BREAKING

Sabtu, 03 November 2012

Anomali Eksistensialisme Soempah Pemoeda


Anomali Eksistensialisme Soempah Pemoeda
Oleh: @Muflih666
Manusia terlahir di dunia ini adalah sebagai keterdamparan dalam jaring-jaring yang sama sekali tidak di luar kemauannya. Sebagian mereka terdampar di sini dan sebagian yang lain terdampar di sana. Namun dalam keterdamparannya yang misterius ini, terjadi sebuah pergolakan di antara mereka, karena setiap mereka sama-sama memiliki kebebasan untuk mewujudkan kemampuan dan menentukan diri. Dalam mewujudkan dan menentukan diri ini terdapat aturan-aturan yang harus dilaluinya dan hubungan-hubungan sebagai bentuk keberadaan.
Manusia Indonesia tidak akan pernah berada di dunia tanpa sebagai manusia Indonesia. Artinya, manusia tersebut tidak akan bisa hadir di dunia tanpa perantara menjadi manusia Indonesia. Manusia tersebut bisa mengetahui keberadaannya dengan menengok sejarah mengenal identitas. Sebelum ia menentukan kebutuhan hidupnya, cita-cita dan orientasi hidupnya, ia harus mengetahui ia sedang berada di mana dengan menengok sejarah nenek moyangnya.
Sejarah manusia Indonesia berangkat dari pertumbuhan kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Sriwijaya, Mataram, Majapahit dan sebagainya yang terberai di Nusantara. Memasuki awal abad ke-20, barulah upaya untuk menyatukan kerajaan-kerajaan tersebut dengan diiringi berkembangnya negara-negara di Eropa. Kerajaan-kerajaan di Nusantara ini juga memiliki wilayah, pemimpin, perundang-undangan dan peradilan sendiri. kerajaan tersebut juga memiliki warga dan lambang-lambang kerajaan seperti bendera, bahasa dan budaya.
Gagasan untuk menyatukan kerajaan-kerajaan tersebut adalah sebagai bentuk perlawanan atas kolonialisme Belanda. Perjuangan yang awalnya bersifat kedaerahan menjadi pergerakan kebangsaan yang terbuka. Mereka merasa satu bangsa, yakni merasa memiliki persamaan perangai yang timbul karena persamaan nasib terjajah (termiskinkan, terbodohkan dan tertinggal). Semangat hidup bersama atas dasar nasib dan perangai itulah yang melahirkan niat, semangat, dan tujuan yang sama.
Perjuangan kebangsaan Indonesia ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo (1908) bagi kaum Jawa dan Madura. Kemudian, berdiri perkumpulan kedaerahan lainnya seperti Ambonsch Studiefonds (1909) bagi anak-anak Maluku, Pagoeyoeban Pasoendan (1914), dan akhirnya pecah menjadi Perhimpunan Tirtayas, Kaoem Banten, Kaoem Betawi. Selanjutnya Perserikatan Minahasa (1927), Sarekat Soematra (1918), Sarekat Madoera (1925), dan demikian seterusnya.
Pembentukan kolektivitas social bidang kepemudaan yang berdasarkan solidaritas kedaerahan mencakup organisasi semacam Tri Kora Bangsa (1915), yang kemudian menjadi Jong Java (1918), Sekar Roekon dan Jasana Obor Pasoendan, Jong sumatrenen Bond (1917), Studeerenden Vereeniging Minahasa (1918), Jong Ambon (1923), Jong Batak’s Bond (1925), Perserikatan Pemoeda Lampoeng (1922), Jong Kalimantan (1929), dan lain sebagainya.
Juga diikuti oleh pembentukan kolektivitas sosial berdasarkan etnis dan keturunan, misalnya Tionghoa Hwee Koan (1900), Chung Hua Hui; Partai Tionghoa Indonesia (1932),  Persatuan Arab-Indonesia (1936), dan Indo-Arabische Beweging (1939).
Dalam perkumpulan yang terbuka  ini, apapun pandangan dan haluan politik masing-masing, sifat keanggotaan melampaui batas-batas kesukuan, kedaerahan, rasial, ataupun keagamaan. Dasar-dasar pengelompokan-pengelompokan ini adalah asas kebangsaan Indonesia. Sebagai puncak untuk menyamakan pandangan kebangsaan di kalangan mereka adalah pemikiran tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang dideklarasi dengan Soempah Pemoeda yang tercetus pada 28 Oktober 1928 di Jakarta.
Kurang lebih seperti itulah pergolakan sejarah manusia Indonesia yang merupakan bentuk keberadaan manusia Indonesia. Soempah Pemoeda merupakan bukti sejarah yang di dengungkan oleh pemuda-pemudi Indonesia atas rasa keberadaan sebagai menusia Indonesia yang bukan ada hanya sebagai wayang-wayang yang digerakan kaum Kolonial. Mereka tampil dengan merebut hak-hak manusia Indonesia yang berbunyi “kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”
Namun pada kenyataannya, kini adakah yang masih tersisa dari tekad Soempah Pemoeda itu ? jika sekumpulan anak muda, nongkrong di kafe starbucks, mengenakan kaos impor, asyik membicarakan mode fesyen dan trend music dunia mutakhir, menyelingi percakapan dengan bahasa asing, berselera makan pizza dan sejenisnya, apa kira-kira persepsi mereka tentang Soempah Pemoeda ? jika seseorang istri pejabat lebih suka belanja di singapura atau para pengusaha merasa lebih nyaman menyimpan uangnya di bank-bank asing, apa kira-kira persepsi mereka tentang Soempah Pemoeda ? sikap mahasiswa yang cenderung gandrung dengan dunia sepak bola asing kebanggaan mereka, menggunakan uang dari orang tua untuk sekedar biaya operasional menjalin cinta naif, menghabiskan waktu mereka tanpa buku, apa kira-kira persepsi mereka tentang Soempah Pemoeda ?  seorang warga pedalaman di kepulauan paling ujung negri hanya mengenal Indonesia dari siaran radio, dan tidak tahu apa itu Soempah Pemoeda ?
Ketidaksadaran mereka tentang kebangsaan Indonesia yang terjuantahkan dalam Soempah Pemoeda merupakan tanda ketidakberadaan mereka, mereka diombang-ambing arus globalisasi yang ditopang oleh teknologi yang merapatkan ruang dan meringkus waktu, merombak pergaulan manusia sejagat menjadi bulatan bumi tanpa tapal batas. Mereka lupa siapa mereka, sedang berada di mana mereka, lebih-lebih apa cita-cita mereka. Keterdamparan mereka di dunia Ini adalah keterdamparan tak berada. Dan inilah yang disebut anomali eksistensialisme Soempah Pemoeda.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube