BREAKING

Jumat, 22 Juni 2012

TUJUAN HMI: Sebuah Gagasan Utopis atau Harapan Semu ?


TUJUAN HMI:
Sebuah Gagasan Utopis atau Harapan Semu ?

“baik kota, negara maupun individu tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai sekelompok kecil para filsuf. . . Dengan takdir Tuhan dipaksa, apakah mereka mengkhendaki atau tidak, untuk peduli kepada Negara” (Plato, Republic).
Tiap kali kita membiarkan diri untuk didesak oleh panggilan akan keadilan yang tak akan pernah membisu. (Goenawan Mohamad)

Sekilas Tentang Tujuan HMI
Secara sederhana, suatu organisasi muncul karena ketidakmampuan individu untuk memenuhi kebutuhan bagi dirinya. Organisasi terbentuk dari sekumpulan individu yang mempunyai kesepakatan bersama di dalamnya. Karena organisasi merupakan sekumpulan dari individu, maka tujuannya pun bukan untuk pribadi perseorangan, melainkan untuk kebaikan dan kesejahtraan umum.
HMI sebagai organisasi kemahasiswaan yang tertua di Indonesia merupakan suatu kendaraan yang mengantarkan para penumpangnya kepada tujuan yang dimaksud.  Dengan sangat jelas tertera dalam kitab/buku panduan HMI dari hasil kongres HMI XXVII (Depok, 5-10 November 2010), bahwa tujuan HMI dalam anggaran dasar (AD) adalah Terbinanya insan Akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung  jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Dalam tataran konsep atau gagasan, tujuan tersebut tentunya sangat ideal. Karena menawarkan sebuah hasil yang berposisi pada tingkat pencapaian yang sangat sempurna. Dalam tujuan tersebut, pesan yang tersirat di dalamnya adalah akan terwujudnya suatu keadaan manusia yang berkualitas tinggi dan sempurna (insan al-kamῑl). Terdapat keterhubungan (korelasi) yang jelas antara Individu, Sosial dan Tuhan.
Pada tataran individu, HMI bertanggungjawab atas terbentuknya manusia—yang dibahasakan dengan al-insan—yang berjiwa akademis. Pada tahap berikutnya, insan akademis tersebut mampu untuk menciptakan suatu inovasi yang baru yang bermanfaat, kemudian mampu mengabdikan dirinya pada pada tataran dimensi sosial demi terwujudnya suatu keadaan masyarakat yang adil dan makmur yang tentunya diridlai Allah SWT (Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).
Gagasan ideal tersebut senada dengan apa yang pernah dikemukakan oleh pemikir modern Muslim India yaitu Muhammad Iqbal, bahwa terwujudnya tatanan masyarakat yang adil dan makmur itu haruslah diawali dari komponen individu yaitu insan al-kamῑl.
Perlu digarisbawahi, bahwa yang dimaksud dengan tujuan atau visi (al-Ghayah) merupakan hasil akhir dari sebuah perjuangan. Tujuan bersifat final bukan proses, dan tentunya hal tersebut menjadi sebuah mimpi dan cita-cita bersama di mana HMI dapat mewujudkan tujuan tersebut. Logika sederhananya adalah katakanlah HMI sebagai suatu kendaraan, bahwa untuk mencapai suatu tujuan, tentunya ada suatu fase perjalanan yang harus dijalankan dan diusahakan.
Yang Melangit Turun ke Bumi
Setelah merumuskan gagasan ideal tersebut, di dalam kitab panduan HMI tersebut dicantumkan secara jelas tanpa bias makna usaha-usaha yang harus dijalankan oleh seluruh komponen yang terlibat langsung di dalamnya. Dan usaha-usaha yang telah dirumuskan tersebut tentunya sebagai satu perwujudan nyata yang harus ada dan harus dijalankan secara sadar.
Ada tujuh point yang terdapat di dalam Anggaran Dasar (AD) pasal 5, yaitu diantaranya:
  •           Membina pribadi muslim untuk mencapai akhlaq al-karimah.
  •           Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya.
  •      Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan umat manusia.
  •    Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional.
Dari beberapa point tersebut jelaslah apa yang seharusnya dilakukan di dalam dunia nyata ini oleh para individu yang terkait secara aktif di HMI. Usaha usaha tersebut merupakan sesuatu yang bersifat real untuk mencapai sebuah tujuan yang bersifat ideal. Tujuan yang telah menjadi harapan bersama tentunya akan selalu melangit yang berada dan bersemayam di dalam dunia idea jika aspek-aspek yang bersifat membumi tidak terlaksana.
Pola tindakan dari berbagai usaha tersebut haruslah berdasarkan atas aspek kesadaran dan rasionalitas. Karena dari setiap tindakan, akan membentuk sebuah pola yang akan menjadi sebuah instrumen sosial. Tindakan yang gegabah— apalagi mengatas namakan diri HMI—akan berakibat fatal kepada diri sendiri dan organisasi. Tindakan harus merupakan representasi dari dunia kesadaran individu, karena dari kesadaran manusia mampu bertindak atas sesuatu yang seharusnya dilakukan.
Memang benar bahwa HMI merupakan organisasi pengkaderan. Akan tetapi permasalahannya adalah apakah pengkaderan itu diartikan hanya sebatas memperbanyak kuota anggota? Tentu  jawabannya “tidak”. Pengkaderan merupakan sebuah konsep yang merupakan sintesa dari aspek kuantitas dan kualitas individu/anggota. Terkadang kita selalu menyalahartikan pemahaman tentang konsep pengkaderan. Kita selalu terjerumus pada pemahaman yang dangkal, bahwa pengkaderan merupakan ajang memperbanyak kuantitas anggota.
 Idealnya, setelah diadakan suatu pelatihan kader (LK) –khususnya LK I—para peserta yang sudah resmi menjadi anggota diarahkan kepada usaha-usaha yang telah dirumuskan di dalam anggaran dasar (AD) HMI. Realitasnya, terkadang para anggota tersebut dibiarkan begitu saja tanpa ada arahan dan follow up (membina, mengembangkan, mempelopori dan berperan aktif) dari pihak yang berkewajiban. Pengkaderan adalah usaha kongkrit dan bukti realisasi tindakan untuk mencapai tujuan tertentu.
Refleksi Kesadaran
Kritikan  bukan bertujuan untuk menjatuhkan atau menghancurkan sesuatu. Akan tetapi dari suatu kritikan dengan landasan dan argumentasi yang jelas, bahkan dengam menghadirkan realitas yang ada merupakan suatu upaya untuk membangkitkan semangat kesadaran atas sesuatu supaya dapat berbenah diri dengan lebih baik lagi.
Pertanyaan sederhananya adalah apakah para kader HMI—baik anggota muda, anggota biasa, anggota kehormatan  maupun  para elite birokrasi--  yang terlibat secara langsung di dalamnya telah mampu untuk menjalankan secara baik dan benar usaha-usaha tersebut? Sudahkan kita membina, mengembangkan, mempelopori dan berperan aktif?
Tentunya dari beberapa pertanyaan sederhana tersebut tidak membutuhkan suatu  jawaban seperti sedang mengisi soal EBTANAS, UTS atau UAS, melainkan bukti tindakan nyata di dalam kehidupan nyata ini. Dan tentunya ini merupakan tugas bersama bagi para kader HMI. Tanpa adanya suatu kesadaran dan partisipasi tindakan nyata atas usaha tersebut  dari para anggota HMI, tentunya harapan hanya sebatas sentuhan. Dan tujuan HMI akan menjadi sebuah gagasan Utopis yang hanya dapat dipahami dalam dunia idea. Seperti halnya konsep negara ideal yang dicita-citakan oleh filosof yunani klasik, Plato.
Inti sari dari  Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI adalah terjalin suatu korelasi yang kuat antara iman, ilmu dan amal. Sudah saatnya kita sadar, bangkit dan bertindak. HMI ada karena adanya suatu aktivitas, tanpa adanya aktivitas, HMI hanya sekedar sebuah nama belaka yang tidak jelas merujuk kepada pemaknaan apa. Satu-satunya jalan yang masih terbuka adalah menjadikan HMI sebagai suatu organisasi perjuangan. Aturan main telah dirumuskan, sekarang tinggal bagaimana caranya kita memainkan aturan tersebut dengan permainan yang cantik dan indah.
Wallahu a`lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube