BREAKING

Selasa, 08 Mei 2012


MAKALAH
FILSAFAT MANUSIA: PENDEKATAN DUNIA MODERN

Dhany Ramdhany: 109033100026

AQIDAH FILSAFAT, USHULUDDIN, UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012
 

Abstrak
Manusia sebagai makhluk yang tinggal di muka bumi ini, merupakan satu jenis makhluk yang sangat unik. Keberadaan (eksistensi) manusia selalu dipertanyakan oleh dirinya sendiri. Di satu sisi dia berperan sebagai subjek, dan di sisi lainnya ia berposisi sebagai objek. Manusia mampu untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak ia ketahui.
Subjek yang mempertanyakan objeknya sendiri, kemudian ia mencari jawaban atas objek yang diselidiki, menghasilkan berbagai macam pemahaman atas penapsiran tentang manusia. Berbagai pendekatan pun dilakukan, mulai dari pendekatan manusia sebagai makhluk biologis, sosial, psikilogis, pendekatan filosofis, pendekatan agama dan lain sebagainya. Hal demikian dilakukan oleh manusia demi mendapatkan suatu pemahaman yang totalitas tentang manusia.
Dalam tulisan ini, penulis berupaya untuk melakukan sebuah penjelasan mendasar tentang  manusia dari sudut pandang dunia Modern. Sebuah pembabakan zaman, dimana manusia modern mencoba untuk mengupas esensi manusia secara mendalam dan radikal. Secara deduksi, kongklusi sederhana dari proyeksi besar adalah “memanusiakan manusia”.
            Key word: Manusia, Modern, Filsafat, Esensi  dan Eksistensi.






Pendahuluan
Filsafat Manusia adalah merupakan suatu cabang Filsafat yang mencoba untuk menjelaskan dan mengupas tentang arti menjadi manusia. Maksud dan tujuannya adalah supaya  manusia memiliki sebuah pemahaman tentang asal dan tujuan manusia hidup di dunia milik bersama ini.
Filsafat Manusia termasuk dalam kajian Ontologi atau Metafisika Filsafat. Berawal dari pertanyaan tentang “ke-apa-an”, melahirkan berbagai macam jawaban dari manusia yeng mempermasalahkan “keber-ada-an” manusia itu sendiri. Dengan kata lain, Manusia biasa disebut juga dengan Antropologia Metafisika atau Psikologi Metafisis, karena Manusia adalah mahluk yang berhadapan langsung dengan diri sendiri dalam dunianya.
Ada beberapa keuntungan mempelajari filsafat manusia, yaitu untuk mendapatkan pemahaman tentang Hakekat (esensi) Manusia dan mendapatkan Fungsi dari keberadaan (eksistensi) manusia di dunia milik bersama ini.
Di dunia Barat khususnya dalam tradisi filsafat, manusia dikaji dalam beberapa pendekatan, diantaranya adalah:  pertama, Metode Kritis yaitu Melakukan sebuah kegiatan kritis dari pendapat para filusuf tentang manusia. Biasanya dengan metode ini tidak membawa ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kedua, Metode Analitika Bahasa yaitu Bertitik tolak pada penggunaan bahasa sehari-hari dengan menyelidiki hubungan bahasa dengan pikiran, dan kegunaan bahasa dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Ketiga, Metode Fenomenologi yaitu sebuah Metode yang berusaha untuk menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental melalui beberapa langkah, yaitu fenomena hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung, dan fenomena diselidiki sejauh merupakan bagian dari dunia yang dihidupi sebagai keseluruhan.
Di dalam Barat, kita sering mendengar sebuah ungkapan yang dicetuskan oleh Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku berfikir maka aku ada). Pernyataan itu adalah formulasi kesadaran zaman modern yang terus dipertahankan hingga abad ke-20. Dari pernyataan tersebut, kita dapat memahami bahwa manusia manusia dapat mengenali dan mengengetahui  keberadaannya melalui rasionya (aktivitas berfikir).


Manusia dalam Kacamata Sebagian Filsuf Barat Modern
§  Rane Descartes (1596-1650)
Descartes disebut sebagai Bapak Filsafat Modern atau bapak Rasionalis Modern yang terkenal dengan ungkapan “Cogito Ergo Sum” yang di dalam bahasa inggris dibahasakan menjadi “I think therefore I am” (Aku berfikir maka Aku ada). Konsep berfikir digunakan Descartes  dalam pengertian yang sangat luas. Sesuatu yang berfikir menurutnya adalah sesuatu yang meragukan, memahami, mengerti, menegaskan, menolah, berkehendak, membayangkan dan merasakan. Karena berfikir adalah esensi dari pikiran dan pikiran akan terus selalu berfikir.[1]
Menurut Descartes, manusia terdiri dari dua subtansi, yaitu jiwa dan materi. Jiwa rasional yang membedakan antara manusia dengan yang lainnya seperti tumbuhan dan hewan. Baginya, hewan dan tumbuhan tidaklah memiliki jiwa karena mereka hidup dalam keadaan alamiah (autometic). Dalam segi persamaannya, antara manusia dengan hewan adalah terletak pada materinya (jasmaniah), tubuh manusia bersifat otomatis tidak bebas, tunduk kepada hukum-hukum yang berlaku atasnya. Menurutnya badan adalah sebagai I`homme Machine atau mesin yang bergerak sendiri.[2]
            Posisi jiwa mempunyai peranan yang sangat menentukan, yaitu sebagai pengendali mesin otomatis tersebut. Dengan kata lain pandangan Descartes seolah mengindikasikan adanya sebuah dualisme yaitu adanya dua realitas terpisah antara jiwa dan badan akan tetapi memiliki hubungan yang sangat kuat dan saling mempengaruhi.
§  Thomas Hobbes (1588 – 1679)
Bagi Hobbes, pengetahuan pengetahuan harus didasarkan pada pengalaman dan observasi. Baginya, Tiada pengetahuan yang bersifat apriori seperti  yang telah  dicetuskan oleh Descartes. Terhadap dunia batiniah, seperti perasaan, jiwa dan lainnya bisa diketahui melalui observasi dalam bentuk intropeksi. Berdasarkan intropeksi dan observasi inilah, Hobbes menjabarkan pandangan materialisnya tentang manusia dan masyarakat.
Menurut Hobbes, Sifat dasar manusia adalah bersaing, agresif, loba, anti sosial dan bersifat kebinatangan.            Negara berfungsi untuk menyatukan manusia untuk tidak saling memebunuh. manusia adalah makhluk yang pada dasarnya ingin memuaskan kepentingannya sendiri yaitu untuk memelihara dan mempertahankan dirinya sendiri dengan mencari kenikmatan dan mengelak dari rasa sakit. Karena manusia bijaksana  adalah manusia yang mampu memaksimalisasi pemenuhan keinginan-keinginannya untuk kesejahtraan individualnya. Pandangan etis tentang pemeliharaan diri ini disebut egoisme dan sejauh pemeliharaan diri disamakan dengan pencarian kenikmatan disebut dengan hedonisme.[3]
§  Jean Jacques Rousseau (1712 – 1778)
Berbeda dengan Hobbes, menurut Reusseau Manusia merupakan mahluk baik, masyarakat yang membuat manusia jahat (mementingkan diri sendiri dan bersifat merusak), Negara berfungsi untuk memungkinkan manusia untuk mendapatkan kembali sifat kebaikannya yang asli.
Dia menegaskan bahwa dalam keadaan asali manusia hidup damai dan tidak dihalangi oleh konvensi-konvensi yang sesat. Dia membayangkan waktu itu manusia mengembara keluar masuk rimba, tanpa industri, tanpa bahasa, tanpa rumah tanpa keinginan untuk menyakiti makhluk-makhluk lain, dan berkedudukan sama diantara mereka. Perbedaan manusia dengan hewan baginya tidak terletak pada rasionya, melainkan pada kemampuan kehendaknya yang mengatasi sifat otomatis sebab bersifat rohani.[4]
§  Martin Heidegger (1889-1976)
Pemikiran Heidegger dalam priode pertama adalah pembahasan tentang “ada”, dan satu-satunya makhluk yang mempertanyakan tentang “ada” adalah manusia. Manusia mengajukan pertanyaan ontologis tersebut karena ia mempunyai pengertian tentang hakikat ‘ada”.  Haidegger kurang menempatkan manusia sebagai objek pembahasan filosofisnya sehingga dalam karangannya “Being and Time” ia jarang sekali menggunakan ungkapan “manusia”, sehingga ungkapan-ungkapan seperti aku, subjek, pesona, kesadaran yang sering dipakai dalam terminologi filsafat itu pun jarang sekali ditemukan dalam karyanya.
Menurut Heidegger manusia ditunjukan sebagai “dasein”, yaitu istilah yang nampaknya sulit untuk diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Dalam istilah ini terkandung pengertian bahwa manusia pada hakikatnya adalah “ada”(sein) yang berada di sana(da). Manusia tidak ada begitu saja, melainkan senantiasa secara erat berkaitan dengan adanya sendiri, berbeda dengan benda-benda objektif lainnya manusia selalu terlibat aktif dalam “ada-nya”.[5]
            Dasein juga mengandung arti `mengalami waktu`, waktu ketika belum ada, waktu ketika mulai ada, waktu saat terakhir ada dan waktu ketika tidak ada. Dasein memiliki rentang kehadiran, dari lahir hingga mati, atau muncul dan lenyap. Ada faktor sejarah yang dialami being selama rentang waktu kehadirannya dan juga memiliki kemungkinan ada dan tidak ada dan keberadaannya bersifat relatif.[6]
Penutup
Apapun yang dijelaskan dan dipahami oleh para Failasuf Barat Modern tentang manusia, yang penting Ushuluddin.










Sumber Rujukan
Bertrand Russell., “Sejarah Filsafat Barat”,terj, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2002)
DRS. Kaelan, “Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya”, ( Yogyakarta: Paradigma,
1998)
F. Budi Hardiman, ”Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche” (Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 2004)
Kusuma Ari Yuana., “The Greatets Philoshopher”, (Yogyakarta: Andi, 2010)


[1]. Russell. Bertrand, “Sejarah Filsafat Barat”,terj, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2002), h.741.
[2]. Hardiman. F. Budi, ”Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche” (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), h.41.
[3]. Hardiman. F. Budi, ”Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche” (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), h.70.
[4] . Ibid., h.116
[5]. DRS. Kaelan, “Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya”, ( Yogyakarta: Paradigma, 1998), h. 195.
[6]. Yuana. Kusuma Ari, “The Greatets Philoshopher”, (Yogyakarta: Andi, 2010), h.290.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube