BREAKING

Jumat, 14 Oktober 2016

Kejombloan; Batuloncatan Seorang Khalifah

Sudah menjadi rahasia bersama bagi para mahasiswa seantero Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta wa bi al-khusus mahasiswa semester V program studi Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin bahwa sanya Tuhan telah mengutus kembali seorang Khalifah di besmen Fakultas Ushuluddin untuk menumpas segala bentuk kejumudan dan kebodohan. Adalah Edy Marwoto, khalifah PIUSH Periode 2016-2017 M yang menggantikan serta melanjutkan misi dari Khalifah Saddam Husein sebagai pendahulunya.

berbeda dengan Khalifah Saddam Husein --baca sang khalifah piush; sadam husein -- yang sering menyakiti hati para kaum Hawa, Edy memiliki idealis tersendiri. jika Saddam adalah adalah hama yang direkomendasikan berada di saf depan yang layak mati disantap pestisida produksi revolusi hijau, maka Edy -- baca inilah lima jomblo kelas atas di ushuluddin -- adalah bunga yang tidak memiliki sari dan tidak akan layu oleh rayuan kumbang yang menghampiri, oleh karenanya ia tak layak untuk mati.

Menurut Edy, kejombloan yang ia yakini berada pada tingkatan sebaik baik taqwa. jika diposisikan pada tingkatan alam menurut Ahli Tashawwuf, maka kejombloan berada di tingkatan Alam Musyahadah. didalam kejombloannya Edy merasakan Kehadiran Tuhan sebagai Kebenaran yang Mutlak. berdalilkan bahwa sanya Tuhan itu Maha Esa adanya, Dia yang Awal sekaligus yang Akhir, dan pada akhirnya Tuhan akan selalu berada dalam kesendirian-Nya. maka Mulia lah bagi para jomblo karena dia menemani Tuhan didalam kejombloan-Nya. dan bagi Edy, ia memiliki dalil tersendiri yang kuat untuk mempertahankan kejombloannya, yang di kutip dari QS. At-Taubah ayat 129 yang berbunyi:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (١٢٩)

Pada ayat diatas, Edy memahami bahwa term "Tawallaw" yang berarti "Berpaling" memiliki bayak kandungan makna seperti: dikhianati, dibenci, tak dianggap, atau segala bentuk kedukaan dalam bercinta. 

Lantas, bagaimana cara Edy untuk mengisi waktu luang nya sebagai Khalifah PIUSH ditengah-tengah keadaan umat mahasiswa yang menjalani risalah perjuangan: "Penggiat PIUSH adalah mereka yang baca, diskusi, dan nulis. adapun selebihnya adalah jalan dan gandengan sama kaum hawa"? dengan seggala kekuulan Edy menjawab: "selow, laptop gue ada kok."

Maka atas dasar inilah, Edy bersyukur karena berangkat dari kejombloan, batulonjatan baginya dalam mencapai kekhalifahan di pojokan.

Semoga Khalifah Edy Marwoto tetap berada didalam jalan yang benar, tetap amanah.

Kamis, 13 Oktober 2016

Mahasiswa dan Kecenderungannya

Oleh; Fadhil Afrinaldi


Apakabar para Maba (Mahasiswa Baru dan Mahasiswa Batas Akhir)? Semoga selalu istiqomah dalam perjuangan nya sebagai mahasiswa.

berbicara tentang Mahasiswa, kawan-kawan pasti memiliki definisi yang berbeda. Sederhananya, Mahasiswa dapat disebut sebagai peserta didik tertinggi dalam seremonial jenjang pendidikan atau siswa yang sudah "maha". Demi meraih satu impian, proses yang dihadapi setiap mahasiswa dalam menjalani perkuliahan pastilah berbeda, hal ini suatu yang wajar terjadi dikarenakan adanya hak individual bagi setiap mahasiswa. Beragam macam mahasiswa di indonesia, ada yang kuliah hanya untuk mendapat ijazah, ada yang sekedar huru hara mengisi waktu luang, ada yang ingin menikmati proses belajar, berorganisasi, dan banyak lagi macam lain nya. Lantas, apa tujuan utama kawan-kawan menjadi seorang Mahasiswa? Apakah hanya formalitas belaka demi secarik kertas, atau apa?

Sebenarnya ada hal yang ingin saya tekankan ketika kita membahas perkuliahan, mahasiswa, dan kecenderungan nya ini. Kebanyakan mahasiswa masih terbuai dengan aktifitas mereka tanpa ingin memaksimalkan dan menyeimbangkan nya. Seperti yang diketahui, adanya istilah mahasiswa "kupu-kupu", yang mana aktifitas mereka hanya "kuliah-pulang", Sekedar mengikuti kelas dosen, copy-paste tugas melalui internet, presentasi kemudian pulang. Ada pula sebutan "organisatoris" atau "aktivis" Yakni mereka yang tidak hanya sekedar mendengar ocehan dosen di kelas, tapi juga aktif dalam organisasi intra atau ekstra kampus, forum diskusi, berpikir kritis, atau ikut berpolitik saja bahkan sampai turun ke jalan (baca: aksi). Jadi, kita harus menjadi mahasiswa yang bagaimana? Itu terserah kawan-kawan. Karena kawan-kawan adalah makhluk yang merdeka dan memiliki hak untuk memilih.

Menurut saya pribadi, akan lebih baik jika kita dapat menyeimbangkan antara ikut masuk kedalam kelas sebagai kewajiban dan menambah wawasan diluar kelas. Selain kita menjadi insan yang beriman dengan segala hal yang telah kita kaji di forum diskusi, kita juga menjadi insan berilmu dengan segala yang kita pelajari di kelas dan dari buku yang kita khatami, serta kita menjadi insan beramal yang mengaplikasikan segala hak dan kewajiban berdasarkan iman dan ilmu kita yang dibimbing oleh hari nurani sehingga kita selalu menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini.

Intinya adalah mahasiswa berada dalam keadaan yang balance antara belajar dan berproses, bukan hanya menghabiskan waktu di kelas, tapi juga berproses di luar kelas. Jadi, tidak hanya menjadi mahasiswa karbitan. Jangan sampai salah rumus, Jangan sampai jadi sarjana prematur. Mahasiswa seharusnya mengingat kembali niatnya untuk mencicipi bangku perkuliahan itu untuk apa. Apakah untuk balap-balapan wisuda? Atau ajang membanggakan diri karena berstatus "mahasiswa"? Atau mungkin hanya ingin pakai toga terus dipuji orang banyak?

Sebenarnya saya pribadi kurang setuju dengan sistem pendidikan bangsa ini yang masih begitu banyak mengandung pembodohan. Yang mana dari sekolah dasar, genarasi muda Indonesia ini diluluskan secara prematur, pelajar di-indonesia dibiasakan untuk cepat lulus (walau mereka tak mendapat ilmu maksimal dalam prosesnya) dan terus begitu sampai menjadi mahasiswa sehingga terbentuklah pemahaman bahwa  pembelajaran itu hanya "LULUS" dan yang diajarkan pun ialah bagaimana cara lulus dengan cepat. Tak peduli lulusan itu berilmu atau tidak, tak peduli mereka mau jadi apa, yang penting mereka cepat lulus titik.

Ini yang membodohi berjuta calon pemimpin bangsa. Mereka mendapat nilai yang tidak sesuai dengan ilmu yang mereka punya. Sederhananya, antara ilmu dan penilaian nya tidak real.
Tampaknya kita sudah sedikit melebar kawan-kawan. Tapi tak masalah, karena itu tanda dari kita sebagai mahasiswa yang mengkritisi segala fenomena yang bertentangan dengan nilai,norma,agama, dan rasio kita.

Jadi, kita tekankan sekali lagi. Kunci nya adalah "keseimbangan" antara akedemis dan non akademis.
Mungkin kawan-kawan sudah paham bagaimana jika kita hanya menjadi mahasiswa (kupu-kupu) yang hanya melakukan formalitas seremonial. Yang cuma ingin cepat lulus(meski ilmunya belum sesuai dengan nilainya). Begitupun jika kita menjadi aktivis tanpa mempedulikan akademis. Kita tentunya tak ingin menjadi mahasiswa basi yang tak kunjung lulus karena lebih fokus aktif dalam kegiatan non akademis saja (sampai jadi malas masuk kelas). Karena aktivis yang baik itu adalah yang bisa mengatur kapan waktunya berproses di luar, dan kapan waktu berproses di dalam. Fenomena-fenomena seperti ini tentu sudah sering kawan-kawan jumpai. Mereka ada yang hanya belajar di kelas lalu pulang. Ada yang cuma demo dan jarang ngampus. Yaah, pilihan ada pada diri kita masing-masing. Mau jadi apa dan bagaimana prosesnya, tergantung keinginan kita. Mau kita apakan Indonesia 10 tahun yang akan datang? Mau dimerdekakan, atau dihancurkan? Mahasiswa dan generasi muda sekarang lah yang akan menjawabnya karena ia merupakan makhluk bebas. Jadi, tujulah apa yang ingin kalian tuju, kemudian hadapi konsekuensinya.

Senin, 21 Maret 2016

Tentang Penolakanmu waktu itu

Oleh; Dedy Ibmar **




Malam ini, malam yang begitu dingin, angin bertiup lembut, namun bau matahari masih begitu akrab pada jendela kamar. Melupakan kekecewaan pada secangkir kopi yang malah dirayakan semut. Tepat disamping gelas terdapat satu bungkus rokok lengkap dengan korek api kayu yang biasa kugunakan. Laptop dan buku-buku belum sedikitpun kusentuh padahal niatan awalku ialah membuat suatu artikel untuk kukirimkan ke media masa.

Dari dalam, tampak didepan kost jalan masih basah dengan genangan air yang menyerbu langit sore tadi. Ntah karna cuaca yang sejuk atau apa, tiba-tiba lamunanku berubah menjadi melankolis. Pikiran itu menyerang dan menusuk hati hingga membuatku menarik nafas panjang dan memejamkan mata. Wajah itu.. dengan jilbab yang menutupi rambut, mata yang tajam, kedua pipinya penuh, yang jika dipandang dari dekat maka akan tampak sosok gabungan antara Dian Sastro dan Nabilah jkt48 (oke sipp, ini lebayy).

Aku masih ingat, disebuah acara OPAK, Tuhan berhasil mempertemukanku dengan dirimu. Sungguh pertemuan yang tak bisa terlupakan. Begitu membekas, dan masih terus membayang hingga sekarang.
Entah mengapa aku benar-benar telah jatuh cinta pada dirimu, aku tak tau apa alasannya. Aahh, bukankah cinta memang tidak butuh alasan?. Yang pasti aku bertemu, bercengkrama, berdebat, hingga akhirnya aku jatuh cinta padamu. Einstan sangat benar dalam hal ini. Ternyata waaktu begitu sangat cepat berlalu.

Dan seperti layaknya tokoh protagonis dalam serial drama korea, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku ini. sungguh, sangat ingin. Menahan diri untuk tidak menyatakan cinta padamu rasanya seperti menahan rokok sehabis makan. Sulit sekali.

Kemudian, suatu waktu, aku mencoba mengutarakan perasaan. Tapi sayang, meski betapa kuatnya kau mengetahaui kedalaman cintaku, kau tetap tidak bisa menerimaku. Sikapmu yang diam disertai dengan tetesan air mata, kuanggap sebagai penoakan halus. Ketika itu, aku sadar, mungkin kau masih kurang stres untuk bisa menerima lelaki seperti aku.

Setelah penolakan itu, beberapa kali aku terus mencoba yang pada akhirnya usahaku berbuah hasil. Cintaku diterima. Meski dalam hanya sekitar 6-7 bulan aku harus kembali kepada gelap dan meceritakan kehilangan.

Perjalanan itu menyadarkanku bahwa mencintai adalah menerima, termasuk segala hal yang memberatkanku. Aku akan membawanya seringan kapas untuk bergerak, sebebas merpati untuk tidak saling mengikat. Yang penting ia tahu bahwa aku menunggunya, aku membutuhkannya. Didepanmu, aku hanya ingin mencinta tanpa perlu banyak janji. Berdua bahagia sewajar dan sesederhana mungkin, tumbuh dan berkembang bersama menikmati fase hidup yang terjalani. Itu bayangah kebahagiaanku dulu.

Namun kini, cerita beserta angan-angan itu sudah berlalu. Entah apa yang sedang kau kerjakan. Tapi yang pasti, kau pasti tidak sedang memikirkan cerita kita.
Perlahan kudengar kabar bahwa kau sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Tentu itu kabar yang menyakitkan. Namun layaknya jagoan, aku berusaha untuk tenang dan sok kuul. Kendati perasaanku remuk dan ragaku mengamuk.


Aah, Jika mencintaimu adalah sebuah dosa, sudah pasti akulah orang pertama yang masuk neraka.


(Kutulis setelah aku menlintasi kostmu)

Lihat Profil Dedy Ibmar

Jumat, 18 Maret 2016

Timpang

Oleh: Sadam Husein **


Sewaktu siang saya sedang menikmati indahnya Alun-alun kota Pare, dengan antusias melihat di sekitar tanpa luput satu pun yang terlewatkan dari pandangan saya, cuaca yang panas namun asri menghiasi gedung dan penataan kota yabg rapih, dengan hiruk pikuk saat itu terjadi, sudah menjadi hal yang biasa ketika aku berada di ibu kota indonesia yaitu jakarta, yang justru lebih parah dari pada itu. Namun, tak Berbeda dalam menjalani aktivitas sehari-hari, ada yang sekolah, bekerja, Pedagang Kaki lima, sampai ada yang menarik becak motornya.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, seseorang dengan kelas ekonomi atas dapat saja merasakan segala kemewahan kehidupan dunia. Namun, beda halnya dengan ekonomi menengah kebawah. Sekiranya masyarakat indonesia merupakan contoh konkrit mengenai ketimpangan kelas ekonomi. Seseorang dengan kelas ekonomi bawah, jangankan memenuhi kehidupanya, untuk makan sehari-hari mereka pun harus mengucrkan keringat berlebih hanya demi sesuap nasi.

ketika sedang menikmati suasana dan secangkir kopi, seketika terpaku pada salah satu penarik becak motor, dengan muka tampak lesuh dan kecewa, dengan khas bau sinar matahari yang menyelimutinya, baju yang sederhana tampak menghiasinya, dengan langkah yang berat tak kuduga mendekati dan duduk di sampingku. Dia adalah bapak haryono, dia adalah salah satu warga pare jawa timur. sehari-hari dia bekerja hanya sebatas menarik becak motornya.

"Iya nih mas, saya sudah dari kemarin narik tapi belum ada satupun penumpang, jangankan makan ngopi pun saya ndak mas". Ketika dia menjawab pertanyaan saya perihal pekerjaan.
Dia melanjutkan, "mencari nafkah saat ini memang sangat sulit, saya tidak bisa menghidupi Ke empat anak saya. Maka saya terpaksa harus menitipkan mereka ke panti asuhan, dan istri saya pun yang entah kemana meninggalkan saya, belum juga orang tua saya yang sakit-sakitan, belum lagi saya sendiri mas pusing saya mas."

Dari perkataan tersebut, saya menyadari betapa ketimpangan terjadi di Negri ini. Dibalik bangunan-bangunan kota yang megah dan kayanya alam Indonesia, hanya sebagian orang saja yang dapat merasakannya dan mendapatkan keuntungannya, tapi justru masih banyak orang-orang yang sama sekali tak pernah merasakan kenikmatan itu.

Akutnya permasalahan ekonomi, tak hanya membuat bapak haryono kehilangan keluarganya, bahkan bapak tersebut juga mulai sakit-sakitan. “Saya juga sering merasakan sakit perut”. Sambil menunjuk perut yang ada bekas jahitan luka yang jauh dikatakan sempurna.
Begitu teriris saya mendengarkan curhatan bapak ini, memang kehidupan saat ini di negri kita tercinta ini, bahwa tak semua bisa merasakan manisnya hidup yang kita jalani saat ini, tak seimbangnya pendapatan dengan kebutuhan, sehingga masyarakat kelas menengah kebawah seakan semakin terpuruk dan semakin pesimis menjalani hidup.

Kebutuhan sandang dan pangan yang harganya semakin melunjak, ditambah lagi dengan harga BBM yang inkonsisten, membuat masyarakat yang notabene jelas menengah kebawah sangat merasakan betul asam manisnya kehidupan di negeri ini.Salah satunya harapan dari masyarakat hanya pada pemerintah untuk bagaimana mencari solusi atas kebijakannya untuk menaungi masyarakat menengah kebawah.

Lihat profil: Sadam Husein

Kamis, 17 Maret 2016

Trik-Trik Melawan Patah Hati

Oleh: IkhsanYaqub


Siapa yang tidak pernah patah hati? Bagi anda yang pernah mengalaminya, pastinya pedih tak terkira, ya? Langit runtuh, bumi bergemuruh. Makan tak kenyang, tidur pun tak nyenyak. Padahal dulu, ketika cinta baru menyapa, ‘tai kucing pun rasa coklat'. “Ah, lebay lu,” ledek seorang teman.
Lantas, mengapa segalanya menjadi terbalik? Apakah cinta memang di atas segala-galanya? sehingga begitu kapal cinta itu kandas diterjang badai, kita pun seolah-olah ikut tenggelam dan karam bersamanya.
Bicara soal patah hati, menurut banyak teman saya, adalah hal yang paling mengerikan di dunia. Coba, hitung saja alasan-alasan bunuh diri yang banyak diberitakan. “Ngga mau lagi deh, pokoknya lebih serem dari Zika (Virus yang sedang mewabah di Amerika Latin)”, keluh seorang teman.
Terus bagaimana agar kita tak terjangkit penyakit itu?  Begitu pasti anda bertanya. Dibawah ini adalah trik-trik yang saya tuliskan dari berbagai nasihat teman-teman saya, ketika saya terjangkit penyakit itu beberapa bulan lalu.
Trik pertama adalah, buatlah nominasi-nominasi (peringkat) ketika kita kesemsem dengan seseorang. “Maksudnya,” kata teman saya, “jangan sekali-kali suka dengan satu orang saja, sampai kita buta bahwa, diluar sana, ada banyak orang yang lebih baik dan hebat darinya.” “Tapi cinta ‘kan emang buta!” bantah teman yang lain.
“Soalnya,” lanjut teman saya menggurui”, “kalau kita tidak punya cadangan, kita akan kelimpungan sendiri. Kalau pakai nominasi begini kan asyik. Nominasi pertama gagal, tinggalkan saja, ganti nominasi kedua. Nominasi kedua mulai lapar (baca: ‘aneh-aneh'), ya ganti lagi. Ganti. Begitu seterusnya. Sampai puluhan nominasi pun tidak masalah, yang penting dunia persilatan aman, kan?” Tapi perlu digarisbawahi, jangan sampai orang yang dinominasikan itu tahu. Sebab kalau ‘beliau-beliau’ ini sampai tahu, wah, anda tahu sendiri lah akibatnya.
Trik yang kedua, curahkan setengah saja hatimu padanya. Dengan demikian, apabila gagal, kita masih punya setengah lagi untuk ‘ancang-ancang’ lagi. “Jatuh cinta ‘kan ibarat makan duren; kebanyakan mabok, kurang melongok,” seloroh seorang teman di tempat lain.
Ini penting, terutama bagi kaum hawa. Karena dalam mainstreem masyarakat patriarki seperti Indonesia, “Cewek kalau sudah bekas, harganya berkurang. Cewek ‘kan dinilai dari masa lalunya. Cowok mah enak, dinilai dari masa depannya. Jadi, sebobrok-bobroknya cowok, kalau dia anggota DPR, atau aktor bergelar ‘rising star', misalnya, yah, hapus sudah masa lalunya, sehitam apapun”, tutur seorang teman perempuan yang juga aktifis gender.
Jadi, meski anda sudah betul-betul falling in love, jangan lantas anda merelakan segalanya, bulat-bulat, buat dia. Ingat, mau seromantis apapun ‘modusnya’, tetap saja hanya omongan dan gaya belaka. Karena tidak ada hukum yang mengikat (pernikahan). Banyak omong dan gaya tidak banyak membantu, ‘kan?
Trik yang ketiga adalah, percaya dan yakinlah pada pameo lama: ‘lebih baik dicintai daripada mencintai', kata orang sih, itu juga kalau anda mau cari aman banget. “Mencintai ‘kan pekerjaan penuh resiko. Jadi kalau tidak mau resiko yang ‘jleb’ itu (baca: ‘patah hati'), ya sudah, nikmati saya ‘sajian’ (baca: ‘cinta’) yang sudah ada,” canda teman saya sambil terbahak. Terkecuali bagi anda yang mempunyai prinsip: ‘Tak ada rotan akar pun ngga usah sekalian'.
Nah, inilah trik pamungkas. Yakinlah bahwa jodoh itu ditangan Tuhan. Jadi jangan takut ngga kebagian, deh. Usahakan, namun hasilnya pasrahkan saja. Tidak ada betul-betul tahu dan mampu mengendalikan masa depan, bukan? Bahkan tidak ada manusia yang tahu sampai mana batas kemampuannya sendiri. Paling-paling kita hanya bisa ber-angan, berusaha, minimal berjanji lah.
Nah buat anda yang sudah/sedang patah hati, jangan mau terkena penyakit ini lagi. Sibukkan diri anda dengan hal-hal yang produktif, karena, mengutip Richard Brodie dalam bukunya ‘Virus of the Mind': “Hidup bukan hanya untuk makan dan berkembang biak saja.


Lihat Profil: Ikhsan Yaqub

Rabu, 16 Maret 2016

(Sementara) Cintamu Terlarang

Oleh : Dani Ramdhany**



Baiklah, setelah sekian lama saya bungkam tentang hiruk-pikuk narasi kehidupan ini, akhirnya mau tak mau, risalah sederhana ini harus jua aku tulis, meski dalam keadaan berat hati. Yak maklumlah, nasib mahasiswa injurytime.


Tentu risalah ini tidak bicara tentang wacana teologi, filsafat, tarikh, fiqh, ataupun tasawuf, melainkan tentang hubungan dua insan yang mengundang kontroversi dan kegaduhan di ruang publik.

Pada dasarnya, tidak ada larangan seseorang untuk menyukai objek apapun yang ada di semesta ini. Seumpama seseorang menyukai benda-benda tertentu, laki-laki menyukai perempuan, perempuan menyukai perempuan, dan begitupun sebaliknya. 

Hal demikian berdasar atas satu alasan bahwa rasa 'suka' atau 'cinta' merupakan anugrah Tuhan yang hadir begitu saja, tanpa ada paksaan.Seorang ibu mencintai anaknya, seorang buruh mencintai majikannya, kawan seperjuangan saling mencintai, dan bahkan kecintaan Nabi Ya'kub terhadap Yusuf melebihi kecintaannya terhadap sebelas anaknya yang lain adalah hal yang lumrah dan wajar.

Namun bagaimana dengan kasus Lesbian dan Gay yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan oleh khalayak umum.

Jika Lesbian dan Gay diartikan sebagai ketertarikan manusia kepada sesama jenis, maka tidak ada masalah serius terkait hal tersebut. Mengacu pada prinsip dasar tadi bahwa pada dasarnya manusia berhak mencintai siapapun dan apapun.

Namun, jika Lesbian dan Gay diartikan lebih dari itu, misal, setelah satu sama lain saling suka dan mencintai, kemudian mereka berhubungan seks untuk menyalurkan hasrat dalam jiwanya, maka disitulah masalah serius hadir.

Pertama, jangankan laki-laki ke laki-laki atau perempuan ke perempuan, yang 'normal' saja antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berhubungan seksual jika belum disahkan dalam ritual pernikahan.

Baik secara adat, agama, maupun hukum positif, seorang laki-laki diperbolehkan untuk menggauli perempuan jika antara keduanya sudah melakukan ijab-qabul pernikahan. Jika tidak demikian, maka yang ada adalah perbuatan zina dan melawan hukum.

Kedua, di Indonesia belum ada satu hukum yang dapat dijadikan acuan untuk para Lesbian dan Gay. Selama ini hukum yang mengatur perkawinan mengacu pada Undang-undang nomor 1 tahun 1974. Dan itu khusus perkawinan antara laki-laki dan perempuan.

Artinya, laki-laki tak dapat menikah dengan sejenisnya, begitupun dengan perempuan. Mengingat bahwa Indonesia adalah negara hukum, maka setiap apapun harus diatur dan dilakukan berdasarkan hukum yang berlaku, termasuk prihal Lesbian dan Gay.Bagi anda yang ditakdirkan untuk menjadi Lesbian atau Gay, bersyukurlah. Karena hal itu adalah anugerah Tuhan yang sangat langka. Jika anda ingin melakukan sesuatu hal yang melampaui batas kewajaran seseorang yang mencinta, 'puasa' dan bersabarlah. Karena jika tidak bersabar, malapetaka dan cibiran orang akan menghantam.

Jika eksistensi dan popularitas yang kau kejar, terlalu besar pengorbanan hidup jika sekiranya harus menjadi Lesbian ataupun Gay.

Untuk sementara, di sini dan untuk saat ini, (maaf) cintamu terlarang.

Lihat Profil: Dani Ramdhany

ASEAN Economic Community (MEA) of The Village Development

Gilang Ramadhan **

            The free market with the frame of ASEAN Economic Community will start rolling in 2015. The extent to which Indonesia 's readiness to deal with it ?ASEAN has outstanding advantages. Firstly, ASEAN has 600 million inhabitants. Then ASEAN also has an incredible diversity, has a mega such as Singapore, Jakarta, Kuala Lumpur, and its inhabitants are very rich. But on the other hand, ASEAN also has Laos, Myanmar. Well…, this range is so diverse that make the market become more widespread, not just in number but also has a breadth of products that can be sold.        

    Idealism of the MEA is not just a trade between countries but make ASEAN a production base to supply the world market.So where opportunity of Indonesia ?It is a paradox with a lot of exposure, both academics and government elite, who saw that Indonesia had to face an external enemy in the form of agricultural products from other ASEAN countries. Such exposures forget one important thing: could we face the rice Thailand and Vietnam when farmers in this country even more lost their access to land ? And then, How about the position of Indonesia as an agricultural country ?Indonesian farmers conditions today, in various regions, is quite alarming. BPS data in 2013 mentioned that there is a decrease in the number of households of farmers from the amount of 31,17 million in 2003 to 26,04 million in 2013. However, on the contrary, there is an increasing number of agricultural companies of 4086 the company became 5011 companies in 2013.     

     For more than a problem later on Indonesian rice whether it can compete with the rice farmer from Thailand or Vietnam. Because it is clear on paper, without land, our farmers have lost even before the MEA whistle sounded. We will not be able to talk about agricultural products without being planted. Without guarantees and subsidies from the state, of the low quality of our agricultural products will not be able to compete with any country. Finally clear; our society from all walks of consumption will rely instead on domestic production, but on the imported products that should be our production.     

    ASEAN Economic Community (MEA) has a tendency to pivot on the industries and the exclusion of those who live from natural products. This is further exacerbated by the fact that the ASEAN Human Rights Declaration, the points on the rights of farmers in the development have not been included. That is, the rights of farmers in a very vulnerable MEA related to regional integration projects are being initiated.

Lihat Profil: Gilang Ramadhan

Selasa, 15 Maret 2016

Besment Ushuluddin dan Para Pencari Inspirasi

Oleh: Dedy Ibmar**



Sulit bagi saya untuk tidak menyertakan Basement Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah sebagai spirit of human being. Saya jatuh cinta pada tempat ini karena pada beberapa derajat, ia jauh lebih mendewasakan dan mencerdaskan daripada apa yang dilakukan Pak Rektor kepada saya.

Mungkin basement adalah ibu saya yang lain. Berkali-kali dibuat jatuh cinta, dibuat marah, dibuat patah hati, berkali-kali juga saya dibuat tak berdaya dan bersimpuh diam ketika dunia sudah kepalang brengsek.

Di basement itu saya menemukan terlalu banyak alasan untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Tentang bagaimana tempat ini memejalkan keinginan membaca saya pada titik paling tinggi, juga tentang bagaimana di tempat ini saya menemukan manusia-manusia getir yang begitu optimis menjalani hidup. Lebih dari itu, tempat ini adalah tempat dimana setiap kenangan bermuara hingga berujung haru.

Tentu saja terlalu banyak hal sentimentil yang bisa kita gali dari basementUshuluddin. Seperti kehilangan pacar, teman, rokok, kopi atau bahkan kehilangan akal sehat karena mengganggu latihan organisasi paduan suara kampus.

Tapi yang membuat basement Ushuluddin jadi istimewa, selain kopi, rokok atau gorengan adalah sesuatu yang menyangkut perasaan. Ya.. Itu cinta. Basement adalah tempat yang banyak mempertemukan dua hati. Ia adalah saksi dari sekian banyak kisah percintaan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ada banyak alasan mengapa mereka yang sudah berkarat di kampus susah untuk tidak nongkrong di pojokan basement itu. Basement itu terlalu banyak memiliki sudut-sudut melankolis yang menjadi kediaman kisah cinta yang putus baik karena berpisah maupun menikah. Ini saintifik, ilmiah. Jika tak percaya, coba tanyakan teman, rekan, senior yang pernah punya hubungan percintaan di pojokan basementushuluddin itu.

Pernahkah kalian merasakan senja yang beranjak roboh (meskipun tak terlihat karna ditutupi tujuh lantai gedung Ushuluddin) sambil mendengarkan azan magrib di pojokan basement itu? Mendiskusikan logika (mantik) seraya menikmati sejuk sore dengan corat-coret lantai? Bermuka pucat karena tak tidur semalaman hanya untuk memandang perempuan pujaan masuk ke ruang kelas? Aah, mungkin itu hanya saya.

Bagi saya, basement itu seperti kesadaran, ia menjadi penting bagi banyak orang karena membuat tiap-tiap yang nongkrong punya rasa memiliki yang kuat. Buktinya, entah siapa yang punya kopi, tetap akan diminum dengan muka polos dan tak bersalah. Basement juga bisa disebut sebagai pengorbanan, karena di tempat ini kamu dipaksa menerima fakta keji yang demikian pahit, bahwa sahabat terbaikmu menjadi pengkhianat karena telah menikungmu dari belakang.

Di basement itu pula kalian dapat belajar bahwa uang bukan segalanya, mungkin ia bisa memberimu banyak hal. Tapi di tempat ini, kebersamaan dan keberadaan teman yang selow, kurang piknik dan punya energi ceng-cengan yang melimpah-ruah adalah alasan untuk tetap hidup. Di tempat ini kalian akan menemukan keriangan-keriangan goblok, tolol, namun dibungkus dengan bahasa kefilsafatan yang akademis. Meskipun hal itu berlangsung monoton (itu-itu doang) namun sama sekali tak mengurangi kadar serta kualitas kelucuannya.

Di basement itu kalian akan merasakan bahwa menjadi bodoh dan tak tahu apa-apa bukanlah pilihan. Di tempat ini terlalu banyak sumber pengetahuan yang membuat orang paling goblok, setidaknya bisa memahami hidup dengan membaca, berdiskusi atau sekadar kursus singkat dari para pencari inspirasi.

Sekiranya, makna-makna itulah yang mungkin tak dapat dijangkau oleh kalian “Dede Rosyada and The Geng”. Kebanyakan anda-anda semua hanya melihat basementsebagai tempat kotor dan kumuh yang hanya layak diinjak-injak untuk dilewati. Larangan merokok serta lulus lima tahun merupakan sebagian kebijakan yang membuat mahasiswa mengurangi jadwal nongkrongnya. Bahkan yang lebih parah,basement sebagai tempat nongkrong penuh cerita itu saat ini telah dibentuk menjadi ruang-ruang yang tak begitu jelas.

Khusus untuk Pak Rektor Dede Rosyada tercinta, sekali-kali bapak benar-benar harus nongkrong di basement fakultas-fakultas, khususnya di Fakultas Ushuluddin yang semoga tidak akan bernasib sama dengan Basement Fakultas Dakwah yang kini sudah beralih fungsi. Dengan begitu, saya haq al yaqin bapak pasti akan merasakan sensasi seperti yang saya katakan di atas. Santai pak, nongkrong di basement nggakbakal digerebek teroris kaya di Starbucknggak bakal ditabrak Lamborgini, nggakmengandung Sianida juga pak. Semuanya aman. #RektorAyoNongkrong


Senin, 14 Maret 2016

Inilah Lima Jomblo kelas atas di Ushuluddin


Menjadi jomblo adalah perkara tersulit yang ada dalam kehidupan. Tidak ada yang mudah dengan menjomblo. Selain pranata sosial, tekanan keluarga dan kesunyian, menjadi jomblo juga selalu mengalami tekanan psikologis dari hari-kehari.

Nahh buat kalian mahasiswi UIN, ada kabar gembira yang akan saya jelaskan di sini. Untuk sementara lupakan hayalan-hayalan kalian mengenai Nicholas Saputra atau Ariel Noah. Kini PIUSH memiliki rekomendasi jodoh untuk kalian semua. 

Setelah melalui seleksi yang ketat, lebih ketat daripada seleksi lomba penyanyi berbakat yang ada ditelevisi, bekerja sama dengan Lembaga Survey Jomblo Indonesia, Maka PIUSH dengan bangga mempersembahkan lima jomblo berkualitas tinggi untuk anda dekati. Ingat, dekati saja, jangan dipacari. Biarkan mereka tetap sendiri agar tetap menjadi filsuf atau sufi.

5. Solihin (Anu)
Solihin Anu adalah Mahasiswa semester 4 yang paling berbakat di Aqidah Filsafat, Ushuluddin, UIN Jakarta. Ia dikenal dengan nama panggung "Anu". layaknya Mahasiswa Filsafat yang lain, Anu cukup idealis dalam hal percintaan. Ia tidak akan mau mengejar seorang gadis, kecuali gadis itu sendiri yang mendatanginya. Tapi mau sampai kapan Anu ?? aahh sudahlah.

Sebagai pemuda harapan entah siapa, Anu telah berjasa besar dalam menghidupkan kajian pojok inspirasi ushuluddin (PIUSH). Bisa dihubungi dibesment ushul.

4. Edi Marwoto
Jomblo kita yang satu ini adalah gabungan filsuf mahsyur Schopenhauer dan Basiyo. Tercatat sebagai mahasiswa perbandingan agama yang jarang masuk kuliah hingga sekarang.

Edi merupakan sosok yang santai dan periang. Gosip yang beredar, sangking frustasi dengan kejombloannya ia bahkan rela berpacaran dengan leptop yang selalu ditentengnya. Edi Bisa dihubungi di besment ushul.

3. Muhammad Hamiem
Pria yang asal Rembang Jawa tengah ini, memiliki semboyan, "sombonglah selama Tuhan tidak melihat". Lantas pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan kepada Hamim, apa yang bisa disombongkan ? Hidup dalam kesunyian dan kesepian ??

Tercatat masih menjadi Mahasiswa Tafsir Hadis semester 6. Hamim, begitu ia disapa, dikenal menguasai par excellencestudi Alquran, Hadist, dan Filsafat. Dengan wajah yang jika diperhatikan kadar usianya melebihi Nabi Adam, sudah barang tentu Hamim punya kualitas idola.

Jika Anda tertarik untuk berbincang perihal pahitnya kehidupan, Anda bisa menghubunginya di besment ushul.

2. Mohammad Faqih
Tanyakan pada jagat mahasiswa seluruh kampus UIN, Jakarta, siapa Muhammad Faqih. Niscaya anda akan menemukan seorang sosok Marxist yang kaffah nan zuhud.

Faqih adalah salah seorang Aktifis Gerakan yang konsisten menyendiri dan menyendiri. Seluruh rekan-rekannya mengetahui kisah pahit drama percintaannya yang tak menegenal kata "Sampai". Bahkan faqih sukses menjadi "icon" perjombloan di Ushuluddin. Suatu prestasi yang luar biasa tentunya.

Jika "Syarukh khan" dalam film "Jab tak hai jan" berhasil menanti cintanya dalam puluhan tahun, faqih jauh melampaui itu pastinya.

Secara khusus Mahasiswa Tafsir Hadis ini memiliki darah biru dari Bekasi yang jika ditelusuri akan nyambung hingga nabi Adam. Anda bisa menghubungi beliau di besment ushul.

1. Ubaidillah
Dan inilah dia, sosok yang dianggap melampaui jomblo yang lain. Ia adalah ubaidillah atau yang biasa disapa Ubed.

Dikenal berwajah layaknya "boyband", Ubed selalu mengakrabi  kesunyian. Apakah karena memang tidak terlihat? Entahlah. Tapi dari beberapa sumber terpercaya, konon Ubed sedang mengejar cinta ala tirakat khusus yang telah mencapai taraf makrifat seorang sufi.

Mahasiswa Tafsir Gadis ini gemar menonton film drama Korea. Maka wajar saja, apabila ia hingga sekarang selalu bermimpi menjadi "Lee Min Ho"nya Ushuluddin. Silahkan sapa ubed di besment ushul.


D.I



Sang Khalifah PIUSH; Sadam Husein


"Waspadai, bangkitnya virus malas di kampus, kita tidak boleh memberi kesempatan virus itu menyebar dikalangan Mahasiswa". Sadam Husein




Bagi penonton program FTV kampus, nama Khalifah PIUSH Sadam Husein, tentu tidak asing. Terutama bagi deretan kaum hawa yang pernah tersakiti, nama nama Sadam Husein adalah hama yang direkomendasikan berada di saf depan yang layak mati disantap pestisida produksi revolusi hijau.

Bagi mereka yang berpikir pendek, nama Sadam Husein gampang sekali ditujukan pada Mantan Presiden Irak. Tidak salah, tapi perujukan itu sangat keterlaluan dan ahistoris tentunya. Mungkin, satu-satunya persamaan antar keduanya (selain nama pastinya) ialah mereka berdua merupakan pemimpin kaum jihadis.

Sadam Husein (Irak) itu pemimpin Irak yang siap sampai mati berperang melawan Amerika, sedangkan Sadam Husein (PIUSH) merupakan "khalifah" suatu forum kajian bernama PIUSH yang siap sampai mati melawan kejumudan dan kebodohan.
"Khalifah" merupakan sebutan bagi pemimpin tertinggi di Forum Kajian Pojok Inspirasi Ushuluddin (PIUSH). Layaknya khulafaurrasyidin, seorang khalifah PIUSH juga tentu saja mengemban misi kenabian dalam wilayah umat, dalam hal ini umat Mahasiswa yang cendrung pada kebenaran. Yakni Mahasiswa yang senantiasa mencari ilmu dipojok-pojok antah berantah yang samar tersebut.

Selain penggiat kajian, Sadam Husein juga merupakan Aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat Fakultas Ushuluddin & Filsafat (KOMFUF) cabang ciputat. Sebagai aktifis di organisasi bermotto Yakusa tersebut, tentu saja Sadam memiliki karakter layaknya seorang kader HMI Ciputat. Berwawasan luas dengan ilmu kefilsafatan, keislaman & keindonesiaan. Namun, dalam hal metode perjuangan, Sadam tak suka mengikuti arus. Ketika semua aktifis identik dengan Demo dijalanan, Sadam memilih untuk berpikir dan berdiskusi perihal wacana dan masalah.

Ketika rata-rata aktifis bernilai buruk secara akademis, Sadam Husein ternyata memiliki Nilai yang baik. Ketika semua-mua aktifis selalu berapi-api dalam berbicara, Sadam Husein selalu terlihat dingin dan kalem dalam berdiskusi.

Itulah khalifah PIUSH saat ini.  Rajin ibadah, suka menabung, membantu teman, sering menoolong orang menyebrang jalan pula. Sosoknya yang selow dan dingin begitu khas dalam karakternya. Sehingga, ia bagaikan manusia tanpa masalah. Seberat apapun permasalahan, bagi Sadam hanyalah merupakan secuil pelajaran yang harus dinikmati dan dijalanin.

Maju terus khalifah !!




 
Copyright © 2009 Piush.co
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube