologis, hermeneutik berasal dari kata kerja hermēneuein dan kata benda hermēneia, yang keduanya konon merujuk pada seorang penyampai pesan dewa yang memiliki kaki bersayap yang bernama Hermes.[2]
Ada tiga makna dasar penggunaan kata hermēneuein dan hermēneia ini di zaman Yunani kuno, antara lain:
1.      untuk mengekspresikan sesuatu dengan suara keras melalui kata-kata, disebut “to say”;
2.      untuk menjelaskan, sebagaimana menjelaskan suatu kondisi, disebut “to explein”;
3.      untuk menerjemahkan, sebagaimana penerjemahan sebuah bahasa asing, disebut  “to translate”.
Akan tetapi, karena dalam Bahasa Inggris ketiga makna ini bisa diartikan sebagai “to interpret”, maka kata kerja hermēneuein diartikan sebagai to interpret dan kata benda hermēneia diartikan sebagai interpretation.[3] Bukan tanpa alasan, sebenarnya penerjemahan bahasa Inggris menjadi interpretation –dan bahkan kata interpretation itu sendiri– berasal dari bahasa Latin yang digunakan untuk menerjemahkan kedua kata Yunani tadi menjadi interpretatio.[4] Pada akhirnya, terjemahan kata to interpret dan interpretation tersebut juga masuk ke dalam bahasa Indonesia dan diserap menjadi kata “menginterpretasikan” dan “interpretasi”.[5]
Memperhatikan aspek historis di atas, dan untuk menjaga kedekatan makna, maka penerjemahan hermeneutik yang selanjutnya akan digunakan dalam tulisan ini terutama adalah kedua kata tersebut (menginterpretasi/interpretasi), ketimbang kata-kata lainnya yang biasa digunakan untuk maksud yang sama seperti “menafsirkan/tafsiran”, atau “menerjemahkan/terjemahan”.
Seperti dijelaskan pada defenisi etimologis di atas, pada mulanya hermeneutik dimaknai sebagai ilmu interpretasi, khususnya terhadap eksegesis (terjemahan) Bibel. Tetapi pada perkembangannya, hermeneutik secara terminologi mengalami perluasan makna. Perkembangan makna tersebut dapat terlihat dari beberapa defenisi yang dimuat Richard E. Palmer, sebagai berikut:
1.      Teori eksegesis Bibel
2.      Metodologi filologis umum
3.      Ilmu dari semua pemahaman linguistik
4.      Dasar metodologis dari Geisteswissenscaften
5.      Fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial
6.      Sistem interpretasi, baik rekolektif maupun ikonoklastik, yang digunakan untuk memperoleh makna di balik mitos dan simbol.[6]
Keenam defenisi yang dikemukakan Palmer di atas sebenarnya menandai beberapa corak perkembangan hermeneutik yang berbeda satu dengan yang lain. Di antara keenam defenisi di atas, defenisi ketiga –ilmu dari semua pemahaman linguistik– adalah corak yang menandai pemikiran tokoh yang akan dibahas dalam makalah singkat ini; Friedrich Schleiermacher.
I. Hermeneutik Schleiermacher
Friedrich Schleiermacher bernama lengkap Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768–1834) lahir di Breslau dan melanjutkan pendidikan di University of Halle. Schleiermacher adalah sosok yang dikenal di wilayah filsafat, terutama Jerman, dan dalam studi teologi, khususnya Kristen Protestan. Namun kontribusi terbesar yang membuatnya dikenal secara umum adalah refleksinya yang secara serius memikirkan kembali tentang hermeneutik.[7]
Schleiermacher menduduki peran sentral dalam hermeneutik setidaknya karena dua hal:
1.      Ia melengkapi penafsiran gramatikal dengan interpretasi psikologis.
2.      Ia mengantarkan kepada analisis proses pemahaman dan menyelediki segala kemungkinan dan batas-batas pemahaman tersebut.[8]
Hermeneutika Umum
Saat ini tidak ada hermeneutika umum sebagai seni pemahaman, yang ada hanya berbagai bentuk hermeneutika khusus[9]
Seperti disebutkan di atas, di antara keenam defenisi hermeneutik yang disebutkan Palmer, salah satu di antaranya menggambarkan batasan hermeneutik bagi Schleiermacher. Defenisi ketiga, hermeneutik sebagai ilmu dari semua pemahaman linguistik diambil dari pemikiran Schleiermacher dalam memahami bidang pengetahuan ini.
Schleiermacher memandang hermeneutik sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentang pemahaman atau biasa disebutnya seni pemahaman (art of understanding). Pandangan ini secara radikal mengkritik sudut pandang filologis, dan menawarkan hermeneutik sebagai sesuatu keseluruhan aturan yang koheren secara sistematik, dan menjadi ilmu yang menggambarkan syarat-syarat pemahaman semua dialog.
Dari sini hermeneutik kemudian tidak saja dalam arti sempit sebatas hermeneutik filologis, tetapi kemudian menjadi “hermeneutika umum” (allgemeine Hermeneutik) yang menyediakan prinsip-prinsip sebagai dasar untuk memahami segala bentuk interpretasi teks. Di sinilah untuk pertama kalinya hermeneutik menjadi mendefenisikan dirinya sendiri sebagai ilmu pemahaman itu sendiri, dan bukan lagi sekedar bagian kecil dari beberapa disiplin ilmu tertentu.[10]
Seni Pemahaman
“Seni padanya yang ada memang aturan-aturan. Akan tetapi, aplikasi yang dikombinasikan dari aturan-aturan tersebut tidak bisa berubah menjadi aturan terikat”[11]
Seperti disebutkan di atas, Scheleiermacher memaknai hermeneutik sebagai seni pemahaman (art of understanding). Dalam konteks pemikiran Scheleiermacher, pemahaman sebagai sebuah seni dimaknai sebagai kemampuan untuk mengalami kembali proses mental penulis teks saat ia menuliskannya.
Sebuah upaya pembalikan di mana –jika sebuah teks bermula dari kondisi kejiwaan yang kemudian dituliskan dan menjadi sebuah teks baku– hermeneutik justeru berangkat dari teks yang sudah selesai tersebut untuk kembali dan melacak, tidak saja awal mula pembuatan, tetapi bahkan kondisi mental tempat mana teks tersebut lahir.
Oleh karena itu, pemahaman dalam konteks pemikiran Scheleiermacher adalah sebentuk rekonstruksi di mana ia dibangun dengan menggunakan dua bentuk interpretasi dalam interaksinya, yakni “gramatikal” dan “psikologis”. Kedua hal ini pula –gramatikal dan psikologis– yang kemudian menjadi prinsip-prinsip teorinya yang dikenal sebagai “lingkaran hermeneutis” (hermeneutical circle).[12]
Lingkaran Hermeneutis
“Pengetahuan sempurna selalu ada pada lingkaran jelas ini, di mana setiap bagian hanya bisa dipahami melalui yang umum mengingat ia adalah sebuah bagiannya, dan sebaliknya”[13]
Lingkaran Hermeneutis adalah salah satu konsep yang sering dirujukkan kepada Scheleiermacher. Berangkat dari konsepnya tentang pemahaman, ia menjelaskan bahwa pemahaman pada dasarnya adalah sesuatu yang bekerja secara referensial. Seseorang hanya bisa memahami sebuah teks saat ia dibandingkan dengan sesuatu yang lain yang sudah diketahui terlebih dahulu. Hal ini biasanya dilakukan dengan membandingkan antara bagian-bagian dan keseluruhan secara resiprokal.
Dalam sebuah teks misalnya, bagian-bagian kata tertentu hanya bisa dipahami dalam kaitannya dengan keseluruhan teks atau kalimat. Begitu juga sebaliknya, keseluruhan teks atau kalimat hanya bisa dipahami dalam kaitannya dengan bagian-bagian kata yang membangun susunan teks atau kalimat tersebut. Interaksi dialektis antara keseluruhan dan bagian dalam mencari makna ini tampak sebagai sesuatu yang terus berputar satu dengan yang lain membentuk sebuah lingkaran. Inilah yang kemudian dikenal sebagai lingkaran hermeneutis.
Mengingat lingkaran hermeneutis juga disusun dari prinsip gramatikal dan psikologis, maka ia juga mengasumsikan adanya elemen intuitif. Selain itu, dalam sebuah wacana, lingkaran hermenetis juga tidak saja mengakomodir aspek linguistik (bahasa), melainkan juga aspek materi yang dibicarakan (subjek).[14]
Interpretasi Gramatikal dan Interpretasi Psikologis
“Segala sesuatu harus dipahami dan diterangkan melalui pemikiran-pemikirannya [si penulis]”[15]
Pembagian gramatikal dan psikologis Scheleiermacher secara lebih jelas terlihat dalam teori interpretasinya. Interpretasi gramatikal berurusan dengan hal-hal objektif dan hukum-hukum umum, sementara interpretasi psikologis berkenaan dengan hal-hal subjektif dan individual.
Interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis lahir sebagai konsekuensi adanya hubungan antara bahasa dan pemikiran. Di ruang bahasa interpretasi yang muncul adalah “gramatikal”, sementara di ruang pemikiran yang mengemuka adalah interpretasi “psikologis”.
Interpretasi gramatikal menunjukkan cara kerja bahasa baik dalam struktur kalimat dan hubungan bagian-bagian pada sebuah karya, serta hubungannya dengan karya-karya lain yang sejenis. Pada interpretasi psikologis, fokus utamanya adalah menempatkan individualitas penulis dan karyanya yang dihadap-hadapkan dengan kehidupan dan karya-karya orang lain. Prinsip kerja keduanya pada dasarnya bersifat resiprokal seperti penjelasan yang ada pada lingkaran hermeneutis.[16]
Interpretasi psikologis pada dasarnya membutuhkan pendekatan intuitif. Oleh karena itu, jika pada pendekatan gramatikal cukup menggunakan metode komparatif dan berangkat dari yang umum kepada yang khusus dari sebuah teks, pada pendekatan psikologis, di samping menggunakan metode komparasi juga harus menggunakan metode “divinatory”. “[Metode] divinatory adalah sesuatu di mana seseorang merubah dirinya menjadi orang lain untuk memahami individualitasnya secara langsung”. [17]
Dari keseluruhan upaya yang dilakukan Scheleiermacher di atas, khususnya terkait interpretasi psikologis, yang menjadi tujuan paling utama Scheleiermacher seusungguhnya bukan untuk memahami sudut pandang psikologis sang penulis, melainkan kembali kepada teks. Sekali lagi pemahaman akan kondisi kejiwaan sang penulis hanya sebuah cara untuk mengantarkan seseorang dalam memahami sebuah teks. Tujuan utama semua pendekatan tadi adalah untuk memperoleh akses penuh pada apa yang penulis maksud dalam teks-teks yang telah ia susun.[18]

REFERENSI
Blackburn, Simon, “Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher”, The Oxford Dictionary of Philosophy, New York: Oxford University Press, 2005
Bleicher, Josef, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method Philosophy and Critique, New York: Routledge, 1993
Nasional, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa, 2008
Palmer, Richard E., Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, USA: Noerthwestern University Press, 1988
Schmidt, Lawrence K., Understanding Hermeneutics, Stocksfield: Acumen, 2006
Vollmer, Kurt Muller-, The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present, New York: Continuum, 1990
W.M, Abdul Hadi, Hermenetutika Sastra Barat & Timur, Jakarta: Shadra Press, 2014



[1] Makalah ini disusun sebagai bahan diskusi untuk mata kuliah Comparative Study of Hermeneutics di ICAS-Paramadina, pada hari Jumat, 4 April 2014
[2] Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, (USA: Noerthwestern University Press, 1988), h. 13. Beberapa literatur menyamakan Hermes dengan tokoh-tokoh dalam kebudayaan lain, misalnya Merkurius dalam tradisi Romawi, Enoch dalam tradisi Kristen, Idris dalam tradisi Islam, dan Pushan dalam tradisi Hindu; lihat Abdul Hadi W.M, Hermenetutika Sastra Barat & Timur, (Jakarta: Shadra Press, 2014), h. 26-33
[3] Palmer, Hermeneutics, h. 13
[4] Lawrence K. Schmidt, Understanding Hermeneutics, (Stocksfield: Acumen, 2006), h. 6
[5] Interpretasi n pandangan teoritis terhadap sesuatu; pemberian kesan, pendapat, atau pandangan berdasarkan pada teori terhadap sesuatu; tafsiran; menginterpretasikan v menafsirkan; lihat Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008) h. 561.
[6] Palmer, Hermeneutics, h. 33
[7] Simon Blackburn, “Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher”, The Oxford Dictionary of Philosophy, (New York: Oxford University Press, 2005), h. 329-330
[8] Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method Philosophy and Critique, (New York: Routledge, 1993), h. 15
[9] At present there is no general hermeneutics as the art of understanding but only a variety of specialized hermeneutic”; lihat Kurt Muller-Vollmer, The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present, (Nwe York: Continuum, 1990), h. 73. Terjemahan Inggris versi lain menyebutkan, “Hermeneutics as the art of understanding does not yet exist in general manner, there are instead only several forms of spesific hermenutis”; lihat Schmidt, Understanding Hermeneutics, h. 10. Lain lagi dengan versi terjemahan Palmer, “Hermeneutics as the art of understanding does not exist as a general field, only a plurality of specialized hermeneutics”; lihat Palmer, Hermeneutics, h. 84. Meski demikian, maksud ketiganya persis sama.
[10] Palmer, Hermeneutics, h. 40
[11] Art is that for which there admittedly are rules. But the combinatory application of these rules cannot be rule-bound”; lihat Schmidt, Understanding Hermeneutics, h. 11
[12] Palmer, Hermeneutics, h. 86
[13] Complete knowledge is always in this apparent circle, that each particular can only be understood via the general, of which it is a part, and vice versa”; lihat Schmidt, Understanding Hermeneutics, h. 14
[14] Palmer, Hermeneutics, h. 87-88
[15] “Everything must be understood and explicated via his [the author’s] thoughts”; lihat Schmidt, Understanding Hermeneutics, h. 20
[16] Palmer, Hermeneutics, h. 88-89
[17] The divinatory [method] is that in which one transforms oneself into the other person in order to grasp his indivualitiy directly”; lihat Palmer, Hermeneutics, h. 90
[18] Palmer, Hermeneutics, h. 90

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More