Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Pojok Inspirasi Ushuluddin

Spirit of Human Being

Rabu, 16 April 2014

AL-ISYĀRAT WA AL-TANBIHĀT (Isyarat dan Peringatan)






















Selasa, 08 April 2014

KONSEP HERMENEUTIK FRIEDRICH SCHLEIERMACHER















KONSEP HERMENEUTIK FRIEDRICH SCHLEIERMACHER[1]

Papi Udin
Abstraksi
Dalam lintasan sejarah, hermeneutik pada mulanya dipahami sebagai sesuatu yang eksklusif dan hanya berurusan dengan teks-teks tertentu. Bukan hanya khusus, hermeneutik juga digunakan sebagai interpretasi yang bersikap dingin kepada teks dengan menganggap teks sebagai sesuatu yang sepenuhnya objektif di luar sana. Seolah tanpa membawa kehendak jiwa pengarangnya. Terbatasnya wilayah teks dan diabaikannya peran sang penulis kemudian mendapatkan penolakan. Hermeneutik lalu diberikan jiwa dalam proses kerjanya sebagai upaya untuk memahami kehendak sang penulis yang menciptakannya. Lebih dari itu, ia juga dilepaskan dari sekat-sekat khusus dan merangsek masuk ke segala bentuk teks yang menjadikannya hermeneutika umum, serta menjelma menjadi sebuah studi baru yang dikenal sebagai “art of understanding” (seni pemahaman). Dan yang paling bertanggung jawab atas semua kemajuan besar hermeneutik ini adalah seseorang yang bernama Friedrich Schleiermacher.
Keywords:
Hermeneutika umum – seni pemahaman – lingkaran hermeneutik -  interpretasi gramatikal – interpretasi psikologis
I. Defenisi Hermeneutik
Secara etimologis, hermeneutik berasal dari kata kerja hermēneuein dan kata benda hermēneia, yang keduanya konon merujuk pada seorang penyampai pesan dewa yang memiliki kaki bersayap yang bernama Hermes.[2]
Ada tiga makna dasar penggunaan kata hermēneuein dan hermēneia ini di zaman Yunani kuno, antara lain:
1.      untuk mengekspresikan sesuatu dengan suara keras melalui kata-kata, disebut “to say”;
2.      untuk menjelaskan, sebagaimana menjelaskan suatu kondisi, disebut “to explein”;
3.      untuk menerjemahkan, sebagaimana penerjemahan sebuah bahasa asing, disebut  “to translate”.
Akan tetapi, karena dalam Bahasa Inggris ketiga makna ini bisa diartikan sebagai “to interpret”, maka kata kerja hermēneuein diartikan sebagai to interpret dan kata benda hermēneia diartikan sebagai interpretation.[3] Bukan tanpa alasan, sebenarnya penerjemahan bahasa Inggris menjadi interpretation –dan bahkan kata interpretation itu sendiri– berasal dari bahasa Latin yang digunakan untuk menerjemahkan kedua kata Yunani tadi menjadi interpretatio.[4] Pada akhirnya, terjemahan kata to interpret dan interpretation tersebut juga masuk ke dalam bahasa Indonesia dan diserap menjadi kata “menginterpretasikan” dan “interpretasi”.[5]
Memperhatikan aspek historis di atas, dan untuk menjaga kedekatan makna, maka penerjemahan hermeneutik yang selanjutnya akan digunakan dalam tulisan ini terutama adalah kedua kata tersebut (menginterpretasi/interpretasi), ketimbang kata-kata lainnya yang biasa digunakan untuk maksud yang sama seperti “menafsirkan/tafsiran”, atau “menerjemahkan/terjemahan”.
Seperti dijelaskan pada defenisi etimologis di atas, pada mulanya hermeneutik dimaknai sebagai ilmu interpretasi, khususnya terhadap eksegesis (terjemahan) Bibel. Tetapi pada perkembangannya, hermeneutik secara terminologi mengalami perluasan makna. Perkembangan makna tersebut dapat terlihat dari beberapa defenisi yang dimuat Richard E. Palmer, sebagai berikut:
1.      Teori eksegesis Bibel
2.      Metodologi filologis umum
3.      Ilmu dari semua pemahaman linguistik
4.      Dasar metodologis dari Geisteswissenscaften
5.      Fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial
6.      Sistem interpretasi, baik rekolektif maupun ikonoklastik, yang digunakan untuk memperoleh makna di balik mitos dan simbol.[6]
Keenam defenisi yang dikemukakan Palmer di atas sebenarnya menandai beberapa corak perkembangan hermeneutik yang berbeda satu dengan yang lain. Di antara keenam defenisi di atas, defenisi ketiga –ilmu dari semua pemahaman linguistik– adalah corak yang menandai pemikiran tokoh yang akan dibahas dalam makalah singkat ini; Friedrich Schleiermacher.
I. Hermeneutik Schleiermacher
Friedrich Schleiermacher bernama lengkap Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768–1834) lahir di Breslau dan melanjutkan pendidikan di University of Halle. Schleiermacher adalah sosok yang dikenal di wilayah filsafat, terutama Jerman, dan dalam studi teologi, khususnya Kristen Protestan. Namun kontribusi terbesar yang membuatnya dikenal secara umum adalah refleksinya yang secara serius memikirkan kembali tentang hermeneutik.[7]
Schleiermacher menduduki peran sentral dalam hermeneutik setidaknya karena dua hal:
1.      Ia melengkapi penafsiran gramatikal dengan interpretasi psikologis.
2.      Ia mengantarkan kepada analisis proses pemahaman dan menyelediki segala kemungkinan dan batas-batas pemahaman tersebut.[8]
Hermeneutika Umum
Saat ini tidak ada hermeneutika umum sebagai seni pemahaman, yang ada hanya berbagai bentuk hermeneutika khusus[9]
Seperti disebutkan di atas, di antara keenam defenisi hermeneutik yang disebutkan Palmer, salah satu di antaranya menggambarkan batasan hermeneutik bagi Schleiermacher. Defenisi ketiga, hermeneutik sebagai ilmu dari semua pemahaman linguistik diambil dari pemikiran Schleiermacher dalam memahami bidang pengetahuan ini.
Schleiermacher memandang hermeneutik sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentang pemahaman atau biasa disebutnya seni pemahaman (art of understanding). Pandangan ini secara radikal mengkritik sudut pandang filologis, dan menawarkan hermeneutik sebagai sesuatu keseluruhan aturan yang koheren secara sistematik, dan menjadi ilmu yang menggambarkan syarat-syarat pemahaman semua dialog.
Dari sini hermeneutik kemudian tidak saja dalam arti sempit sebatas hermeneutik filologis, tetapi kemudian menjadi “hermeneutika umum” (allgemeine Hermeneutik) yang menyediakan prinsip-prinsip sebagai dasar untuk memahami segala bentuk interpretasi teks. Di sinilah untuk pertama kalinya hermeneutik menjadi mendefenisikan dirinya sendiri sebagai ilmu pemahaman itu sendiri, dan bukan lagi sekedar bagian kecil dari beberapa disiplin ilmu tertentu.[10]
Seni Pemahaman
“Seni padanya yang ada memang aturan-aturan. Akan tetapi, aplikasi yang dikombinasikan dari aturan-aturan tersebut tidak bisa berubah menjadi aturan terikat”[11]
Seperti disebutkan di atas, Scheleiermacher memaknai hermeneutik sebagai seni pemahaman (art of understanding). Dalam konteks pemikiran Scheleiermacher, pemahaman sebagai sebuah seni dimaknai sebagai kemampuan untuk mengalami kembali proses mental penulis teks saat ia menuliskannya.
Sebuah upaya pembalikan di mana –jika sebuah teks bermula dari kondisi kejiwaan yang kemudian dituliskan dan menjadi sebuah teks baku– hermeneutik justeru berangkat dari teks yang sudah selesai tersebut untuk kembali dan melacak, tidak saja awal mula pembuatan, tetapi bahkan kondisi mental tempat mana teks tersebut lahir.
Oleh karena itu, pemahaman dalam konteks pemikiran Scheleiermacher adalah sebentuk rekonstruksi di mana ia dibangun dengan menggunakan dua bentuk interpretasi dalam interaksinya, yakni “gramatikal” dan “psikologis”. Kedua hal ini pula –gramatikal dan psikologis– yang kemudian menjadi prinsip-prinsip teorinya yang dikenal sebagai “lingkaran hermeneutis” (hermeneutical circle).[12]
Lingkaran Hermeneutis
“Pengetahuan sempurna selalu ada pada lingkaran jelas ini, di mana setiap bagian hanya bisa dipahami melalui yang umum mengingat ia adalah sebuah bagiannya, dan sebaliknya”[13]
Lingkaran Hermeneutis adalah salah satu konsep yang sering dirujukkan kepada Scheleiermacher. Berangkat dari konsepnya tentang pemahaman, ia menjelaskan bahwa pemahaman pada dasarnya adalah sesuatu yang bekerja secara referensial. Seseorang hanya bisa memahami sebuah teks saat ia dibandingkan dengan sesuatu yang lain yang sudah diketahui terlebih dahulu. Hal ini biasanya dilakukan dengan membandingkan antara bagian-bagian dan keseluruhan secara resiprokal.
Dalam sebuah teks misalnya, bagian-bagian kata tertentu hanya bisa dipahami dalam kaitannya dengan keseluruhan teks atau kalimat. Begitu juga sebaliknya, keseluruhan teks atau kalimat hanya bisa dipahami dalam kaitannya dengan bagian-bagian kata yang membangun susunan teks atau kalimat tersebut. Interaksi dialektis antara keseluruhan dan bagian dalam mencari makna ini tampak sebagai sesuatu yang terus berputar satu dengan yang lain membentuk sebuah lingkaran. Inilah yang kemudian dikenal sebagai lingkaran hermeneutis.
Mengingat lingkaran hermeneutis juga disusun dari prinsip gramatikal dan psikologis, maka ia juga mengasumsikan adanya elemen intuitif. Selain itu, dalam sebuah wacana, lingkaran hermenetis juga tidak saja mengakomodir aspek linguistik (bahasa), melainkan juga aspek materi yang dibicarakan (subjek).[14]
Interpretasi Gramatikal dan Interpretasi Psikologis
“Segala sesuatu harus dipahami dan diterangkan melalui pemikiran-pemikirannya [si penulis]”[15]
Pembagian gramatikal dan psikologis Scheleiermacher secara lebih jelas terlihat dalam teori interpretasinya. Interpretasi gramatikal berurusan dengan hal-hal objektif dan hukum-hukum umum, sementara interpretasi psikologis berkenaan dengan hal-hal subjektif dan individual.
Interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis lahir sebagai konsekuensi adanya hubungan antara bahasa dan pemikiran. Di ruang bahasa interpretasi yang muncul adalah “gramatikal”, sementara di ruang pemikiran yang mengemuka adalah interpretasi “psikologis”.
Interpretasi gramatikal menunjukkan cara kerja bahasa baik dalam struktur kalimat dan hubungan bagian-bagian pada sebuah karya, serta hubungannya dengan karya-karya lain yang sejenis. Pada interpretasi psikologis, fokus utamanya adalah menempatkan individualitas penulis dan karyanya yang dihadap-hadapkan dengan kehidupan dan karya-karya orang lain. Prinsip kerja keduanya pada dasarnya bersifat resiprokal seperti penjelasan yang ada pada lingkaran hermeneutis.[16]
Interpretasi psikologis pada dasarnya membutuhkan pendekatan intuitif. Oleh karena itu, jika pada pendekatan gramatikal cukup menggunakan metode komparatif dan berangkat dari yang umum kepada yang khusus dari sebuah teks, pada pendekatan psikologis, di samping menggunakan metode komparasi juga harus menggunakan metode “divinatory”. “[Metode] divinatory adalah sesuatu di mana seseorang merubah dirinya menjadi orang lain untuk memahami individualitasnya secara langsung”. [17]
Dari keseluruhan upaya yang dilakukan Scheleiermacher di atas, khususnya terkait interpretasi psikologis, yang menjadi tujuan paling utama Scheleiermacher seusungguhnya bukan untuk memahami sudut pandang psikologis sang penulis, melainkan kembali kepada teks. Sekali lagi pemahaman akan kondisi kejiwaan sang penulis hanya sebuah cara untuk mengantarkan seseorang dalam memahami sebuah teks. Tujuan utama semua pendekatan tadi adalah untuk memperoleh akses penuh pada apa yang penulis maksud dalam teks-teks yang telah ia susun.[18]

REFERENSI
Blackburn, Simon, “Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher”, The Oxford Dictionary of Philosophy, New York: Oxford University Press, 2005
Bleicher, Josef, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method Philosophy and Critique, New York: Routledge, 1993
Nasional, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa, 2008
Palmer, Richard E., Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, USA: Noerthwestern University Press, 1988
Schmidt, Lawrence K., Understanding Hermeneutics, Stocksfield: Acumen, 2006
Vollmer, Kurt Muller-, The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present, New York: Continuum, 1990
W.M, Abdul Hadi, Hermenetutika Sastra Barat & Timur, Jakarta: Shadra Press, 2014



[1] Makalah ini disusun sebagai bahan diskusi untuk mata kuliah Comparative Study of Hermeneutics di ICAS-Paramadina, pada hari Jumat, 4 April 2014
[2] Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, (USA: Noerthwestern University Press, 1988), h. 13. Beberapa literatur menyamakan Hermes dengan tokoh-tokoh dalam kebudayaan lain, misalnya Merkurius dalam tradisi Romawi, Enoch dalam tradisi Kristen, Idris dalam tradisi Islam, dan Pushan dalam tradisi Hindu; lihat Abdul Hadi W.M, Hermenetutika Sastra Barat & Timur, (Jakarta: Shadra Press, 2014), h. 26-33
[3] Palmer, Hermeneutics, h. 13
[4] Lawrence K. Schmidt, Understanding Hermeneutics, (Stocksfield: Acumen, 2006), h. 6
[5] Interpretasi n pandangan teoritis terhadap sesuatu; pemberian kesan, pendapat, atau pandangan berdasarkan pada teori terhadap sesuatu; tafsiran; menginterpretasikan v menafsirkan; lihat Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008) h. 561.
[6] Palmer, Hermeneutics, h. 33
[7] Simon Blackburn, “Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher”, The Oxford Dictionary of Philosophy, (New York: Oxford University Press, 2005), h. 329-330
[8] Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method Philosophy and Critique, (New York: Routledge, 1993), h. 15
[9] At present there is no general hermeneutics as the art of understanding but only a variety of specialized hermeneutic”; lihat Kurt Muller-Vollmer, The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present, (Nwe York: Continuum, 1990), h. 73. Terjemahan Inggris versi lain menyebutkan, “Hermeneutics as the art of understanding does not yet exist in general manner, there are instead only several forms of spesific hermenutis”; lihat Schmidt, Understanding Hermeneutics, h. 10. Lain lagi dengan versi terjemahan Palmer, “Hermeneutics as the art of understanding does not exist as a general field, only a plurality of specialized hermeneutics”; lihat Palmer, Hermeneutics, h. 84. Meski demikian, maksud ketiganya persis sama.
[10] Palmer, Hermeneutics, h. 40
[11] Art is that for which there admittedly are rules. But the combinatory application of these rules cannot be rule-bound”; lihat Schmidt, Understanding Hermeneutics, h. 11
[12] Palmer, Hermeneutics, h. 86
[13] Complete knowledge is always in this apparent circle, that each particular can only be understood via the general, of which it is a part, and vice versa”; lihat Schmidt, Understanding Hermeneutics, h. 14
[14] Palmer, Hermeneutics, h. 87-88
[15] “Everything must be understood and explicated via his [the author’s] thoughts”; lihat Schmidt, Understanding Hermeneutics, h. 20
[16] Palmer, Hermeneutics, h. 88-89
[17] The divinatory [method] is that in which one transforms oneself into the other person in order to grasp his indivualitiy directly”; lihat Palmer, Hermeneutics, h. 90
[18] Palmer, Hermeneutics, h. 90

Senin, 31 Maret 2014

Merancang Epistemologi Baru dalam Konteks Keindonesiaan


Oleh: Fauzan Anwar
Melihat persoalan yang sangat kompleks dan multisegi saat ini, filsafat mempunyai sebuah tantangan dan proyeksi besar yang sangat layak dan mesti kita pikirkan dewasa ini . sesuai dengan gagasan yang dikatakan prof. Zainun Kamal guru besar fakultas ushuludin Uin Jakarta yaitu tentang "merancang sebuah epistemologi baru untuk Indonesia.”
Hal tersebut menurut saya harus ditekankan sekali sebagai respon intelektual untuk menyikapi persoalan yang carut marut dari segala bidang di negeri ini.
Saya kira, ada dua kekuatan utama di Indonesia, yaitu kekuatan Barat dan Timur yang diwakili oleh Islam, dalam menjalankan mesin kehidupan di Indonesia . Perlu diingat bahwa kekuatan dan epistemologi Barat yang banyak diadopsi oleh kita itu sangat erat kaitanya dengan sosial historis yang melatarbelakangi lahirnya epistemologi tersebut. begitu juga dengan Epistemologi Timur Islam.
Permasalahanya adalah tidak semua epistemologi tersebut relevan Dan dapat diterapkan secara membabibuta, karena hal tersebut bisa menjatuhkan tatanan sosial dan budaya di negara ini.
Dalam merancang epistemologi baru di Indonesia ini kiranya kita dapat memaksimalkan potensi kearifan lokal untuk diambil intisarinya sebagai pondasi awal untuk rancangan epistemologi tersebut. Selebihnya Mari kita pikirkan lebih jauh.

Selasa, 25 Maret 2014

PENGANTAR BERFILSAFAT

PENGANTAR BERFILSAFAT[1]
By: Papi Udin
Seiring perkembangan zaman, peradaban mengalami kemajuan luar biasa. Tetapi pada saat yang sama juga terjadi kemunduran secara sosial. Peradaban dipandang lahir dari kesuksesan para pakar sains yang menguasai jenis keahlian teknis tertentu. Semakin spesifik keahlian teknis mereka, maka semakin hebat posisinya. Sementara mereka yang memiliki keahlian tetapi bersifat non-teknis, khususnya yang berkutat di wilayah pemikiran dianggap tidak memiliki kontribusi besar, dan hanya bermanfaat pada waktu-waktu tertentu.
Di tengah kondisi seperti ini, di setiap periode zaman, terdapat sekelompok pemikir yang menggelitik kesadaran masyarakat bahwa benarkah kemampuan teknis dari mereka yang membangun perdaban adalah segalanya? Betulkah ilmu-ilmu pengetahuan yang dibangun sudah seperti kenyataan yang sesungguhnya? Bahkan, lebih jauh sekelompok pemikir ini membangunkan mereka yang terbuai dengan oleh kenyataan semu, dengan pertanyaan benarkah citra-citra atau gambaran-gambaran yang kita miliki persis sama dengan kenyataan hakiki? Para pengganggu yang tampak seolah kurang kerjaan inilah yang biasa dikenal sebagai para filsuf.
Mengenal Filsafat
Filsuf adalah mereka yang berfilsafat. Filsafat secara etimologis berasal dari dua kata Greek philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan), sehingga filsafat sederhananya berarti cinta kebijaksanaan. Filsafat sebagai sebuah pengetahuan memiliki sifat yang tidak saja berbeda, tetapi dalam beberapa hal sangat berseberangan dengan sains pada umumnya. Beberapa sifat yang melekat pada filsafat yang sangat berbeda dengan sains bisa dilihat dalam tabel berikut:

FILSAFAT
SAINS
Universal
Partikular
Simple (tidak tersusun)
Kompleks (tersusun)
Deduktif
Induktif
Premis Mayor
Premis Minor
Rasional
Empiris
Spekulatif
Eksperimentatif
Abstrak
Konkret
Unik/Satu
Plural/Banyak
Vertikal
Horizontal
Mengingat pada tabel di atas, filsafat memiliki beberapa sifat seperti universal, simple, rasional, dan satu, maka filsafat seharusnya berbeda dengan pandangan awam saat ini yang melihat filsafa sebagai ilmu yang luar biasa rumit. Dengan beberapa sifat tersebut filsafat seharusnya menjadi ilmu yang mudah, karena semua manusia memiliki potensi itu. Lalu bagaimana menjelaskan ribet-nya dunia filsafat? Jawabannya adalah karena para pemerhati filsafat seringkali hanya menyibukkan diri pada kutipan-kutipan, atau istilah-istilah, dan mengabaikan kerangka pemahaman yang semestinya simple, karena sifatnya yang sangat rasional dan universal (berlaku kapanpun dan di manapun).
Pada mulanya pengetahuan, dalam bentuk apapun, lahir dari interaksi manusia dengan realitas sekitarnya. Interaksi aktif ini kemudian melahirkan citra-citra atau gambaran-gambaran yang beragam, sejumlah dengan realitas yang bersentuhan dengannya. Sayangnya, sebagian besar manusia kemudian tidak bisa membedakan antara realitas yang mereka sentuh dengan gambaran-gambaran yang tercipta di benaknya, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang persis sama. Dari kekeliruan berpikir inilah, mereka kemudian memandang gambaran-gambaran mereka yang sesungguhnya subjektif menjadi sesuatu yang objektif, hanya karena mereka berinteraksi dengan orang-orang yang sepaham dengannya. Padahal, bagaimanapun juga pendapat relasi antarsubjek tetap berbeda dengan kenyataan objek. Yang mereka ciptakan bukan objektifitas, melainkan intersubjektifitas.
Realitas dalam filsafat dipahami tidak hanya satu lapis. Setidaknya ada dua lapis realitas yang perlu diketahui untuk mengenal hakikat kenyataan. Sains banyak bergerak pada lapis pertama realitas, sementara filsafat berkutat pada lapis keduanya. Dua jenis realitas yang terhubung dengan dua jenis ilmu dan hakikatnya masing-masing bisa dipetakan sebagai berikut:


Terma Arab
Terma Barat
Hakikat
Sains
المعقولات الاولية
Universalia Esensial
Esensi
(APA)
Filsafat
المعقولات الثا نية
Universalia Ekstensial
Eksistensi
(ADA)
Universalia Esensial disebut sebagai ma’qulāt al-awwaliyah (yang terpikirkan pertama kali) adalah karena esensi atau ke-APA-anlah yang pertama kali manusia cerap saat bertemu dengan realitas. Tetapi di balik esensi/ke-APA-an terdapat sesuatu yang menjadi tempat berdirinya. Sesuatu itu bernama eksistensi/ke-ADA-an. Karena eksistensi/ke-ADA-an hanya bisa dipahami setelah menyadari esensi/ke-APA-an, maka ia kemudian disebut sebagai ma’qulāt al-tsāniyah (yang terpikirkan kedua kali).
Tetapi benarkah antara APA (esensi) dan ADA (eksistensi) adalah sesuatu yang tidak persis sama? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan analogi berikut. Jika terdapat dua subjek yang berdekatan ­–sebut saja si A dan si B– maka secara esensial terdapat tiga entitas. Yakni, ada si A, ada si B, dan ada jarak antara si A dan si B. Tetapi, meski terdapat tiga entitas esensial, namun secara eksistensial hanya terdapat satu ada. Kenapa? Karena adanya si A, si B, dan jarak antarkeduanya tidak ada perbedaan. Ketiganya sama-sama ada, dan tidak terdapat perbedaan dari jenis-jenis adanya mereka masing. Dengan kata lain, secara esensial terdapat tiga keberadaan, tetapi secara eksistensial hanya ada satu keberadaan. Ini membuktikan antara APA dan ADA adalah dua hal yang berbeda.
Meski ada pembedaan tersebut, bukan berarti sains dan filsafat sama sekali tidak memiliki titik temu. Titik temu filsafat ini ada pada salah satu ilmu yang dikenal sebagai Epistemologi. Epistemologi berasal dari kata Greek, episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu, sehingga secara sederhana epistemologi diartikan sebagai ilmu tentang ilmu pengetahuan, atau ilmu tentang pemerolehan pengetahuan.
Pembedaan APA dan ADA ini juga sangat membantu untuk memetakan jenis pengetahuan yang lain:
1.      Mempelajari APA dengan APA à Sains
2.      Mempelajari ADA dengan APA à Filsafat
3.      Mempelajari ADA dengan ADA à Mistisisme

Mempelajari
Dengan
Ilmu
Apa
Apa
Sains
Ada
Apa
Filsafat
Ada
Ada
Mistsisme
Pertemuan Filsafat dan Islam
Pada mulanya filsafat masuk ke dunia Islam melalui Logika. Banyaknya perbedaan versi hadis dan tafsir yang berkembang di tengah umat Islam ketika itu berpotensi melahirkan perpecahan jika tidak ditengahi. Di sinilah Logika memegang peran penting dengan mengajarkan seleksi kebenaran sebuah hadis dan tafsir adalah seberapa logis pesan yang dimuatnya. Di situlah umat Islam mulai lebih banyak menggunakan akal sehatnya.
Meski demikian, pada perkembangannya para penguasa takut bila rakyatnya mahir dalam menggunakan akalnya, karena berpotensi mengganggu kekuasaan mereka. Oleh karena itu, dengan dalih Qur’an dan Hadits para penguasa memaklumatkan logika dan filsafat sebagai sesuatu yang berbahaya dan merugikan Islam. Maka di beberapa kalangan umat muncul istilah populer:

من تفلسف فقد تفس ومن تمنتق  فقد تجندق
Barang siapa yang berfilsafat maka dia fasiq
dan barang siapa yang bermantiq maka dia zindiq

Sejak saat itu filsafat kemudian mengalami mati suri untuk beberapa waktu. Filsafat kemudian kembali muncul dan berkembang pesat di dunia Islam pada zaman kholifah Harun al-Rosyid, yang konon disebut sebagai zaman keemasan Islam.
Di samping filsafat, di dunia Islam dikenal beberapa aliran pengetahuan yang pernah dominan mewarnai dunia pemikiran Islam. Aliran-aliran pengetahuan tersebut antara lain:
1.      Aliran-aliran Filsafat (المذاهب الفلفية), tokoh-tokohnya seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Nasrudin al-Tusi, dan Ibnu Rusyd.
2.      Aliran-aliran Kalam/Teologi (المذاهب القلامية), tokohnya misalnya para Ahlu Hadist, Mu’tazilah, Asy’ariah, dan lain sebagainya.
3.      Aliran-aliran Sufi (المذاهب الصوفية), misalnya thariqat-thariqat.
4.      Aliran-aliran Fiqh (المذاهب الفقهية).
Dalam filsafat, yang berkembang pertama kali adalah aliran Peripatetik –dalam Islam disebut Masya’i- yang sangat terpengaruh oleh pemikiran tokoh filsuf Yunani, Aristoteles. Salah satu karya besar Aristoteles yang membahas logika dan sangat besar pengaruhnya pada awal pertemuannya dengan Islam adalah Organon.
Kalam sendiri pada awal kemunculannya menorehkan sejarah kelam, di mana perdebatan-perdebatan awalnya menjadi berdarah hanya karena memperdebatkan persoalan yang sesungguhnya sepele. Seperti, apakah al-Qur’an itu khaliq atau makhluq? Apakah dia qadim atau hadits? Dan lain sebagainya. Diskusi tentang persoalan-persoalan tersebut bukan hanya melahirkan perbedaan, tetapi pertumpahan darah karena dipaksa berganti keyakinan. Tentu persoalan yang dibahas bukan sebatas masalah  kalamullah (firman Allah). Banyak persoalan lain seperti sifat Tuhan, akal dan wahyu,  serta kebangkitan di akhirat adalah beberapa persoalan yang juga ramai dibicarakan. Tetapi karena persoalan kalamullah itu yang dominan di masa awalnya, maka ilmu tersebut kemudian dikenal sebagai Ilmu Kalam.


[1] Tulisan ini disarikan dari bahan ceramah Dr. Muhsin Labib di kelas Filsafat Peripatetik, ICAS-Paramadina pada hari Jumat, 14 Maret 2014. 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More