BREAKING

Sabtu, 27 Juli 2013

Amandemen Sumpah Sang Mahapatih

Amandemen Sumpah Sang Mahapatih

Oleh Lina Sobariyah Arifin


Apa yang sebenarnya manusia cari di alam materi ini? Bergulat dengan ketidakpentingan yang hanya menyibukkan, tanpa ada hal yang benar-benar merubah suatu kebijakan, yang sudah tergembok oleh suatu adat kebiasaan. Sudah mulai skeptisisme mendominasi,mengurungkan niat untuk mencoba menghancurkan gembok berkarat yang terendam oleh lumpur hitam pekat yang mulai tak terindra kini.

        Apa yang sebenarnya kita cari di alam materi ini? Sebuah kesombongan langkahan kaki dan lirikan mata kosong yang berisikan kepongahan-kepongahan. Belum ada sebuah evolusi yang kita rasakan sekarang, baik dalam hal yang terkecil maupun menglobalisasi.

        Bagaimana kita memasukan kunci, jika gembok yang kita pegang sekarang sudah mulai tak kita kenali bentuk wujudnya? Teknologi tercanggih puntak berfungsi untuk merevolusi. Bersikap seperti apapun nanti, kita hanya mempunyai rencana-rencana panjang yang tak mampu menggoyahkan sedikit pun bangunan berpondasi kuat  ini.

        Teringat oleh sumpahnya sang Mahapatih. Yang ingin mempersatukan sebuah daratan, hanya untuk mendapatkan pengakuan kehebatan yangtak tertandingi. Dan akhirnya sumpah pun tersampaikan tanpa ujung yang menyenangkan, hanya karena satu lubang yang berisikan kerikil tajam.

        Dirasa kita mewarisi apapun yang ditinggalkan oleh sang Mahapatih, dan melanjutkan apapun yang tersirat dan tersurat dalam sumpah tersebut. Mempersatukan menjadi satu kesatuan dibawah satu payung keadilan “menurut sang Mahapatih”, yang kemarin sore sudah diblokir oleh sebuah kata “mati”.

        Perlukah kita melanjutkan tanpa mengamandemen sumpah tersebut? Mencari kembali celah dalam gembok yang sudah berkarat tersebut. Sangat perlu, karena untuk melanjutkan tongkat estafet yang diserahkan oleh sang Mahapatih, walaupun secara tidak langsung. Tetapi, perlu juga kita mengamandemen sumpah tersebut. Ya, amandemen sumpah sang Mahapatih. Merubah sedikit tujuan sumpah tersebut dengan ideologi-ideologi yang berbeda juga, bukan untuk menyatukan Nusantara menjadi satu, Majapahit. Tetapi menyatukan Indonesia menjadi satu, HMI.

        Menghijaukan kembali yang sudah kuning kerontang, menghijaukan kembali daratan tandus yang haus kekeringan, menghijaukan dan menginstal ulang hati-hati insan yang kosong akan ideologi, mereboisasi bulatan raksasa yang dihuni oleh manusia-manusia dengan berbagai macam ketangguhannya. Demi tercapainya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, yang diridhoi Allah swt. Amin, Yakin Usaha Sampai, Yang Penting Ushuluddin.

26 Juli 2013
Cilegon, 05 Ramadhan 1434

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2009 Piush
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube