BREAKING

Selasa, 26 Juni 2012

Adzan Kontemporer


Adzan Kontemporer
            Sudah menjadi sebuah tradisi bagi umat Islam—tidak terkecuali di Indonesia—bahwa setiap akan melaksanakan ritual ibadah shalat ada sebuah lantunan kalimat berbahasa arab yang dinamakan dengan adzan. Inti dari adzan adalah pengakuan atas kebertuhanan terhadap Allah, pengakuan atas kerasulannya Muhammad dan seruan untuk melaksanakan kewajiban ibadah shalat. Mungkin, terdapat banyak makna yang terkandung di dalam kalimat adzan tersebut yang masih tersembunyi di balik rangkaian teks huruf hijaiyyah yang dilantunkan secara merdu.
            Di Indonesia, seruan suara adzan dilantunkan dengan nada yang berciri khas melayu. Dan hal tersebut mungkin sudah menjadi sebuah tradisi lokal yang membudaya dan mengakar secara turun menurun sampai kepada generasi berikutnya. Dan pertanyaannya adalah bahwa mengapa lantunan adzan dari segi nadanya bernuansa monoton kemelayuan?
Jika adzan diserukan untuk semua kalangan umat Islam, dalam berbagai kalangan apapun, lantas haruslah ada sebuah terobosan baru untuk menarik para pendengar bahwa adzan itu bukan hanya sekedar “nyanyian sumbang” yang berlalu bergitu saja.
            Memang benar bahwa masalah shalat adalah masalah kesadaran individu umat Islam. Akan tetapi jika seandainya adzan merupakan sebuah sarana untuk menyerukan kebajikan, dan menyerukan Umat Islam untuk melaksanakan Ibadah Shalat, lantas harus ada sebuah upanya untuk menarik perhatian mereka. Adzan harus memiliki daya saing seperti yang terjadi di dunia industri permusikan Indonesia.
            Jika memang perlu, lantunan suara adzan di Indonesia harus mempunyai beberapa aliran (genre), tidak hanya bernada pop melayu, akan tetapi adzan yang beraliran rock, jazz, regge, hiphop, rap, blues, atau nada musik tradisional yang ada di Indonesia. Inovasi tersebut bukan didasarkan untuk lelucon semata atau dengan niat melecehkan keberagamaan seseorang, akan tetapi bagaimana Islam dalam tradisinya mampu untuk menarik para umatnya dalam dimensi apapun dan dimanapun. Memang terlihat konyol, tapi mengapa tidak dicoba?

2 komentar:

 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube