BREAKING

Jumat, 18 Maret 2016

Timpang

Oleh: Sadam Husein **


Sewaktu siang saya sedang menikmati indahnya Alun-alun kota Pare, dengan antusias melihat di sekitar tanpa luput satu pun yang terlewatkan dari pandangan saya, cuaca yang panas namun asri menghiasi gedung dan penataan kota yabg rapih, dengan hiruk pikuk saat itu terjadi, sudah menjadi hal yang biasa ketika aku berada di ibu kota indonesia yaitu jakarta, yang justru lebih parah dari pada itu. Namun, tak Berbeda dalam menjalani aktivitas sehari-hari, ada yang sekolah, bekerja, Pedagang Kaki lima, sampai ada yang menarik becak motornya.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, seseorang dengan kelas ekonomi atas dapat saja merasakan segala kemewahan kehidupan dunia. Namun, beda halnya dengan ekonomi menengah kebawah. Sekiranya masyarakat indonesia merupakan contoh konkrit mengenai ketimpangan kelas ekonomi. Seseorang dengan kelas ekonomi bawah, jangankan memenuhi kehidupanya, untuk makan sehari-hari mereka pun harus mengucrkan keringat berlebih hanya demi sesuap nasi.

ketika sedang menikmati suasana dan secangkir kopi, seketika terpaku pada salah satu penarik becak motor, dengan muka tampak lesuh dan kecewa, dengan khas bau sinar matahari yang menyelimutinya, baju yang sederhana tampak menghiasinya, dengan langkah yang berat tak kuduga mendekati dan duduk di sampingku. Dia adalah bapak haryono, dia adalah salah satu warga pare jawa timur. sehari-hari dia bekerja hanya sebatas menarik becak motornya.

"Iya nih mas, saya sudah dari kemarin narik tapi belum ada satupun penumpang, jangankan makan ngopi pun saya ndak mas". Ketika dia menjawab pertanyaan saya perihal pekerjaan.
Dia melanjutkan, "mencari nafkah saat ini memang sangat sulit, saya tidak bisa menghidupi Ke empat anak saya. Maka saya terpaksa harus menitipkan mereka ke panti asuhan, dan istri saya pun yang entah kemana meninggalkan saya, belum juga orang tua saya yang sakit-sakitan, belum lagi saya sendiri mas pusing saya mas."

Dari perkataan tersebut, saya menyadari betapa ketimpangan terjadi di Negri ini. Dibalik bangunan-bangunan kota yang megah dan kayanya alam Indonesia, hanya sebagian orang saja yang dapat merasakannya dan mendapatkan keuntungannya, tapi justru masih banyak orang-orang yang sama sekali tak pernah merasakan kenikmatan itu.

Akutnya permasalahan ekonomi, tak hanya membuat bapak haryono kehilangan keluarganya, bahkan bapak tersebut juga mulai sakit-sakitan. “Saya juga sering merasakan sakit perut”. Sambil menunjuk perut yang ada bekas jahitan luka yang jauh dikatakan sempurna.
Begitu teriris saya mendengarkan curhatan bapak ini, memang kehidupan saat ini di negri kita tercinta ini, bahwa tak semua bisa merasakan manisnya hidup yang kita jalani saat ini, tak seimbangnya pendapatan dengan kebutuhan, sehingga masyarakat kelas menengah kebawah seakan semakin terpuruk dan semakin pesimis menjalani hidup.

Kebutuhan sandang dan pangan yang harganya semakin melunjak, ditambah lagi dengan harga BBM yang inkonsisten, membuat masyarakat yang notabene jelas menengah kebawah sangat merasakan betul asam manisnya kehidupan di negeri ini.Salah satunya harapan dari masyarakat hanya pada pemerintah untuk bagaimana mencari solusi atas kebijakannya untuk menaungi masyarakat menengah kebawah.

Lihat profil: Sadam Husein

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube