BREAKING

Senin, 05 Juni 2017

5 Hal yang dilakukan anak kosan saat bulan puasa

Oleh; Fufu
@fuadyabsa1996
Sebagai mahasiswa sekaligus anak kos, tugas wajib saya memang untuk meneliti kegiatan dan aktivitas yang dilakukan anak kos setiap harinya. Tetapi ini agak spesial, karena bertepatan dengan momen bulan puasa, maka saya akan meniliti hal-hal apa saja yang dilakukan anak kosan saat bulan puasa. Metode penelitian yang saya gunakan adalah metode empiris subjektif total. Jadi, jika ada kesamaan tokoh dan latar belakang, itu hanyalah sebuah kebetulan dan tanpa di sengaja.
Apa itu anak kos? Siapa mereka? Anak kos, dalam sejarahnya sangat rumit sekali. Karena untuk mendapatkan gelar sebagai “anak kos”, maka perlu kiranya ibu kos atau bapak kos (seseorang yang mempunyai kosan), adanya bapak atau ibu kos, perlu adanya orang yang melahirkan bapak kos atau ibu kos. Dan seterusnya sampai kepada kesimpulan “madefakka”. Itu semua ulah Aristoteles. Jadi, maafkanlah.
Agar  tidak memperumit penjelasan tentang anak kosan, saya akan menjelaskan ala kadarnya. Anak kosan adalah anak-anak yang ngekos. Sederhananya demikian. Umumnya, anak kosan di sandang oleh mahasiswa perantauan yang tidak mempunyai tempat dimana ia tinggal. Makanya dia mencari tempat untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Nah, dari situlah gelar sebagai anak kosan di dapat.
Hal yang paling melekat dari anak kosan adalah uang pas-pasan. Dari segi financial, mari kita doakan bersama-sama agar Tuhan selalu bersama anak kosan. Demi menghindari maraknya pencurian di daerah setempat. Dan kepada BNN, gausah khawatir. Anak kosan bebas dari barang haram narkoba. Jangankan untuk beli narkoba, beli makan aja nyicil. Hari ini beli nasi, esok harinya beli lauk. Lusa baru beli es teh manisnya. Kalau rokok mah ada terus. Jadi, Don’t worry.
Bagaimana anak kosan menyambut bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan terhindar dari amarah? Inilah fakta menarik hal-hal yang dilakukan anak kosan saat bulan puasa.

1. Tidur

Semua manusia pasti mati
Anu adalah manusia
Maka anu mati
-Logika Deduktif Sederhana
Karena kita tahu setiap manusia pasti mati, maka perlu kiranya kita (sebagai manusia) perlu latihan sejak dini untuk menghadapi mati. Tidur adalah cara efektif untuk melatih mati.
Di Indonesia, puasa dilakukan kurang lebih selam 13 Jam. Waktu yang relatif lama untuk sekedar menahan lapar dan haus. Terlebih nafsu amarah yang menggelora. Untuk menghindari dari “batal puasa”, tidur adalah jawabanya. Anak kosan adalah manusia yang paling jago tidur. Karena ,mereka tidak memiliki aktivitas yang begitu penting. Toh, tidur di bulan puasa di hitung ibadah (dalil anak kosan). Bagaimana sholatnya? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.
Karena tidur di hitung ibadah, maka anak kosan berlomba-lomba untuk tidur se-lama mungkin. Kalau bisa sampai “buka puasa tiba”.

2. Main Play Station (PS)

Trik puasa yang paling umum adalah bagaimana caranya waktu berjalan dengan cepat, agar puasa terasa cepat. Ada beberapa anak kosan yang tidak bisa ibadah tidur dengan waktu yang lama. Maka ia melampiaskanya dengan cara “main ps”. Main PS dianggap ampuh untuk mempercepat waktu puasa. Dengan main PS, segalanya menjadi cepat. Seakan-akan matahari bergegas untuk ke kantor, lalun mengejarkan deadline.
Tapi, untuk hal ini, perlu merogoh kantong jatah buka bersama bareng kawan-kawan seperjuangan. Jadi, kalau kalian tidak punya kantong (punya kantong aja dulu, isinya mah nanti) jangan coba-coba untuk melakukan hal ini. Cukup kembali ke nomor 1 yaitu melakukan ibadah tidur.

3. Nonton Drama Korea

Siapa bilang yang nonton Drama korea alay? Nggak laki? Gampang nangis?. Wooy...nonton dulu, baru komen. Drama korea nggak se-alay FTV yang orang miskin ketemu orang kaya kemudian pacaran dan nikah, atau orang desa ketemu orang kota kemudian pacaran dan nikah. Hidup gak se-becanda itu meen.
Anak kosan yang tidak mampu untuk melakukan nomor 1 dan 2, umumnya lebih memilih mengahbiskan waktunya dengan nonton drama korea. Kenapa drama korea? Bukan hollywood atau bollywood?. Pasalnya, drama korea dalam satu filmnya terdiri dari beberapa episode. Mulai dari 16 episode sampai 24 episode. Dalam 1 episode, kurang lebih membutuhkan waktu 1 jam untuk mengahabiskanya. Kalau 20 episode, maka butuh waktu 20 jam untuk meng-hatam-kanya.
Nih, ada rekomendasi dari peneliti untuk menemani waktu puasa anda; Descandent of The Sun, Pinochio, Healer, Cheer Up, Remember. Maaf karena merekomendasikan drakor lama. Karena peneliti sudah tidak update.

4. Memburu Takjil

hal yang paling ditunggu saat bulan puasa adalah “berbuka puasa”. Setelah tidur ber-jam jam, atau setelah main PS, atau nonton drama korea. Sudah waktunya untuk melepas dahaga atau melampiaskan nafsu (makan) nya. Untuk melampiaskan itu semua, anak kosan berbondong-bondong datang ke masjid terdekat. Kenapa tidak memasak atau beli di warung makan untuk berbuka puasa? Eh, dalam pelajaran dasar ekonomi, kalau ada yang berkualitas dan murah, kenapa gak diambil. Kalau ada yang gratis, kenapa harus beli?.
Betul memang  bahwa bulan puasa akan meningkatkan ibadah kita kepada Tuhan semesta alam. Bukti konkritnya adalah orang-orang berbondong-bondong datang ke masjid untuk melaksanakan ibadah “buka puasa”. Sholatnya iya gak? Jangan tanyakan sholatnya. Itu hablumminallah.

5. Tidak Puasa

“Jikalau engkau tidak menjalankan ibadah puasa, lebih baik diam saja”
-Unknown

*Penulis adalah Anak Kos yang tidak Nge-Kos

Jumat, 26 Mei 2017

4 Alasan Kenapa Anda Harus Kuliah di UIN Jakarta

Oleh; Abdul Aziz Hakim
@hakimukemo

Adalah kuliah, salah satu jalan menggapai kesuksesan menurut sebagian masyarakat muda Indonesia setelah lulus SMA sederajat. Dengan beragam persepsi, baik yang jelas tergambar atau masih samar-samar dalam benak calon pengenyam pendidikan ini, kuliah masih menjadi pilihan bagi sepertiga masyarakat muda indonesia. Maka, bukan sebuah keabsurdan jika 30 persen tamatan SMA sederajat memilih kuliah sebagai proses mematangkan diri sebelum benar-benar mengarungi hidup yang sebenarnya di masyarakat. Lihat TEMPO.CO (07/06/14).
Sebagai calon mahasiswa, tidak kesemuanya dari mereka benar-benar memahami tentang apa itu kuliah, latar belakang kampus, atau dengan jurusan apa yang akan diambil. Bahkan biasanya ada beberapa calon mahasiswa yang asal-asalan menentukan tempat kuliah tanpa adanya dasar pengetahuan terlebih dahulu. Sebagian lagi malah ikut-ikutan teman tongkrongan dan ahirnya, salah jurusan.  "Teman saya kuliah di kampus itu, fakultas ini, jurusan ini. Yaudah, saya ikut kuliah disini". Ada yang seperti ini? Banyak.
Mungkin bagi kalian, (red. calon mahasiswa) sebelum  menghibahkan diri menjadi mahasiswa perguruan tinggi ; akademi, sekolah tinggi, atau universitas, alangkah lebih baiknya jika mempertimbangkan beberapa alasan-alasan dibawah ini kenapa anda semua harus kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai institusi pendidikan tinggi pengembang potensi diri.
1.UIN Jakarta banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional.
Salah satu kunci utama yang mempengaruhi kecerdasan seseorang adalah melalui pendidikan. Tempat pendidikan yang layak dan benar merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan kecerdasan paripurna seseorang. Berhasil tidaknya setiap pelajar berbanding lurus dengan tempat dimana mereka belajar. Adalah Nur Cholis Madjid, atau yang biasa disapa Cak Nur, tokoh legendaris yang wafat dua belas tahun silam ini, (Allahu yarham) merupakan salah satu alumnus UIN Jakarta (dulu IAIN) yang banyak mendedikasikan hidupnya untuk Indonesia, dan Islam lewat kejeniusan berfikirnya yang mampu membawa angin segar baru dalam dunia pemikiran Islam nusantara bahkan mancanegara.
Selain Cak Nur, dari segi pendidikan, ada juga Prof. Mohammad Atho Mudzhar (Rektor UIN Jogja periode 1997-2001) Prof. Oman Fathurahman (ahli filologi Islam pertama Indonesia) Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta dua periode yang namanya sempat masuk dalam bursa calon Kemendikbud waktu itu dan Azumardi Azra, (Sejarawan sekaligus orang Asia pertama yang diangkat sebagai professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia (2004-2009). Selain itu, dari segi pemerintahan, ada Ade Komaruddin, (Ketua DPR RI 2016-2017) Prof. Abdul Ghani, (Ketua MA 2014-2019) Prof. Amin Suma (Ketum Himpunan Ilmuan dan Sarjana Syariah) dan dari bidang Consulting politik, Saiful Mujanni, founder lembaga survei Saiful Mujanni Reserch and Colsulting, (SMSRC) Burhanuddin Muhtadi, (Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia) dan masih banyak lagi yang lain.
2.Tumbuh Pesatnya Dunia Organisasi 
Sebagai mahluk hidup, dimana pun dan kemanapun kita, tidak akan pernah lepas dari dunia organisasi. Baik organisasi pemerintahan, kemasyarakatan, kepemudaan, kelompok atau golongan-golongan tertentu. Bagi calon mahasiswa yang mempunyai jiwa organisatoris, jiwa yang selalu kepo dan ingin terus merasakan nikmatnya dinamika dalam berorganisasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jawabannya. Disamping mengetahui, kalian juga bisa bergabung dan belajar langsung dengan berbagai macam organisasi yang ada di UIN Jakarta beserta latar belakang dan dinamikanya masing-masing. Mulai dari organisasi ekstra kampus (HMI, PMII, IMM, KAMMI, GPPI, GMNI) intra Kampus, (DEMA, SEMA, BEM, HMJ, LDK, dll.) primordial, (HMB, Himabo, FKMB, Permata , Formla dsb.) alumni pesantren, (IKPM, IKPDN, HIMAM dst.) dan masih banyak lagi yang lain. Sangat cocok sekali dengan latar belakang mahasiswa organisatoris. Janganlah heran ketika nanti kalian mengetahui setiap kelombok atau komunitas diatas diorganisasikan.
3. Letaknya strategis dan multigeografis
hhhhh
Mayoritas pengambilan nama setiap universitas yang ada di Indonesia, selalu dinisbatkan kepada nama daerah dimana universitas itu berdiri. Seperti kampus Islam negeri yang bertempat di Malang, Jawa Timur. Diberi nama Universitas Islam Negeri Malang, (UIN Malang) Karena memang letaknya di Malang, bukan dengan nama daerah yang berada disekitarnya. UIN Kediri atau UIN Pasuruan, misalkan. Sama halnya UINSA (Sunan Ampel) Surabaya, UIN SUKA (Sunan Kali Jogo) Jogja, dan perguruan tinggi islam lainnya. Penamaan Universitas Islam negeri tak pernah luput dari nama daerahnya.
Tapi tidak demikian dengan UIN Jakarta. Bertempat di daerah Ciputat, Tangerang Selatan, tidak lantas menjadikan UIN Syarif Hidayatullah ini diberi nama UIN TANGSEL, (Tangerang Selatan) atau UINBAN (Banten), akan tetapi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Entah dengan alasan apa, atau mungkin biar keren, yang pasti selalu ada alasan dan makna tersendiri dibalik sebuah nama. Inilah yang mungkin menjadi keistimewaan dan keberkahan bagi UIN Syarif, penisbatan nama dengan 'Jakarta', sukses membuat nama UIN ini melambung tinggi dan terus dicintai selain aksesnya ke pusat kota Jakarta yang mudah.
4Pusat Peradaban Tangerang Selatan
Jika kalian Mahasiswa UIN Jakarta, atau warga sekitar kampus, mungkin slogan  "Ciputat is nothing without UIN" tidak akan asing lagi ditelinga. Patut dibenarkan kiranya karena lewat UIN lah, Ciputat, kecamatan kecil tempat gedung-gedung megah UIN Jakarta berdiri, kecamatan yang dulunya bukan apa-apa, kini mampu menjadi role model peradaban kecamatan lain yang ada di Tangsel dan bahkan Indonesia karena peradaban dan kemajuannya yang signifikan.
Segi ekonomi misalkan, ada ratusan orang yang ter-sukseskan bisnis dan usahanya karena mamanfaat kan peluang besar pasar puluhan ribu mahasiswa UIN Jakarta. Berapa ratus bahkan ribuan lapak usaha yang terus berdiri karena UIN ini. Dari pedagang kaki lima, kelontong, warung makan, aneka jajanan, poto copy, rental dan cafe-cafe besar yang labanya dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah tiap harinya, terus ada dan berkembang dari awal berdirinya UIN Jakarta hingga kini. Begitu halnya dari pendidikan, tidak sedikit mahasiswa, dosen bahkan alumni yang ikut mendedikasikan dirinya untuk ikut membantu tugas pemkot Tangsel mencerdaskan warganya. Mengajar di sekolah/universitas, menjadi guru ngaji sampai menjadi DAI dalam pengajian-pengajian, sudah banyak dilakukan dan tersebar disetiap wilayah Tangerang Selatan.

Itulah beberapa alasan kenapa anda harus masuk UIN Jakarta. Selain empat hal diatas, masih banyak lagi alasan lain yang menjadikan UIN Jakarta tetap banyak diminati oleh mahasiswa nusantara. Untuk kalian yang masih kepo, bisa langsung dateng aja ke kampus langsung. Atau bisa ke besmen-besmen di setiap fakultas. Khususnya fakultas Ushuluddin. Kalau hanya sekedar ngopi-ngopi, Insya Allah akan ada Kaka-kaka gemes yang sukarela dan senang hati berbagi alasannya masing-masing kenapa menjatuhkan pilihanya ke UIN Jakarta. Tapi buat kalian mahasiswi, perlu diketahui, basement tidak hanya tempat bertukar cerita dan ngadem saja. Harus hati-hati. Tetap merahasiakan nomer adalah jurus paling utama. Karena basement adalah salah satu tempat ampuh mahasiswa tua menebarkan bunga-bunga cintanya kepada mahasiwa-mahasiswa unyu yang masih baru.
Nah UIN Lovers, itulah sedikit alasan yang bisa saya paparkan. Sekedar informasi, setiap tahunya ada puluhan ribu calon mahasiswa yang mendaftar, dan UIN Jakarta  hanya menerima 4.000 mahasiswa baru saja. Bisa dipastikan kamu bakal bersaing dengan banyak sekali calon mahasiswa lainnya. Untuk itu, persiapkan dirimu dari sekarang ya, UIN Lovers. Selamat mencoba!!!

*Penulis adalah penyuka dedek unyu

Rabu, 17 Mei 2017

Apakah Nasib dan Kebetulan itu Takdir?

Oleh; Tafrichul Fuady Absa
@fuadyabsa1996
Dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali kita mendengar kata “Takdir”. Dalam Islam, takdir menjadi bagian dari kepercayaan yang termaktub dalam rukun iman yang ke enam. Percaya kepada qada dan qadar. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan takdir? apakah kebetulan itu takdir? apakah takdir itu bisa diubah atau tidak?
Takdir, dalam al-Quran digunakan untuk menjelaskan ketetapan Allah yang  berkaitan dengan Alam semesta. Hal ini Seperti disebutkan  firman Allah yang berbunyi “Dan dijadikan olehnya matahari dan rembulan dengan perhitungan yang tepat itulah taqdir oleh yang maha tinggi dan maha tau” (Q.S. al-an’am;96).
Dari penjelasan ayat diatas sudah sangat menjelaskan bahwa takdir itu datangnya dari Allah, dan demkian dari itu sudah diatur oleh-Nya. Maka dari itu, keteraturan alam semesta dan segala isinya tidak bisa lepas dari adanya Allah swt yang mengatur seisi alam semesta ini. Lantas bagaimana dengan perbuatan manusia? Apakah juga diatur oleh Allah?
Ada beberapa pendapat oleh para Mutakallimin atau kaum Theolog mengenai hal ini, pertama adalah kaum jabariyah yang beranggapan bahwa apapun yang kita lakukan hari ini, sudah ditentukan oleh Allah. Kita miskin, kita makan, kita mati, semuanya sudah diatur dan ditentukan oleh Allah. Manusia tak lain adalah wayang, dan Allah adalah dalangnya. Diibaratkan juga Allah sebagai penulis novel dari cerita tentang dunia ini. Yang mencakup alam semesta dan isinya. Juga sejarah umat manusia sudah ditentukan oleh Allah dari awal sampai akhir. Itulah anggapan dari kaum Jabariyah. Berbeda dengan Jabariyah, Mutakallimin yang lain yaitu faham Qadariyah, berpendapat bahwa amal perbuatan dan perilaku manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri. Tidak ada sedikitpun campur tangan Tuhan. Manusia bebas menentukan dirinya sendiri dan kehidupanya ditentukan oleh dirinya sendiri.
Perbedaan kedua aliran theologi diatas, di damaikan oleh faham Asy’ariah yang beranggapan bahwa segala sesuatu nya sudah ditentukan oleh Allah. Tetapi manusia mempunyai daya dan upaya untuk memilih. Allah dengan takdirnya sudah menentukan. Dan tugas manusia adalah memilih. ada mati ada hidup, ada baik ada buruk, ada salah ada benar. Tugas manusia adalah memilih diantara itu. Disitulah letak daya manusia.
Hal ini diperjelas lagi oleh Nur Cholish Madjid (Cak Nur) yang beranggapan bahwa Taqdir adalah ketetapan allah terhadap alam semesta atau bahasa sederhananya Hukum alam. Misalanya, api itu panas, es itu dingin, benda kalau dilempar keatas akan jatuh kebawah, dan hukum alam yang lain. Masalah amal perbuatan manusia, cak nur menjelaskan bahwa manusia memiliki ikhtiar atau usaha terhadap amal dan perbuatanya. Manusia juga mampu memanipulasi takdir dengan ilmu pengetahuanya. Misalnya, manusia pada dasarnya tidak bisa terbang, tetapi dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu memanipulasinya.
Jadi, takdir dalam artian generiknya tidak sama dengan nasib. Kita miskin bukan karena takdir, kita bodoh bukan karena takdir. karena kita mempunyai daya ikhtiar untuk mewujudkan agar kita tidak bodoh, atau agar kita tidak miskin. Singkatnya, takdir adalah hukum-hukum alam yang sudah ada sejak dari penciptaan. Takdir buka nasib, pun halnya dengan kebetulan, itu juga bukan takdir.

*Penulis di Takdir (kan) untuk Menulis ini

4 Tipe Mahasiswa yang Pasti ada di Setiap Kampus

Oleh; Tafrichul Fuady Absa
@fuadyabsa1996
siapa yang tak kenal dengan mahasiswa? tentunya hanya sedikit orang yang tidak tahu apa itu Mahasiswa. Mahasiswa adalah orang atau individu yang sedang menempuh pendidikan di kampus. aktivitasnya disebut kuliah, sedangkan orangnya disebut mahasiswa. berbeda dengan siswa, yang aktivitasnya disebut sekolah. dan tempatnya di sekolahan. bukan di kampus. mahasiswa terkenal dengan semboyan "Agent Of Change". ia adalah kaum menengah. bisa kebawah, bisa keatas. penyampai lidah masyarakat. dan hal-hal lain yang disematkan terhadap mahasiswa. dibalik itu semua, ada beberapa tipe mahasiswa yang tidak diketahui oleh orang banyak. diantaranya;

1.Mahasiswa Kupu-Kupu








Pertama adalah Mahasiswa Kupu-Kupu. inget loh ya, ini bukan kupu-kupu sejenis hewan yang indah itu. dan juga bukan mahasiswa yang indah itu juga. tapi ini adalah singkatan yang cukup awam di kalangan kampus. mahasiswa kupu-kupu adalah mahasiswa yang kegiatanya KUliah-PUlang KUliah-PUlang. mahasiswa jenis ini umumnya lulus tepat dengan waktu yang sudah ditentukan. mahasiswa jenis ini pasti selalu ke kampus jika ada mata kuliah yang diambilnya. dan tidak akan ke kampus jika tidak ada mata kuliah yang diambilnya. prinsip mahasiswa jenis ini adalah intinya masuk kelas, absen, mengikuti mata kuliah, dan...LULUS!!!!. dan pada umumnya, mahasiswa type ini lulusnya lebih cepat.

2. Mahasiswa Kura-Kura








Kedua adalah mahasiswa Kura-Kura. perlu diingat juga bahwa mahasiswa jenis ini bukan berarti lambat dalam segala hal seperti kura-kura. tapi mahasiswa jenis ini adalah mahasiswa yang cukup aktif di bidang organisasi. mahasiswa kura-kura adalah yang kegiatanya dikampus KUliah-RApat KUliah-RApat. banyak juga dikampus mahasiswa seperti ini dengan organisasi yang beragam pula. mahasiswa tipe ini, berbeda terbalik dengan mahasiswa kupu-kupu. sebab, pada umumnya mahasiswa tipe ini tidak begitu peduli dengan absen, mata kuliah. yang penting adalah mendedikasikan diri mereka untuk organisasi. ia tidak peduli dengan hari apa kampus buka, hari apa kampus tutup, jam berapa kampus buka, jam berapa kampus tutup. karena bagi mereka, setiap jam, setiap tempat, dan setiap hari, jika memungkinkan untuk membahas organisasi, atau acara besar yang diadakan organisasi, maka itu adalah jihad fi sabilillah untu menghadiri rapat atau acara tersebut. masalah mata kuliah, nanti bisa diatur. umumnya mahasiswa tipe ini lulus nya lebih belakangan dari mahasiswa kupu-kupu.


3. Mahasiswa Kunang-Kunang








ini adalah tipe mahasiswa terakhir yang susah dijelaskan dengan kata-kata. mahasiswa kunang-kunang adalah mahasiswa yang kuliah-nanggung. maksudnya, mahasiswa tipe ini sangat susah untuk di identifikasi. misalnya, dia kuliah tapi gak masuk kelas. aneh kan? mahasiswa Nyaru ini namanya. yang paling umum adalah gaya pakaianya bisa dibilang berantakan, apa adanya. celana robek-robek, rambut gondrong, sendal jepit. dan hal-hal lain yang melanggar aturan kampus. waktunya kuliah, mereka diskusi sendiri di suatu tempat, waktunya kuliah, mereka demo di jalan. mahasiswa tipe ini memang tidak menjadi idaman mertua. tetapi satu hal, mahasiswa tipe inilah yang suatu saat akan menjadi wakil rakyat kecil Indonesia. amiin. dan cenderung mahasiswa tipe ini lulus dengan waktu maksimal. lulus karena deadline.

4. Mahasiswa Kuda 












Terakhir adalah Mahasiswa Kuda. Mahasiswa yang mengemban amanat suci. Yaitu Kuliah sekaligus Dagang. Sebenarnya, untuk masuk kuliah itu gampang. Hal yang paling sulit adalah mempertahankanya. Apalagi kuliahnya di kampus-kampus perkotaan. Oleh karenanya, tipe mahasiswa jenis ini sering bermunculan di kampus-kampus. Karena mereka sadar bahwa duit tidak akan pernah turun dari pesawat. Demi terciptanya kehidupan yang layak dan mencukupi. Dagangan mereka beragam. Mulai dari dagang gorengan, dagang kopi, dagang kosmetik, dagang kopi (tapi Cafe), sampai dagang mobil di OLX. Semoga mahasiswa tipe ini di limpahkan Rejekinya oleh Sang Hyang Widhy.


Tipe mahasiswa manakah kalian? atau mau jadi tipe yang mana jika suatu saat menjadi mahasiswa?


*Penulis adalah Pemerhati Mahasisw(i)

Jumat, 14 Oktober 2016

Kejombloan; Batuloncatan Seorang Khalifah

Sudah menjadi rahasia bersama bagi para mahasiswa seantero Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta wa bi al-khusus mahasiswa semester V program studi Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin bahwa sanya Tuhan telah mengutus kembali seorang Khalifah di besmen Fakultas Ushuluddin untuk menumpas segala bentuk kejumudan dan kebodohan. Adalah Edy Marwoto, khalifah PIUSH Periode 2016-2017 M yang menggantikan serta melanjutkan misi dari Khalifah Saddam Husein sebagai pendahulunya.

berbeda dengan Khalifah Saddam Husein --baca sang khalifah piush; sadam husein -- yang sering menyakiti hati para kaum Hawa, Edy memiliki idealis tersendiri. jika Saddam adalah adalah hama yang direkomendasikan berada di saf depan yang layak mati disantap pestisida produksi revolusi hijau, maka Edy -- baca inilah lima jomblo kelas atas di ushuluddin -- adalah bunga yang tidak memiliki sari dan tidak akan layu oleh rayuan kumbang yang menghampiri, oleh karenanya ia tak layak untuk mati.

Menurut Edy, kejombloan yang ia yakini berada pada tingkatan sebaik baik taqwa. jika diposisikan pada tingkatan alam menurut Ahli Tashawwuf, maka kejombloan berada di tingkatan Alam Musyahadah. didalam kejombloannya Edy merasakan Kehadiran Tuhan sebagai Kebenaran yang Mutlak. berdalilkan bahwa sanya Tuhan itu Maha Esa adanya, Dia yang Awal sekaligus yang Akhir, dan pada akhirnya Tuhan akan selalu berada dalam kesendirian-Nya. maka Mulia lah bagi para jomblo karena dia menemani Tuhan didalam kejombloan-Nya. dan bagi Edy, ia memiliki dalil tersendiri yang kuat untuk mempertahankan kejombloannya, yang di kutip dari QS. At-Taubah ayat 129 yang berbunyi:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (١٢٩)

Pada ayat diatas, Edy memahami bahwa term "Tawallaw" yang berarti "Berpaling" memiliki bayak kandungan makna seperti: dikhianati, dibenci, tak dianggap, atau segala bentuk kedukaan dalam bercinta. 

Lantas, bagaimana cara Edy untuk mengisi waktu luang nya sebagai Khalifah PIUSH ditengah-tengah keadaan umat mahasiswa yang menjalani risalah perjuangan: "Penggiat PIUSH adalah mereka yang baca, diskusi, dan nulis. adapun selebihnya adalah jalan dan gandengan sama kaum hawa"? dengan seggala kekuulan Edy menjawab: "selow, laptop gue ada kok."

Maka atas dasar inilah, Edy bersyukur karena berangkat dari kejombloan, batulonjatan baginya dalam mencapai kekhalifahan di pojokan.

Semoga Khalifah Edy Marwoto tetap berada didalam jalan yang benar, tetap amanah.

Kamis, 13 Oktober 2016

Mahasiswa dan Kecenderungannya

Oleh; Fadhil Afrinaldi


Apakabar para Maba (Mahasiswa Baru dan Mahasiswa Batas Akhir)? Semoga selalu istiqomah dalam perjuangan nya sebagai mahasiswa.

berbicara tentang Mahasiswa, kawan-kawan pasti memiliki definisi yang berbeda. Sederhananya, Mahasiswa dapat disebut sebagai peserta didik tertinggi dalam seremonial jenjang pendidikan atau siswa yang sudah "maha". Demi meraih satu impian, proses yang dihadapi setiap mahasiswa dalam menjalani perkuliahan pastilah berbeda, hal ini suatu yang wajar terjadi dikarenakan adanya hak individual bagi setiap mahasiswa. Beragam macam mahasiswa di indonesia, ada yang kuliah hanya untuk mendapat ijazah, ada yang sekedar huru hara mengisi waktu luang, ada yang ingin menikmati proses belajar, berorganisasi, dan banyak lagi macam lain nya. Lantas, apa tujuan utama kawan-kawan menjadi seorang Mahasiswa? Apakah hanya formalitas belaka demi secarik kertas, atau apa?

Sebenarnya ada hal yang ingin saya tekankan ketika kita membahas perkuliahan, mahasiswa, dan kecenderungan nya ini. Kebanyakan mahasiswa masih terbuai dengan aktifitas mereka tanpa ingin memaksimalkan dan menyeimbangkan nya. Seperti yang diketahui, adanya istilah mahasiswa "kupu-kupu", yang mana aktifitas mereka hanya "kuliah-pulang", Sekedar mengikuti kelas dosen, copy-paste tugas melalui internet, presentasi kemudian pulang. Ada pula sebutan "organisatoris" atau "aktivis" Yakni mereka yang tidak hanya sekedar mendengar ocehan dosen di kelas, tapi juga aktif dalam organisasi intra atau ekstra kampus, forum diskusi, berpikir kritis, atau ikut berpolitik saja bahkan sampai turun ke jalan (baca: aksi). Jadi, kita harus menjadi mahasiswa yang bagaimana? Itu terserah kawan-kawan. Karena kawan-kawan adalah makhluk yang merdeka dan memiliki hak untuk memilih.

Menurut saya pribadi, akan lebih baik jika kita dapat menyeimbangkan antara ikut masuk kedalam kelas sebagai kewajiban dan menambah wawasan diluar kelas. Selain kita menjadi insan yang beriman dengan segala hal yang telah kita kaji di forum diskusi, kita juga menjadi insan berilmu dengan segala yang kita pelajari di kelas dan dari buku yang kita khatami, serta kita menjadi insan beramal yang mengaplikasikan segala hak dan kewajiban berdasarkan iman dan ilmu kita yang dibimbing oleh hari nurani sehingga kita selalu menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini.

Intinya adalah mahasiswa berada dalam keadaan yang balance antara belajar dan berproses, bukan hanya menghabiskan waktu di kelas, tapi juga berproses di luar kelas. Jadi, tidak hanya menjadi mahasiswa karbitan. Jangan sampai salah rumus, Jangan sampai jadi sarjana prematur. Mahasiswa seharusnya mengingat kembali niatnya untuk mencicipi bangku perkuliahan itu untuk apa. Apakah untuk balap-balapan wisuda? Atau ajang membanggakan diri karena berstatus "mahasiswa"? Atau mungkin hanya ingin pakai toga terus dipuji orang banyak?

Sebenarnya saya pribadi kurang setuju dengan sistem pendidikan bangsa ini yang masih begitu banyak mengandung pembodohan. Yang mana dari sekolah dasar, genarasi muda Indonesia ini diluluskan secara prematur, pelajar di-indonesia dibiasakan untuk cepat lulus (walau mereka tak mendapat ilmu maksimal dalam prosesnya) dan terus begitu sampai menjadi mahasiswa sehingga terbentuklah pemahaman bahwa  pembelajaran itu hanya "LULUS" dan yang diajarkan pun ialah bagaimana cara lulus dengan cepat. Tak peduli lulusan itu berilmu atau tidak, tak peduli mereka mau jadi apa, yang penting mereka cepat lulus titik.

Ini yang membodohi berjuta calon pemimpin bangsa. Mereka mendapat nilai yang tidak sesuai dengan ilmu yang mereka punya. Sederhananya, antara ilmu dan penilaian nya tidak real.
Tampaknya kita sudah sedikit melebar kawan-kawan. Tapi tak masalah, karena itu tanda dari kita sebagai mahasiswa yang mengkritisi segala fenomena yang bertentangan dengan nilai,norma,agama, dan rasio kita.

Jadi, kita tekankan sekali lagi. Kunci nya adalah "keseimbangan" antara akedemis dan non akademis.
Mungkin kawan-kawan sudah paham bagaimana jika kita hanya menjadi mahasiswa (kupu-kupu) yang hanya melakukan formalitas seremonial. Yang cuma ingin cepat lulus(meski ilmunya belum sesuai dengan nilainya). Begitupun jika kita menjadi aktivis tanpa mempedulikan akademis. Kita tentunya tak ingin menjadi mahasiswa basi yang tak kunjung lulus karena lebih fokus aktif dalam kegiatan non akademis saja (sampai jadi malas masuk kelas). Karena aktivis yang baik itu adalah yang bisa mengatur kapan waktunya berproses di luar, dan kapan waktu berproses di dalam. Fenomena-fenomena seperti ini tentu sudah sering kawan-kawan jumpai. Mereka ada yang hanya belajar di kelas lalu pulang. Ada yang cuma demo dan jarang ngampus. Yaah, pilihan ada pada diri kita masing-masing. Mau jadi apa dan bagaimana prosesnya, tergantung keinginan kita. Mau kita apakan Indonesia 10 tahun yang akan datang? Mau dimerdekakan, atau dihancurkan? Mahasiswa dan generasi muda sekarang lah yang akan menjawabnya karena ia merupakan makhluk bebas. Jadi, tujulah apa yang ingin kalian tuju, kemudian hadapi konsekuensinya.

Senin, 21 Maret 2016

Tentang Penolakanmu waktu itu

Oleh; Dedy Ibmar **




Malam ini, malam yang begitu dingin, angin bertiup lembut, namun bau matahari masih begitu akrab pada jendela kamar. Melupakan kekecewaan pada secangkir kopi yang malah dirayakan semut. Tepat disamping gelas terdapat satu bungkus rokok lengkap dengan korek api kayu yang biasa kugunakan. Laptop dan buku-buku belum sedikitpun kusentuh padahal niatan awalku ialah membuat suatu artikel untuk kukirimkan ke media masa.

Dari dalam, tampak didepan kost jalan masih basah dengan genangan air yang menyerbu langit sore tadi. Ntah karna cuaca yang sejuk atau apa, tiba-tiba lamunanku berubah menjadi melankolis. Pikiran itu menyerang dan menusuk hati hingga membuatku menarik nafas panjang dan memejamkan mata. Wajah itu.. dengan jilbab yang menutupi rambut, mata yang tajam, kedua pipinya penuh, yang jika dipandang dari dekat maka akan tampak sosok gabungan antara Dian Sastro dan Nabilah jkt48 (oke sipp, ini lebayy).

Aku masih ingat, disebuah acara OPAK, Tuhan berhasil mempertemukanku dengan dirimu. Sungguh pertemuan yang tak bisa terlupakan. Begitu membekas, dan masih terus membayang hingga sekarang.
Entah mengapa aku benar-benar telah jatuh cinta pada dirimu, aku tak tau apa alasannya. Aahh, bukankah cinta memang tidak butuh alasan?. Yang pasti aku bertemu, bercengkrama, berdebat, hingga akhirnya aku jatuh cinta padamu. Einstan sangat benar dalam hal ini. Ternyata waaktu begitu sangat cepat berlalu.

Dan seperti layaknya tokoh protagonis dalam serial drama korea, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku ini. sungguh, sangat ingin. Menahan diri untuk tidak menyatakan cinta padamu rasanya seperti menahan rokok sehabis makan. Sulit sekali.

Kemudian, suatu waktu, aku mencoba mengutarakan perasaan. Tapi sayang, meski betapa kuatnya kau mengetahaui kedalaman cintaku, kau tetap tidak bisa menerimaku. Sikapmu yang diam disertai dengan tetesan air mata, kuanggap sebagai penoakan halus. Ketika itu, aku sadar, mungkin kau masih kurang stres untuk bisa menerima lelaki seperti aku.

Setelah penolakan itu, beberapa kali aku terus mencoba yang pada akhirnya usahaku berbuah hasil. Cintaku diterima. Meski dalam hanya sekitar 6-7 bulan aku harus kembali kepada gelap dan meceritakan kehilangan.

Perjalanan itu menyadarkanku bahwa mencintai adalah menerima, termasuk segala hal yang memberatkanku. Aku akan membawanya seringan kapas untuk bergerak, sebebas merpati untuk tidak saling mengikat. Yang penting ia tahu bahwa aku menunggunya, aku membutuhkannya. Didepanmu, aku hanya ingin mencinta tanpa perlu banyak janji. Berdua bahagia sewajar dan sesederhana mungkin, tumbuh dan berkembang bersama menikmati fase hidup yang terjalani. Itu bayangah kebahagiaanku dulu.

Namun kini, cerita beserta angan-angan itu sudah berlalu. Entah apa yang sedang kau kerjakan. Tapi yang pasti, kau pasti tidak sedang memikirkan cerita kita.
Perlahan kudengar kabar bahwa kau sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Tentu itu kabar yang menyakitkan. Namun layaknya jagoan, aku berusaha untuk tenang dan sok kuul. Kendati perasaanku remuk dan ragaku mengamuk.


Aah, Jika mencintaimu adalah sebuah dosa, sudah pasti akulah orang pertama yang masuk neraka.


(Kutulis setelah aku menlintasi kostmu)

Lihat Profil Dedy Ibmar

Jumat, 18 Maret 2016

Timpang

Oleh: Sadam Husein **


Sewaktu siang saya sedang menikmati indahnya Alun-alun kota Pare, dengan antusias melihat di sekitar tanpa luput satu pun yang terlewatkan dari pandangan saya, cuaca yang panas namun asri menghiasi gedung dan penataan kota yabg rapih, dengan hiruk pikuk saat itu terjadi, sudah menjadi hal yang biasa ketika aku berada di ibu kota indonesia yaitu jakarta, yang justru lebih parah dari pada itu. Namun, tak Berbeda dalam menjalani aktivitas sehari-hari, ada yang sekolah, bekerja, Pedagang Kaki lima, sampai ada yang menarik becak motornya.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, seseorang dengan kelas ekonomi atas dapat saja merasakan segala kemewahan kehidupan dunia. Namun, beda halnya dengan ekonomi menengah kebawah. Sekiranya masyarakat indonesia merupakan contoh konkrit mengenai ketimpangan kelas ekonomi. Seseorang dengan kelas ekonomi bawah, jangankan memenuhi kehidupanya, untuk makan sehari-hari mereka pun harus mengucrkan keringat berlebih hanya demi sesuap nasi.

ketika sedang menikmati suasana dan secangkir kopi, seketika terpaku pada salah satu penarik becak motor, dengan muka tampak lesuh dan kecewa, dengan khas bau sinar matahari yang menyelimutinya, baju yang sederhana tampak menghiasinya, dengan langkah yang berat tak kuduga mendekati dan duduk di sampingku. Dia adalah bapak haryono, dia adalah salah satu warga pare jawa timur. sehari-hari dia bekerja hanya sebatas menarik becak motornya.

"Iya nih mas, saya sudah dari kemarin narik tapi belum ada satupun penumpang, jangankan makan ngopi pun saya ndak mas". Ketika dia menjawab pertanyaan saya perihal pekerjaan.
Dia melanjutkan, "mencari nafkah saat ini memang sangat sulit, saya tidak bisa menghidupi Ke empat anak saya. Maka saya terpaksa harus menitipkan mereka ke panti asuhan, dan istri saya pun yang entah kemana meninggalkan saya, belum juga orang tua saya yang sakit-sakitan, belum lagi saya sendiri mas pusing saya mas."

Dari perkataan tersebut, saya menyadari betapa ketimpangan terjadi di Negri ini. Dibalik bangunan-bangunan kota yang megah dan kayanya alam Indonesia, hanya sebagian orang saja yang dapat merasakannya dan mendapatkan keuntungannya, tapi justru masih banyak orang-orang yang sama sekali tak pernah merasakan kenikmatan itu.

Akutnya permasalahan ekonomi, tak hanya membuat bapak haryono kehilangan keluarganya, bahkan bapak tersebut juga mulai sakit-sakitan. “Saya juga sering merasakan sakit perut”. Sambil menunjuk perut yang ada bekas jahitan luka yang jauh dikatakan sempurna.
Begitu teriris saya mendengarkan curhatan bapak ini, memang kehidupan saat ini di negri kita tercinta ini, bahwa tak semua bisa merasakan manisnya hidup yang kita jalani saat ini, tak seimbangnya pendapatan dengan kebutuhan, sehingga masyarakat kelas menengah kebawah seakan semakin terpuruk dan semakin pesimis menjalani hidup.

Kebutuhan sandang dan pangan yang harganya semakin melunjak, ditambah lagi dengan harga BBM yang inkonsisten, membuat masyarakat yang notabene jelas menengah kebawah sangat merasakan betul asam manisnya kehidupan di negeri ini.Salah satunya harapan dari masyarakat hanya pada pemerintah untuk bagaimana mencari solusi atas kebijakannya untuk menaungi masyarakat menengah kebawah.

Lihat profil: Sadam Husein

Kamis, 17 Maret 2016

Trik-Trik Melawan Patah Hati

Oleh: IkhsanYaqub


Siapa yang tidak pernah patah hati? Bagi anda yang pernah mengalaminya, pastinya pedih tak terkira, ya? Langit runtuh, bumi bergemuruh. Makan tak kenyang, tidur pun tak nyenyak. Padahal dulu, ketika cinta baru menyapa, ‘tai kucing pun rasa coklat'. “Ah, lebay lu,” ledek seorang teman.
Lantas, mengapa segalanya menjadi terbalik? Apakah cinta memang di atas segala-galanya? sehingga begitu kapal cinta itu kandas diterjang badai, kita pun seolah-olah ikut tenggelam dan karam bersamanya.
Bicara soal patah hati, menurut banyak teman saya, adalah hal yang paling mengerikan di dunia. Coba, hitung saja alasan-alasan bunuh diri yang banyak diberitakan. “Ngga mau lagi deh, pokoknya lebih serem dari Zika (Virus yang sedang mewabah di Amerika Latin)”, keluh seorang teman.
Terus bagaimana agar kita tak terjangkit penyakit itu?  Begitu pasti anda bertanya. Dibawah ini adalah trik-trik yang saya tuliskan dari berbagai nasihat teman-teman saya, ketika saya terjangkit penyakit itu beberapa bulan lalu.
Trik pertama adalah, buatlah nominasi-nominasi (peringkat) ketika kita kesemsem dengan seseorang. “Maksudnya,” kata teman saya, “jangan sekali-kali suka dengan satu orang saja, sampai kita buta bahwa, diluar sana, ada banyak orang yang lebih baik dan hebat darinya.” “Tapi cinta ‘kan emang buta!” bantah teman yang lain.
“Soalnya,” lanjut teman saya menggurui”, “kalau kita tidak punya cadangan, kita akan kelimpungan sendiri. Kalau pakai nominasi begini kan asyik. Nominasi pertama gagal, tinggalkan saja, ganti nominasi kedua. Nominasi kedua mulai lapar (baca: ‘aneh-aneh'), ya ganti lagi. Ganti. Begitu seterusnya. Sampai puluhan nominasi pun tidak masalah, yang penting dunia persilatan aman, kan?” Tapi perlu digarisbawahi, jangan sampai orang yang dinominasikan itu tahu. Sebab kalau ‘beliau-beliau’ ini sampai tahu, wah, anda tahu sendiri lah akibatnya.
Trik yang kedua, curahkan setengah saja hatimu padanya. Dengan demikian, apabila gagal, kita masih punya setengah lagi untuk ‘ancang-ancang’ lagi. “Jatuh cinta ‘kan ibarat makan duren; kebanyakan mabok, kurang melongok,” seloroh seorang teman di tempat lain.
Ini penting, terutama bagi kaum hawa. Karena dalam mainstreem masyarakat patriarki seperti Indonesia, “Cewek kalau sudah bekas, harganya berkurang. Cewek ‘kan dinilai dari masa lalunya. Cowok mah enak, dinilai dari masa depannya. Jadi, sebobrok-bobroknya cowok, kalau dia anggota DPR, atau aktor bergelar ‘rising star', misalnya, yah, hapus sudah masa lalunya, sehitam apapun”, tutur seorang teman perempuan yang juga aktifis gender.
Jadi, meski anda sudah betul-betul falling in love, jangan lantas anda merelakan segalanya, bulat-bulat, buat dia. Ingat, mau seromantis apapun ‘modusnya’, tetap saja hanya omongan dan gaya belaka. Karena tidak ada hukum yang mengikat (pernikahan). Banyak omong dan gaya tidak banyak membantu, ‘kan?
Trik yang ketiga adalah, percaya dan yakinlah pada pameo lama: ‘lebih baik dicintai daripada mencintai', kata orang sih, itu juga kalau anda mau cari aman banget. “Mencintai ‘kan pekerjaan penuh resiko. Jadi kalau tidak mau resiko yang ‘jleb’ itu (baca: ‘patah hati'), ya sudah, nikmati saya ‘sajian’ (baca: ‘cinta’) yang sudah ada,” canda teman saya sambil terbahak. Terkecuali bagi anda yang mempunyai prinsip: ‘Tak ada rotan akar pun ngga usah sekalian'.
Nah, inilah trik pamungkas. Yakinlah bahwa jodoh itu ditangan Tuhan. Jadi jangan takut ngga kebagian, deh. Usahakan, namun hasilnya pasrahkan saja. Tidak ada betul-betul tahu dan mampu mengendalikan masa depan, bukan? Bahkan tidak ada manusia yang tahu sampai mana batas kemampuannya sendiri. Paling-paling kita hanya bisa ber-angan, berusaha, minimal berjanji lah.
Nah buat anda yang sudah/sedang patah hati, jangan mau terkena penyakit ini lagi. Sibukkan diri anda dengan hal-hal yang produktif, karena, mengutip Richard Brodie dalam bukunya ‘Virus of the Mind': “Hidup bukan hanya untuk makan dan berkembang biak saja.


Lihat Profil: Ikhsan Yaqub
 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube